Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 2): Jauhi Favoritisme

Aug 10, 2026 11:00 AM - 8 jam yang lalu 7

Jauhi favoritisme

Thahir memberikan wasiat,

ولا تمل عن العدل فيما أحببت أو كرهت لقريب من الناس أو بعيد

“Jangan sekali-kali menyimpang dari keadilan dalam perihal yang engkau cintai alias benci, hanya lantaran kedekatanmu dengan sebagian orang.”

Wasiat ini ringkas, di awal paragraf, tetapi mengandung hikmah besar yang sangat relevan dengan kita di hari ini. Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang bertindak berasas favoritisme. Hanya lantaran orang tersebut adalah sosok yang kita sukai, lantas kita mengutamakannya dan memaklumi kesalahannya. Sedangkan orang yang kita benci, kita halangi dia dari haknya dan menyalahkan perbuatannya yang benar.

Hal ini selaras dengan firman Allah ﷻ,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong Anda untuk bertindak tidak adil. Berlaku adillah, lantaran setara itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Wasiat Thahir ini sangat relevan dengan kejadian di masa kini. Favoritisme menjadi rumor besar di model kepemimpinan lintas organisasi. Mulai dari sistem mini seperti di lembaga maupun perkantoran, hingga pada level tertinggi. Relevansi pembahasan Thahir menambah semangat kita untuk mengkajinya sehingga menjadi sangat berfaedah bagi kita pribadi maupun orang-orang unik yang mau kita berikan wejangan terbaik.

Muliakan pengetahuan kepercayaan dan ulama, niscaya Engkau termuliakan

Utamakanlah fikih dan para ahlinya, kepercayaan dan para pembawanya, kitabullah dan orang-orang yang mengamalkannya. Karena sebaik-baik perhiasan seseorang adalah pemahaman terhadap agama-Nya, semangat mencarinya, mendorong manusia kepadanya, dan mengetahui perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.

Sesungguhnya fikih alias pengetahuan kepercayaan adalah penunjuk kepada seluruh kebaikan, pemimpin menuju kebaikan, yang memerintahkan kepadanya dan melarang dari segala maksiat serta dosa-dosa besar. Dengannya pula, berbareng taufik Allah, para hamba semakin mengenal Allah ﷻ, semakin mengagungkan-Nya, dan semakin meraih derajat-derajat tinggi di akhirat.

Tidak hanya itu, kebersamaan pemimpin dengan pengetahuan dan ahlinya bakal menunjukkan kewibawaannya.

مع مافى ظهوره للناس من التوقير لأمرك والهيبة لسلطانك والأنسة بك والثقة بعدلك

Di samping itu, tampaknya pengetahuan di hadapan manusia bakal menambah kewibawaan perintahmu, menghadirkan wibawa bagi kekuasaanmu, membikin manusia merasa dekat dan tenteram denganmu, serta percaya kepada keadilanmu.

Inilah yang selaras dengan kepemimpinan modern yang dikenal dengan kepemimpinan berbasis pengetahuan pengetahuan alias teknokrasi. Lembaga kepemimpinan diisi oleh ahlinya, ialah para teknokrat. Kabinet pemerintahan diisi oleh para master yang disebut sebagai kabinet zaken. Inilah kepemimpinan yang ideal. Kepemimpinan semacam ini bakal menghasilkan kebijakan yang presisi dan kepercayaan masyarakat yang tinggi.

Bersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala hal

Hendaklah engkau bersikap moderat (iqtishad) dalam segala hal. Tak ada apa pun yang lebih jelas manfaatnya, lebih aman, dan lebih komprehensif, daripada sikap moderat.

والقصد داعية إلى الرشد والرشد دليل على التوفيق والتوفيق قائد إلى السعادة

Sikap moderat mengantarkan kepada petunjuk yang benar. Petunjuk yang betul membawa kepada keberhasilan, dan keberhasilan menyebabkan kebahagiaan.

Tentu sikap moderat yang dimaksudkan Thahir adalah sikap moderat dalam naungan hukum Islam, sebagaimana disebutkan. Penegakan kepercayaan dan sunah-sunah Nabi yang memberi petunjuk dicapai melalui sikap moderat. Maka dahulukanlah atas yang lainnya, bersikaplah moderat dalam urusan duniamu semuanya.

Ketahuilah, bersikap moderat dalam urusan bumi dapat mewariskan kemuliaan dan membersihkan dosa. Engkau tak mempunyai apa pun yang lebih utama dari (sikap moderat) yang bakal dapat melindungi dirimu dari orang yang suka mengata-ngatai, dan yang bakal membikin urusanmu menjadi baik. Maka gunakanlah ia, berpandulah dengannya, niscaya urusanmu bakal tuntas, kemampuanmu bakal meningkat, serta masalah pribadi dan publikmu bakal membaik.

Pemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhirat

Janganlah tertinggal dalam mencari akhirat, pahala, kebaikan saleh, sunah yang dikenal baik, dan hidayah petunjuk. Jangan segan untuk memberi pertolongan dan memperbanyak kebaikan serta mengusahakannya, jika dengannya dapat diperoleh wajah Allah dan rida-Nya serta dapat menemani para wali Allah di darul karamah atau negeri kemuliaan, ialah surga.

Husnuzhan dan meminta pertolongan Allah dalam mengurus rakyat

Kunci dari pertalian hubungan pemimpin dan rakyat yang selaras adalah memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ. Thahir mewasiatkan,

وأحسن الظن بالله عز وجل تستقم لك رعيتك والتمس الوسيلة إليه في الأمور كلها تستدم به النعمة عليك

Hendaklah engkau berbaikan sangka kepada Allah ﷻ, niscaya rakyatmu pun bakal istikamah membantumu. Cobalah senantiasa berasosiasi dengan-Nya dalam semua urusan, niscaya nikmat selalu diberikan padamu.

Prinsip berhusnuzhan kepada Allah ﷻ bakal mengantarkan seorang pemimpin untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Sebagaimana dalam sabda qudsi, Nabi ﷺ menyampaikan wahyu Allah ﷻ,

ِأَنَا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ

“Aku sesuai dengan persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah dia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang dia mau.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dinilai sahih)

Orang yang paling memerlukan pertolongan Allah ﷻ adalah para pemimpin yang mengurusi banyak orang. Tiada yang dapat menolongnya dalam kepemimpinan selain Allah ﷻ. Cara terbaik yang Allah ﷻ ajarkan agar seorang pemimpin mendapatkan pertolongan-Nya adalah dengan berhusnuzhan kepada Allah ﷻ sembari mengambil sebab.

Pada bagian ini, wasiat Thahir berkorelasi dengan bagian sebelumnya yang mengingatkan seorang pemimpin untuk memperbanyak istikharah. Karena seorang pemimpin bakal menghadapi masalah yang banget kompleks. Terkadang sampai tak tahu di mana pangkal masalah, apalagi ujung solusinya. Demikian pula mengkondisikan masyarakat agar tetap mendukung niatan baiknya, perihal ini lebih susah lagi. Maka, jika hendak mendapatkan pertolongan dan dukungan, hendaklah sang pemimpin tersebut banyak berprasangka baik dengan Allah ﷻ.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Kincai Media

Selengkapnya