Jejak Sanad Sufisme dan Pemikiran Syekh Nawawi Al-Bantani Kincai Media– Bagi organisasi santri, khususnya di pesantren-pesantren tradisional seperti Pesantren Al-Falah Ploso, sosok Mahaguru Syekh Nawawi al-Bantani bukan sekadar nama besar yang tertulis di sampul kitab-kitab klasik (kutubut turats).
Beliau adalah sosok yang seolah-olah datang secara personal, mendampingi dinamika intelektual dan spiritual seorang santri sejak usia paling awal hingga tahap pendewasaan keilmuan. Perjalanan spiritual seorang santri dalam menyerap keilmuan Islam sangat identik dengan jejak-jejak karya beliau yang terstruktur dengan banget sistematis.
Pada jenjang awal alias Ibtidaiyah, ketika seorang santri baru mulai mengenal fondasi ketauhidan melalui “Matan Aqidatul Awam”, Syekh Nawawi menyambut proses belajar tersebut dengan kitab penjelas (syarah) yang begitu anggun, “Nurud Dhalam”. Begitu pula saat santri mulai melangkah memahami fikih dasar melalui “Safinatun Najah”, beliau datang memandu dengan karya “Kasyifatus Saja”.
Ketika pemikiran santri mulai berkembang, memasuki tahap lanjutan, dan mempelajari “Riyadhul Badi’ah”, Syekh Nawawi telah menyiapkan “Ats-Tsimar al-Yani’ah”, sekaligus mendampingi pemahaman tauhid yang lebih dalam melalui kitab “Tijan ad-Darari” sebagai syarah atas “Jauharah at-Tauhid”.
Memasuki jenjang Tsanawiyah, saat santri mulai menguasai tatabahasa Arab kompleks melalui “Al-Imriti” dan memperdalam tata krama spiritual melalui “Sullamut Taufiq”, Syekh Nawawi kembali datang mempermudah pemahaman tersebut melalui “Mirqat Su’ud at-Tashdiq”.
Bahkan ketika santri melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, membuka kitab “Fathul Qarib”, mendalami tata bahasa tingkat tinggi “Alfiyah Ibnu Malik”, hingga mengkaji pengetahuan logika (mantiq) dan keelokan bahasa (balagah), karya-karya beliau seperti “Tausyih ala Fathil Qarib” dan “Uqudul Lujain” tetap menjadi rujukan utama.
Kehadiran beliau tidak berakhir di ruang kelas madrasah. Dalam tataran yang lebih ahli dan matang, para pengajar dan ustadz tetap mengulang serta menimba kearifan dari karya monumental beliau seperti “Nihayatuz Zain” dan “Marah Labid” (Tafsir al-Munir).
Kehidupan harian pesantren, mulai dari sore hari yang mengkaji “Maraqil Ubudiyah” (syarah atas “Bidayatul Hidayah” karya Imam Al-Ghazali) hingga pembacaan tafsir setelah subuh, membuktikan bahwa napas pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani mengalir dalam tiap urat nadi kehidupan santri.
Transmitter Keilmuan dan Keabsahan Sanad Tradisi
Realitas kehidupan santri yang tak pernah lepas dari karya-karya beliau menguatkan satu tesis penting: Syekh Nawawi al-Bantani adalah seorang transmitter (penyambung utama) mata rantai keilmuan ulama-ulama klasik terdahulu kepada generasi Nusantara modern.
Meskipun beliau menghabiskan sebagian besar usianya di tanah suci Makkah al-Mukarramah sejak usia muda hingga wafat, warna keindonesiaan dan kepekaan sosial unik Nusantara tidak pernah luntur dari langkah pandangnya.
Keterhubungan ini bukan sekadar klaim historis, melainkan terikat dalam mata rantai sanad keilmuan yang sangat jelas (sharih). Syekh Nawawi al-Bantani merupakan pembimbing langsung dari Mahaguru Nahdlatul Ulama, KH. M. Hasyim Asy’ari.
Dari KH. Hasyim Asy’ari inilah yang berbareng para pendiri pesantren-pesantren besar di Jawa, termasuk pendiri Pesantren Ploso (KH. Ahmad Djazuli Usman), menimba ilmu.
Dengan demikian, hubungan jiwa dan keilmuan antara para santri hari ini dengan Syekh Nawawi adalah hubungan biologis-spiritual keilmuan yang sangat dekat, seumpama hubungan cucu nenek siswa dengan gurunya.
Keterikatan sanad ini membawa akibat moral dan tanggung jawab keilmuan. Takzim kepada Syekh Nawawi al-Bantani tidak cukup ditunjukkan dengan mengagumi karya-karyanya, melainkan dengan memanjatkan doa, menjaga tradisi keilmuannya, serta berupaya semaksimal mungkin untuk membumikan gagasan-gagasan beliau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagaimana aliran Rasulullah SAW, seseorang yang tidak bisa membalas kebaikan orang lain secara setimpal, hendaknya dia tiada henti mendoakan orang tersebut.
Membaca Arah Pemikiran Melalui Nasaihul Ibad
Untuk memahami keberpihakan, orientasi pemikiran (mindset), dan paradigma keislaman Syekh Nawawi al-Bantani, seseorang dapat mencermatinya secara intuitif melalui kitab petunjuk etika beliau yang sangat populer, “Nasaihul Ibad”. Ketiga sabda pertama yang diletakkan oleh beliau di awal kitab tersebut menggambarkan secara definitif arah filosofi keagamaan yang beliau usung.
Hadis pertama yang beliau tampilkan adalah sebuah Hadis Qudsi di mana Allah SWT menegaskan pengharaman atas sikap kejam dan penindasan: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kedzaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling mendzalimi…”
Hadis ini bersambung dengan penegasan bahwa seluruh hamba pada hakikatnya berada dalam kondisi tidak mempunyai apa-apa: lapar, telanjang, dan tersesat, selain mereka yang diberi petunjuk, sandang, dan pangan oleh Allah SWT. Struktur penempatan sabda ini mengajarkan kerendahan hati absolut di hadapan Tuhan dan larangan keras melakukan kejahatan kemanusiaan.
Hadis kedua menegaskan tentang pentingnya kasih sayang universal: “Arrahimuna yarhamuhum, irhamu man fil ardhi yarhamkum man fis sama’” (Orang-orang yang penyayang bakal disayang oleh Zat Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa pun yang ada di bumi, niscaya penunggu langit bakal menyayangimu).
Menarik, Syekh Nawawi memberikan penekanan tata bahasa (i’rab) yang sangat substantif pada kata yarhamkum. Beliau membolehkan pembacaan rafa’ (yarhamukumu) agar kalimat tersebut tidak sekadar menjadi kalimat syarat-jawab biasa, melainkan berbobot sebagai kalimat angan (jumlah du’aiyah).
Pilihan ini mencerminkan optimisme beliau bahwa angan Rasulullah SAW untuk melimpahkan kasih sayang kepada orang-orang yang berbelas kasih adalah perihal yang absolut terkabul.
Hadis ketiga memicu pilar utama aliran Islam: “Khaslatani laisa syai-un afdhala minhuma: Al-Imanu billahi wan-naf’u lil muslimin” (Dua perkara yang tidak ada kebaikan lain yang dapat melampaui keutamaannya: Beriman kepada Allah dan memberikan faedah bagi sesama muslim/manusia). Dua perihal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Prinsip At-Ta’dzim Lillah wa Asy-Syafaqah ala Khalqillah
Melalui ketiga dasar tersebut, Syekh Nawawi al-Bantani merumuskan inti dari seluruh aliran hukum Islam (jawami’ awamirillah) ke dalam dua pilar utama: At-Ta’dzim lillah (mengagungkan dan bertauhid kepada Allah) serta Asy-Syafaqah ala khalqillahi (menebarkan kasih sayang, kepedulian, dan kepekaan sosial kepada seluruh makhluk-Nya).
Bagi Syekh Nawawi, kesalehan spiritual yang tinggi tidak bakal sempurna jika berdiri terpisah dari kesalehan sosial. Seseorang tidak dapat mengatasnamakan keagamaan lampau mengabaikan rasa kemanusiaan.
Beliau sering kali menggambarkan keterhubungan ini melalui afinitas ibadah ritual dan sosial, seperti keseimbangan antara perintah mendirikan salat (hubungan vertikal) dan menunaikan amal (hubungan horizontal).
Prinsip ini diterjemahkan pula dalam etika berterima kasih. Syekh Nawawi menegaskan bahwa seseorang tidak dapat menyatakan telah berterima kasih kepada Allah SWT jika dia belum bisa berterima kasih kepada sesama manusia yang menjadi perantara kebaikannya: mulai dari orang tua, keluarga, guru, hingga sahabat. Penghormatan terhadap dimensi sosial ini menunjukkan sungguh dalamnya pemahaman sufisme sosial yang diusung oleh beliau.
Reinterpretasi Jihad dan Keterlibatan dalam Berbangsa
Pemahaman yang mendalam terhadap aliran Syekh Nawawi al-Bantani ini pula yang membimbing langkah pandang para ustadz pesantren dalam merespons dinamika kebangsaan dan politik kekuasaan. Sikap keagamaan yang diteladani dari beliau selalu mengedepankan kemaslahatan publik (dafi’ul madharat) daripada ambisi kekuasaan semata.
Hal ini terlihat nyata ketika para ustadz senior NU mengambil keputusan-keputusan strategis kebangsaan. Sebagai contoh, ketika KH. Ma’ruf Amin, salah satu cicit keilmuan dan nasab dari Syekh Nawawi al-Bantani, mengambil keputusan untuk masuk ke dalam ranah pemerintahan (menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia pada tahun 2019).
Langkah tersebut sering kali dipandang secara dangkal oleh segelintir pihak yang kurang mendalami keilmuan klasik. Padahal, dalam kitab “Fathul Muin” pada bab Jihad dan “Hasyiyah I’anatud Thalibin” karya Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, konsep perjuangan (jihad) dalam konteks negara tenteram tidak lagi diartikan sebagai pengangkatan senjata.
Jihad fardu kifayah bagi seorang intelektual dan santri adalah “Al-Qiamu bi hujjatin bayyinatin wa ulumin syahiyatin”, ialah menegakkan argumentasi ilmiah yang terang, menyebarkan pengetahuan pengetahuan yang mencerahkan, serta menyampaikan dakwah kebiasaan dengan cara-cara yang beradab. Kedudukan norma jihad pada hakikatnya adalah wujubul wasail lil maqasid (kewajiban yang berkarakter perantara, bukan tujuan utama).
Jika tujuan utama meraih hidayah dan kedamaian masyarakat dapat dicapai melalui penegakan dalil, pengetahuan pengetahuan, dan kebijakan publik yang setara (iqamatud dalil), maka langkah ini jauh lebih utama daripada konfrontasi fisik.
Dalam konteks penataan negara, masuknya komponen ustadz ke dalam pemerintahan difokuskan pada misi “Daf’ud dharari anil masumin”, mencegah kemudharatan dan melindungi hak-hak masyarakat. Syekh Nawawi al-Bantani sendiri dalam kitab “Maraqil Ubudiyah” mengutip kisah berhistoris tentang Syekh Abu Yusuf (murid utama Imam Abu Hanifah) yang menjadi pengadil agung (qadhi) di era kekhalifahan.
Ketika Syekh Abu Yusuf wafat, sempat ada keheranan dari sebagian Sufi lantaran beliau masuk ke lingkaran pemerintahan. Namun, melalui penglihatan spiritual (manam) Syekh Ma’ruf al-Karkhi, terungkap bahwa Allah SWT telah mengampuni seluruh dosa Syekh Abu Yusuf. Ampunan tersebut diraih bukan lantaran kemewahan jabatannya, melainkan lantaran niat tulus, nasihat keagamaan, dan perlindungan kebijakan yang beliau berikan demi kemaslahatan para penuntut pengetahuan (para santri) dan masyarakat luas.
Pesan sejarah ini menjadi peringatan sekaligus pedoman bagi para pemangku kebijakan publik dan pejabat pemerintahan: bahwa keselamatan dan keberkahan kepemimpinan mereka sangat tergantung pada sejauh mana mereka mempunyai kepekaan, kepedulian, dan perlindungan terhadap keberlangsungan pendidikan keagamaan serta kesejahteraan rakyatnya.
Karakter Santri: Anti-Radikalisme dan Ketaatan Sosial
Berangkat dari tradisi pengajaran yang diwariskan Syekh Nawawi al-Bantani, dapat dipastikan bahwa seorang santri yang menguasai keilmuan secara matang (ngalim) tidak bakal pernah terjerumus ke dalam mengerti radikalisme, tindakan anarkis, alias aktivitas destruktif yang bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah (menerjang konstitusi).
Pesantren-pesantren muta’abar (teruji dan diakui) dari generasi ke generasi selalu menanamkan pemahaman teologis yang kuat mengenai hubungan rakyat dan pemimpin.
Santri diajarkan sebuah sabda qudsi yang berbunyi: “Akulah Raja dari segala Raja… Hati para raja berada di dalam genggaman tangan-Ku. Jika hamba-hamba-Ku alim kepada-Ku, Aku jadikan hati para pemimpin mereka penuh kasih sayang. Namun, jika hamba-hamba-Ku bermaksiat, Aku jadikan pemimpin mereka sumber ujian.”
Oleh lantaran itu, doktrin dasar santri mengajarkan pesan yang sangat teduh: “Fala tasghalu qulubakum bisabbil muluk, walakin tubu ilayya wa athifhum alaikum” (Janganlah kalian menghabiskan daya dan melumuri hati kalian dengan mencaci maki alias memusuhi para pemimpin. Berbenahlah, bertaubatlah kepada-Ku, niscaya Aku bakal melembutkan hati para pemimpin itu untuk menyayangi kalian).
Prinsip ini bukanlah corak kepasrahan yang buta, melainkan sebuah corak kematangan sosial. Islam datang untuk menghilangkan segala corak gangguan dan ancaman dari kehidupan masyarakat (fainnal Islama ja’a liyurfa’al adza anil khalqi).
Sebagaimana norma kaidah Islam yang fundamental: Al-mulku yabqa ma’al kufri, wa la yabqa ma’adh-dhulmi (Satu pemerintahan alias negara dapat memperkuat meskipun ada kekufuran di dalamnya, namun negara tidak bakal pernah bisa memperkuat di atas kezaliman).
Memelihara Warisan Kebijaksanaan
Syahdan. Menghayati pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani adalah menghayati Islam yang ramah, berilmu, dan penuh kepedulian sosial. Dari kitab-kitab tipis Ibtidaiyah hingga kitab-kitab tebal berilmu tinggi, benang merah aliran beliau tetap konsisten: bahwa puncak keilmuan seseorang kudu bermuara pada pengagungan kepada Sang Pencipta dan penyebaran kasih sayang bagi segenap alam (At-Ta’dzim Lillah wa Asy-Syafaqah ala Khalqillah).
Tradisi pesantren yang terus menghidupkan karya-karya beliau adalah tembok pertahanan moral dan intelektual bangsa. Dengan meneladani objektivitas, kedalaman ilmu, dan kedamaian langkah pandang Syekh Nawawi, generasi santri hari ini tidak hanya menjaga kesucian sanad keilmuan masa lalu, melainkan juga terus menawarkan solusi kearifan bagi tantangan berbangsa dan bernegara di masa depan. Wallahu a’lam bisshawab.
*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·