Ulama Perempuan di Medan Perang, Kisah Teungku Fakinah Melawan Penjajah

Aug 10, 2026 01:46 PM - 6 jam yang lalu 5

Kincai Media, Jakarta - Perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda tidak hanya digerakkan oleh kaum laki-laki. Sejumlah ustadz wanita turut terjun langsung ke medan perjuangan, salah satunya Teungku Fakinah, ustadz asal Lam Krak yang tidak hanya memimpin pendidikan Islam, tetapi juga membentuk dan memimpin laskar wanita dalam perang melawan Belanda.

Dikisahkan, ada seorang tokoh wanita sekaligus ustadz wanita yang turut berperanan dalam perang melawan Belanda di Aceh, namanya adalah Teungku Fakinah. Ulama wanita ini dikenal dengan nama Teungku Faki.

Tiga buah tembok baru yang didirikan di Lam Krak atas perintah Teungku Chik Di Tiro, satu diantaranya dikerjakan oleh para wanita di bawah ketua Teungku Fakinah. Benteng tersebut terletak di Kuta Cot Weue, Aceh.

Teungku Fakinah tidak hanya terlibat dalam pembuatan tembok tersebut, tetapi juga turut menjadi panglima dalam mempertahankan tembok itu dari kepungan tentara Belanda. Sedangkan satu tembok lainnya di Kuta Bak Garut, dikepalai oleh adiknya, ialah Teungku Amat yang sering juga disebut dengan julukan Teungku Leupueng.

Dilansir dari kitab Tokoh Agama Dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950 di Aceh karya Rusdi Sufi, Muhammad Nasir, dan Zulfan yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1997, Teungku Fakinah lahir pada tahun 1856 di Mukim Lam Krak, daerah XXII Mukim yang dikepalai oleh Panglima Polem. Ayahnya berjulukan Teungku Asahan (nama aslinya Datu Mahmud), sedangkan ibunya berjulukan Fathimah, yang sering dipanggil dengan julukan Cut Mah, puteri seorang ustadz besar ialah Teungku Muhammad Saad yang lebih dikenal dengan julukan Teungku Chik Lam Pucok.

Sejak kecil Teungku Fakinah belajar pengetahuan pengetahuan agama, terutama tentang tulis baca Alquran dari kedua orang tuanya. Teungku Fakinah belajar memahami beragam kitab di Dayah Lam Krak sampai berumur 20 tahun. Sejak itu dia dianggap sebagai seorang gadis yang alim.

Teungku Fakinah dinikahkan dengan seorang ustadz muda yang berjulukan Teungku Ahmad. Kedua suami isteri ini kemudian memimpin pusat pendidikan Islam Dayah Lam Pucok, yang dibangun oleh orang tua Teungku Fakinah.

Sejak itu Dayah Lam Pucok selain menerima santri pria, juga menerima santri wanita untuk menerima beragam pengetahuan pengetahuan dari Tengku Fakinah, termasuk juga kerajinan tangan.

Ketika Belanda melancarkan agresi militernya yang pertama ke Aceh pada tahun 1873, suami Teungku Fakinah ialah Teungku Ahmad berbareng pemuda lainnya yang sudah terlatih di Dayah Lam Pucok ditugaskan untuk menghadapi tentara Belanda yang mendarat di Pantai Cermin. Pendaratan tentara Belanda itu disambut dengan perlawanan yang seru, sehingga mengakibatkan jatuhnya korban di kedua belah pihak.

Selengkapnya