Merenungi Usia yang Tak Pernah Kembali

Aug 11, 2026 11:00 AM - 4 jam yang lalu 6

Pernahkah Anda berdiri di depan cermin, lampau tertegun sejenak? Sekedar untuk memandangi sosok di hadapan Anda. Adakah yang berbeda?

Lihatlah helai-helai rambut yang dulu hitam pekat, sekarang mulai disusupi uban. Kulit yang dulu kencang mulai mengendur di sana-sini. Tenaga yang dulunya seolah tak pernah habis, sekarang mudah terkuras, dan tubuh lebih sering menuntut untuk istirahat. Jika Anda merasakan perihal itu semua, sesungguhnya cermin itu sedang menyampaikan suatu pesan yang sering terabaikan oleh kita. Bahwa umur kita tidak lagi muda, dan jatah hidup di bumi kian menyusut.

Tentu, kita sering mendengar berita duka. Tetangga, teman, alias kerabat yang seusia—bahkan lebih muda—telah mendahului kita. Kita datang di pemakaman, memanjatkan doa, lampau pulang dan sibuk kembali dengan urusan dunia. Padahal, besok alias lusa, telah menjadi suatu keniscayaan bahwa giliran kita pula lah yang bakal diturunkan ke liang lahat. Kematian adalah kepastian yang paling nyata, namun kita pun sering melalaikannya seakan-akan mustahil kita menghadapi kematian. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, ialah kematian.” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa’i no. 1824, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)

Maka, bagi kita yang rambutnya mulai beruban, yang langkahnya mulai melambat, dan yang napasnya mulai sering tersengal, ini adalah momen paling krusial untuk berakhir sejenak untuk melakukan muhasabah. Melihat diri kemudian bertanya, “Untuk apa sisa usia ini bakal saya habiskan?”

Tidak diciptakan sia-sia

Saudaraku yang dirahmati Allah, pernahkah kita bertanya: Apa sih tujuan kita hidup di dunia? Apakah hanya sekadar untuk lahir, makan, minum, bekerja, menikah, mempunyai anak, menua, lampau meninggal begitu saja? Pasti ada maksud dan tujuan mulia yang lebih besar dari semua ini. Allah Ta’ala tidak mungkin menciptakan manusia dan alam semesta yang begitu megah hanya untuk kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan hantu dan manusia melainkan agar mereka beragama kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)

Ayat ini pendek, tetapi pertanggungjawabannya panjang sekali di alambaka kelak. Kita semua dituntut untuk tunduk pada patokan Sang Pencipta sepanjang hidup kita di dunia. Namun, ada kejadian yang mengherankan di tengah kita. Ada orang yang begitu alim dan loyal pada peraturan pekerjaannya. Ia rela bangun awal hari, menerobos kemacetan, dan takut terlambat hanya lantaran ancaman potongan penghasilan alias surat peringatan dari atasannya. Ia hafal betul SOP pekerjaannya. Tapi, kepada Allah yang menggenggam nyawanya, yang memberinya rezeki dan kesehatan, dia begitu berani menunda-nunda perintah-Nya. Salat diakhirkan. Tobat ditunda. Al-Qur’an dibiarkan berdebu.

Apakah kita mengira bakal dibiarkan begitu saja tanpa dimintai pertanggungjawaban?

Allah Ta’ala berfirman,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira bahwa dia bakal dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah [75]: 36)

Kata “سُدًى” dalam ayat ini berfaedah sia-sia, tanpa perintah, tanpa larangan, tanpa hisab. Sungguh, ini adalah sanggahan yang sangat keras. Manusia yang lalai mungkin merasa hidupnya bebas, tetapi hakikatnya dia sedang melangkah menuju mahkamah pengadilan Allah yang mahaadil. Di hari itu, tidak ada pengacara. Tidak ada suap. Yang ada hanyalah catatan kebaikan yang bakal berbicara. Maka, selagi tetap ada waktu, sebelum kita menjadi penunggu liang lahat, mari tanyakan pada diri sendiri: apakah sisa usia yang Allah berikan ini bakal saya gunakan untuk mengejar bumi yang pasti saya tinggalkan, ataukah untuk mengejar alambaka yang kekal?

Baca juga: Jangan Sampai Susah Payah Beramal, Tetapi Sia-Sia

Maut semakin mendekat

Pernahkah Anda merasakan bahwa hari-hari terasa begitu sigap berlalu? Pagi baru saja berganti siang, tiba-tiba sore sudah menyapa, lampau malam datang, dan tanpa terasa, Subuh kembali berkumandang. Rasanya baru kemarin kita merayakan Ramadan yang lalu, sekarang Ramadan berikutnya sudah di periode pintu. Ini bukan sekadar perasaan. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari hariakhir adalah waktu yang terasa semakin singkat. Beliau bersabda,

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ

“Tidak bakal terjadi hari hariakhir hingga pengetahuan dicabut, banyak terjadi gempa, dan waktu terasa berdekatan (sangat cepat).” (HR. Al-Bukhari no. 1036)

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ

“Waktu bakal terasa saling berdekatan, sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan terasa seperti sepekan, sepekan terasa seperti sehari, dan sehari terasa seperti satu jam.” (HR. Ahmad no. 10943 dan At-Tirmidzi no. 2332, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8093)

Waktu terasa sigap berlalu dan jatah hidup kita juga lebih sigap habis. Maka, semakin kita sibuk dengan urusan dunia, semakin kita tidak terasa bahwa umur terus terpangkas. Oleh karenanya, sadarilah bahwa tidak ada kata “pensiun” dalam ibadah. Kewajiban kita untuk menyembah Allah melekat hingga malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepercayaan (kematian).” (QS. Al-Hijr [15]: 99)

Lalu, setelah mendengar dalil-dalil mulia ini, masihkah ada argumen bagi kita untuk menunda-nunda tobat? Maut tidak menunggu kita siap. Ia datang tiba-tiba. Bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Bisa jadi sujud kita barusan adalah sujud terakhir. Jangan sampai penyesalan datang di waktu yang sudah tidak berguna.

Bekal sebelum datangnya penyesalan

Salah satu tipu daya setan yang paling sering menyantap korban adalah bisikan untuk menunda-nunda amal. “Nanti saja jika sudah tua, baru konsentrasi ibadah. Sekarang mumpung tetap kuat, cari duit dulu, nikmati hidup dulu.”

Bisikan ini begitu halus, tetapi mematikan. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang mendapat agunan bakal mencapai masa tua. Dan seandainya pun kita diizinkan Allah mencapai usia senja, beragama dalam kondisi bentuk yang melemah tentu tidak bakal seoptimal ketika tubuh tetap prima. Salat malam yang dulu sanggup kita lakukan, sekarang mungkin hanya menjadi kenangan lantaran dengkul sudah berderak saat sujud. Puasa sunnah yang dulu ringan, sekarang terasa berat lantaran lambung sudah tak lagi kuat.

Oleh lantaran itulah, Rasulullah ﷺ memberikan wasiat yang sangat agung dan layak kita jadikan sebagai wallpaper hati kita,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dalam Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1077)

Coba kita telaah satu per satu:

1) Masa muda sebelum masa tua. Jika Anda sekarang sudah merasa tidak muda lagi, maka ini semakin mendesak. Sisa kekuatan yang ada, gunakanlah segera. Jangan ditunda.

2) Masa sehat sebelum masa sakit. Syukuri kesehatan hari ini, lantaran besok bisa saja kita terbaring tak berdaya.

3) Masa kaya sebelum masa miskin. Harta kita yang sebenarnya bukanlah saldo rekening yang bakal diwariskan kepada mahir waris. Harta kita yang sejati adalah yang kita infakkan di jalan Allah saat kita tetap hidup.

Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya,

أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟

“Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai kekayaan mahir warisnya daripada hartanya sendiri?”

Para sahabat menjawab, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Setiap kami lebih mencintai hartanya sendiri.”

Beliau pun bersabda,

فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ

“Sesungguhnya hartanya (yang sebenarnya) adalah apa yang dia dahulukan (infakkan), sedangkan kekayaan mahir warisnya adalah apa yang dia tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 6442)

Hadis ini sering kali membikin penulis terdiam lama. Kita bekerja keras siang dan malam, tapi yang kita kumpulkan justru menjadi milik orang lain. Lalu, berapa banyak yang sudah kita kirimkan lebih dulu ke akhirat?

Menjadi orang asing di dunia

Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Sayangnya, banyak dari kita yang terbalik dalam menyikapinya. Lihatlah, kita membangun istana di bumi yang bakal kita tinggalkan, tetapi lupa membangun rumah di surga yang abadi. Kita mati-matian mencicil KPR rumah di perumahan elit, tetapi lupa mencicil kebaikan untuk istana di surga. Rasulullah ﷺ pernah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, lampau memberikan nasihat yang demikian membekas,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di bumi ini seakan-akan sebagai orang asing, alias apalagi seorang pengembara (yang sekadar lewat).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

Seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh tidak bakal pernah berpikir untuk membangun rumah permanen di rest area jalan tol. Fokusnya hanya satu, ialah mengumpulkan perbekalan yang cukup agar selamat sampai ke kampung halaman. Dan kampung laman kita yang sesungguhnya adalah surga—tempat asal ayah kita, Adam alaihissalam, dulu tinggal sebelum diturunkan ke bumi.

Subhanallah. Petuah ini mengajarkan kita untuk hidup dalam mode urgency—rasa mendesak. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai dalam kelalaian. Setiap hembusan napas kudu dimaknai sebagai langkah menuju akhirat, bukan sekadar rutinitas yang sunyi makna.

Nikmat yang sering membunuh sisa usia

Di sisa usia kita, ada dua nikmat besar yang sering kali menjadi jebakan, ialah kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat ini adalah anugerah, tetapi bagi orang yang lalai, keduanya justru menjadi pintu kerugian. Rasulullah ﷺ mengingatkan,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan yang banyak manusia merugi di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)

Betapa banyak kita saksikan di sekitar kita, anak-anak muda alias orang-orang yang sudah lanjut usia, justru menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Dari pagi hingga sore, waktunya lenyap untuk kegemaran yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, seperti memancing yang melalaikan salat, touring yang tidak membawa perubahan iman, alias sekadar nongkrong dan bergosip ria. Mereka seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Mereka lupa bahwa malaikat maut tidak pernah pensiun. Ia bekerja 24 jam, tanpa henti, tanpa libur, siap menjemput kapan saja dan di mana saja.

Secara khusus, Allah memberikan teguran yang sangat lembut dan mendalam bagi mereka yang usianya telah menginjak 40 tahun. Usia ini adalah masa puncak kedewasaan; masa di mana seseorang semestinya sudah tidak lagi main-main dengan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“… Sehingga andaikan dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah saya petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar saya dapat beramal saleh yang Engkau ridai. Dan berilah saya kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya saya bertobat kepada-Mu, dan sungguh saya termasuk orang-orang yang bertawakal diri.'” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).

Para ustadz tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ayat ini adalah pengarahan ilahi bagi mereka yang mencapai usia 40 tahun untuk memperbarui tobatnya, memantapkan inabah (kembali kepada Allah), dan memfokuskan diri pada tiga hal, yaitu: syukur, kebaikan saleh, dan mendidik keturunan. Tidak layak lagi bagi orang yang sudah berumur 40 tahun ke atas untuk sibuk berkeluh kesah tentang rezeki yang kurang, alias menghabiskan waktu di majelis yang tidak bermanfaat. Ini adalah waktu yang kritis. Sisa umur yang ada kudu diisi dengan memperbanyak syukur, memaksimalkan amal, dan meninggalkan warisan ketaatan kepada anak cucu.

Sebelum nafas sampai di tenggorokan

Saudaraku yang dimuliakan Allah, umur adalah modal utama kita dalam berbisnis dengan-Nya. Setiap tarikan napas yang tetap kita rasakan hingga detik ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak bakal datang lagi besok hari. Barangsiapa yang menghabiskan sisa umurnya dalam ketaatan, niscaya Allah bakal mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun sebaliknya, barangsiapa yang di sisa umurnya tetap terus bergelimang dalam kemaksiatan dan kesia-siaan, maka dia bakal dimintai pertanggungjawaban atas seluruh usianya: yang telah berlalu dan yang tersisa.

Mari kita tata kembali niat dan langkah kaki kita. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa arti. Matikan layar ponsel sejenak. Ambil mushaf yang mungkin sudah lama tidak disentuh. Sujudlah lebih lama pada malam ini. Karena bisa jadi, ini adalah malam terakhir kita bersimpuh di hadapan-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Baca juga: Merenungi Sisa-Sisa Umur Kita

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Kincai Media

Selengkapnya