Kualitas udara buruk akibat kabut asap? Ini 5 metode melindungi anak dan famili dari polusi, memilih masker, menjaga udara di rumah, dan mengenali tanda bahaya.
Kualitas udara yang memburuk bukan sekadar bikin langit kelihatan berkabut maupun udara terasa pengap. Ada elemen kecil polusi yang bisa masuk ke saluran pernapasan dan berakibat pada kesehatan, terutama anak-anak, lansia, serta personel famili yang punya pandemi pernapasan maupun jantung.
Di tengah kondisi seperti ini, wajar jika Mommies dan Daddies mulai khawatir. Apalagi, kita statis mesti beraktivitas, mengantar anak ke sekolah, bekerja, dan mengurus kebutuhan keluarga.
Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi konsekuensi paparan polusi udara? Kapan sebaiknya kita mulai membatasi aktivitas di luar rumah dan kapan personel famili perlu dibawa ke rumah sakit?
BACA JUGA: Infografik: Pertolongan Pertama pada Anak, Demam, Batuk dan Pilek
Kota Mana Saja di Indonesia yang Kualitas Udaranya Buruk?

Foto: BMKG
Per 15 Oktober 2026, sejumlah daerah di Indonesia menghadapi penurunan kualitas udara. Berdasarkan pemantauan fokus PM2.5 BMKG, daerah yang perlu mendapat perhatian antara lain Palembang, Palangka Raya, Pangkalan Bun, Jambi, Pekanbaru, dan sejumlah daerah di Kalimantan serta Sumatera. Kondisi ini perlu dipantau secara berkala, termasuk untuk mengetahui apakah penurunan kualitas udara berhubungan dengan kebakaran hutan dan tanah (karhutla).
Kondisi kualitas udara dapat berubah dalam hitungan jam, tergantung pada sumber polusi, cuaca, dan arah angin. Karena itu, daftar kota dengan polusi tertinggi tidak selalu sama setiap hari.
Sebelum beraktivitas, Mommies dan Daddies bisa memantau keterangan kualitas udara melalui BMKG maupun IQAir Indonesia.
Perhatikan juga kategori kualitas udara dan fokus PM2.5, yaitu elemen kecil berukuran sangat kecil yang bisa masuk jauh ke dalam paru-paru. Jangan cuma mengandalkan langit yang kelihatan terang karena polusi tidak selalu tampak oleh mata.
5 Hal yang Bisa Dilakukan untuk Melindungi Keluarga dari Polusi Udara

Foto: Vladyslav Dukhin/Pexels
1. Kurangi dan Hindari Aktivitas di Luar Ruangan
Saat kualitas udara masuk kategori tidak sehat, sebaiknya kurangi aktivitas jasmani di luar ruangan, terutama untuk anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan pandemi kronis.
Kalau memungkinkan, tunda dahulu olahraga di luar, aktivitas bermain di taman, maupun aktivitas yang membikin anak berlari dan bernapas lebih cepat. Jika kualitas udara sudah sangat buruk maupun berbahaya, prioritaskan eksis di dalam ruangan dan ikuti anjuran otoritas setempat.
2. Gunakan Masker yang Sesuai
Jika mesti keluar rumah di tengah polusi elemen kecil maupun kabut asap, masker respirator seperti N95 maupun KN95 yang pas di wajah dapat membantu mengurangi paparan elemen kecil halus.
Masker mesti menutup hidung dan mulut dengan rapat. Masker kain maupun masker operasi tidak memberikan perlindungan yang sederajat terhadap elemen kecil halus.
Perlu diingat, masker respirator tidak cocok untuk semua anak, terutama anak yang statis terlalu kecil untuk menggunakannya dengan aman. Jangan memaksakan masker pada bayi maupun anak yang tidak bisa melepasnya sendiri. Untuk mereka, mengurangi paparan adalah cara utama.
BACA JUGA: 10 Rekomendasi Air Purifier Terbaik, Rumah Bebas Alergi dan Polusi
3. Jaga Udara di Dalam Rumah
Menutup jendela dan pintu saat udara luar sedang tercemar dapat membantu mengurangi masuknya polusi. Jika tersedia, gunakan air purifier dengan filter HEPA sesuai luas ruangan.
Hindari menambah polusi di dalam rumah, misalnya dengan merokok, membakar sampah, menyalakan lilin maupun dupa, maupun memasak tanpa ventilasi yang memadai.
Kalau menggunakan AC, pilih pengaturan sirkulasi udara dalam ruangan jika tersedia. Tetap pastikan rumah tidak terlalu panas dan sirkulasi udara terlindungi bagi seluruh personel keluarga.
4. Beri Perhatian Ekstra pada Anak dan Lansia
Anak-anak statis dalam tahap evolusi paru-paru dan cenderung lebih rapuh terhadap polusi. Sementara itu, lansia, terutama yang memiliki asma, PPOK, pandemi jantung, maupun diabetes, bisa mengalami perburukan kondisi akibat paparan polusi.
Pastikan obat rutin statis tersedia dan digunakan sesuai anjuran dokter. Jika ada personel famili yang memiliki hajat penanganan asma maupun pandemi pernapasan, ikuti instruksi tersebut.
Jangan lupa, Mommies dan Daddies juga perlu menjaga diri. Orang tua yang statis terpapar asap sepanjang hari tentu akan lebih sulit menjaga famili jika ikut jatuh sakit.
5. Kenali Gejala dan Jangan Menyepelekan Keluhan
Paparan asap dan polusi dapat menimbulkan mata perih, tenggorokan terasa gatal, batuk, sesak, maupun napas berbunyi. Sebagian orang mungkin cuma mengalami iritasi ringan, tetapi gejala juga bisa menjadi tanda pandemi yang lebih serius.
Jika anak maupun lansia mulai batuk terus-menerus, napas terasa lebih berat, maupun keluhan pandemi kronis memburuk, kurangi paparan dan konsultasikan kondisinya kepada tenaga kesehatan.

Foto: Evella FM. Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah
Kapan Harus Membawa Anggota Keluarga ke Rumah Sakit?
Mommies dan Daddies, jangan menunggu sampai gejala kelihatan parah untuk mencari pertolongan.
Segera cari pertolongan medis darurat jika ada personel famili yang mengalami:
- Sesak napas bermutu maupun kesulitan bernapas.
- Bibir maupun wajah tampak kebiruan maupun keabu-abuan.
- Nyeri maupun tekanan di dada.
- Kebingungan, penurunan kesadaran, maupun sulit dibangunkan.
- Pada anak, tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas, napas sangat cepat maupun sulit, maupun tidak bisa minum karena sesak.
Jika anak mengalami mengi maupun serangan asma, gunakan obat pelega sesuai hajat dokter. Apabila gejalanya tidak membaik sesuai petunjuk, segera cari pertolongan medis.
Pada bayi, lansia, dan orang dengan pandemi jantung maupun paru, sebaiknya lebih cepat berkonsultasi ketika muncul keluhan baru maupun kondisi memburuk. Jangan menunggu gejala menjadi berat.
BACA JUGA: 9 Gejala Batuk Berbahaya pada Bayi, serta Cara Mengatasinya
Tetap Tenang, tetapi Jangan Abai
Kita memang tidak bisa mengendalikan kualitas udara buruk di luar rumah seorang diri. Namun, kita bisa memungut cara sederhana untuk mengurangi paparan dan mengenali tanda ancaman lebih awal.
Pantau keterangan kualitas udara, sesuaikan aktivitas keluarga, jaga udara dalam rumah, dan jangan ragu mencari pertolongan medis ketika diperlukan.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan famili bukan berarti mesti histeris setiap kali kualitas udara memburuk. Yang penting, Mommies dan Daddies punya keterangan yang tepat dan tahu apa yang mesti dilakukan.