Apa Bunda saat ini statis tinggal di rumah mertua? Mari pahami aturan pasangan sudah menikah namun statis ikut dan tinggal dengan orang tua.
Setelah menikah, pasangan suami istri perlu membangun hayat rumah tangga yang mandiri, termasuk dalam mengatur kebutuhan sehari-hari hingga memungut keputusan bersama. Namun pada kenyataannya, tidak semua pasangan langsung memiliki rumah sendiri.
Ada yang statis tinggal berbareng orang tua maupun mertua karena sebab ekonomi, sebagian memilih menetap berbareng famili untuk membantu merawat orang tua. Bagaimana aturan pasangan yang sudah menikah namun statis tinggal berbareng orang tua menurut pandangan Islam? Apakah menerima pertolongan finansial dari orang tua setelah menikah diperbolehkan?
Hukum pasangan sudah menikah statis ikut dan tinggal dengan orang tua
Dalam program Islam Itu Indah di TRANSTV, sejumlah pendakwah, seperti Ustaz Syamsuddin Nur Makka, Ustaz Ahmad Khan, dan Ustaz Muhammad Nur Maulana, pernah menyampaikan pandangan mengenai permasalahan tersebut. Mari ulas di sini, Bunda.
1. Boleh saja namun statis tidak menjadi malas
Ustaz Syamsuddin Nur Makka menerangkan bahwa tinggal di rumah orang tua setelah menikah boleh saja tapi tidak menjadi pemalas. Kalau orang tua mau membantu dan memberi pemberian boleh namun jangan sampai anak yang sudah menikah malah terus meminta.
Sebenarnya saling memberikan pemberian merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam. Pemberian tersebut dapat menjadi salah satu metode untuk mempererat hubungan dan menumbuhkan rasa kasih sayang di antara sesama personel keluarga.
"Kadang ada juga yang enggak punya harga diri, tidak punya malu, akhirnya dia betah di perumahan mertua indah. Orang tua, mertua malas juga melihat menantu yang tinggal di rumah (hanya) tidur," papar Ustaz Syam.
2. Tidak dilarang tapi sebaiknya cerai rumah
Ustaz Muhammad Nur Maulana menyarankan untuk cerai rumah dengan orang tua setelah menikah. Ustaz Maulana menyoroti kebutuhan istri untuk memiliki ruang pribadi setelah menikah.
Seorang istri mungkin mau mengatur perabotan, menata ruangan, maupun menjalankan rutinitas rumah tangga sesuai kesepakatan berbareng suami. Keinginan tersebut bisa lebih sulit diwujudkan ketika pasangan tinggal di rumah orang tua maupun mertua.
Ia menekankan pentingnya suami mengupayakan hunian yang layak bagi istrinya. Rumah bukan sekadar tempat untuk beristirahat, melainkan juga ruang bagi pasangan untuk membangun kebiasaan, memungut keputusan bersama, dan menjalani hayat rumah tangga dengan nyaman.
Kebutuhan tempat tinggal tersebut tentu perlu disesuaikan dengan kapasitas finansial keluarga. Pasangan tidak mesti memaksakan diri membeli rumah jika belum mampu. Mengontrak rumah maupun tinggal di tempat terpisah yang sesuai dengan kondisi ekonomi dapat menjadi alternatif, selama kebutuhan alas dan keamanan famili statis terpenuhi.
"Salah satu tanggung jawab suami adalah siapkan hunian yang layak buat istri. Rumah itu mesti atas nama istri. Jadi meminta maaf, perempuan butuh rumah sendiri, privacy, dia butuh mengatur. Dan ingat, ada yang tidak teringat, perempuan mungkin mau pakai daster di rumah, mau berleha-leha maupun bersantai-santai. Mungkin jam 10 baru masak. Mungkin jam 12 baru menyapu. Tapi jika di rumah mertua, enggak enak. Dikiranya malas. Jadi meminta ampun tidak boleh ada '2 dapur' dalam satu rumah. Lebih baik tinggal kontrak," saran Ustaz Maulana.
3. Berpotensi memicu gabung tangan dalam rumah tangga
Ustaz Muhammad Nur Maulana menyarankan pasangan suami istri untuk tinggal terpisah dari orang tua jika kondisi mereka memungkinkan. Menurutnya, hayat rumah tangga dapat menghadapi beragam permasalahan ketika orang tua maupun mertua terlalu jauh terlibat dalam urusan pribadi anak yang sudah menikah.
Tinggal dalam satu rumah membikin batas antara hayat famili besar dan hayat pasangan menjadi lebih sulit dijaga. Perbedaan gagasan mengenai kebiasaan sehari-hari, pengasuhan anak, hingga pengaturan rumah dapat memicu ketegangan jika setiap pihak tidak memahami batas perannya.
"Dari sekian banyak huru hara rumah tangga karena orang tua mertua ikut gabung dalam rumah tangga anaknya. Ini tak bisa dipungkiri jika Anda satu atap. Ini susah, jika mau orang tua tidak terlibat, sebaiknya tidak tinggal di situ," ujarnya.
Meski demikian, bukan berarti semua pasangan yang tinggal berbareng orang tua pasti mengalami konflik. Hubungan statis bisa berjalan harmonis jika seluruh personel famili saling menghormati, berkomunikasi dengan baik, dan tidak memaksakan kehendak.
Hanya saja, memiliki tempat tinggal terpisah dapat menjadi pilihan untuk menjaga privasi serta mengurangi potensi perselisihan.
4. Anak yang sudah menikah statis perlu berupaya mandiri
Ustaz Ahmad Khan menambahkan, kasih sayang orang tua dapat diwujudkan melalui pertolongan kepada anak yang telah berkeluarga. Selama pemberian tersebut tidak memberatkan pihak yang membantu, menerima pertolongan bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Akan tetapi, keadaan menjadi berbeda ketika seseorang terus-menerus bersandar kepada orang tua tanpa berupaya memperbaiki kondisi ekonominya.
Ia mengingatkan bahwa anak yang sudah menikah sebaiknya tidak menjadikan pertolongan famili sebagai karena untuk bermalas-malasan. Ketergantungan yang terjadi terus-menerus, terlebih jika disertai kebiasaan meminta tanpa berusaha, dapat merugikan diri sendiri dan membebani orang yang selama ini membantu.
"Kalau anak jadi pemalas, akhirnya menghinakan diri untuk terus-terus meminta, kata Rasulullah "Allah melaknat siapa pun orang yang membuka satu pintu mengeluh terus kepada orang lain maka niscaya Allah bukakan baginya 70 pintu kemiskinan"," kata Ustaz Khan.
Untuk itu, pasangan suami istri perlu menumbuhkan etos kerja, berupaya menaikkan kapasitas ekonomi, dan statis bersyukur atas pertolongan yang diterima. Bantuan orang tua dapat menjadi penopang ketika diperlukan, namun bukan alternatif ikhtiar untuk membangun hayat yang lebih mandiri.
Jadi, tinggal berbareng orang tua setelah menikah tidak otomatis menjadi sesuatu yang dilarang dalam Islam. Keadaan dan karena pasangan perlu diperhatikan, termasuk kapasitas ekonomi serta kebutuhan keluarga.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)