Ibnu Athaillah: Syukur Mengikat Nikmat, Ingkar Mengusir Nikmat

Intisari Islam oleh Waktu baca 2 menit 18x dilihat
Ibnu Athaillah: Syukur Mengikat Nikmat, Ingkar Mengusir Nikmat

Bagikan Postingan

Kincai Media,JAKARTA -- Setiap nikmat yang diberikan Allah SWT perlu disyukuri agar statis terjaga. Sebaliknya, mengingkari nikmat berarti membuka jalan bagi hilangnya nikmat tersebut. Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam menggambarkan syukur sebagai metode seorang hamba mengikat nikmat Allah SWT dengan erat.

"Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat maka ia telah menyerahkan diri untuk kehilangan nikmat itu. Barang siapa yang mensyukurinya maka ia telah mengikat nikmat itu dengan erat." (Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam buku Al-Hikam)

Jika Anda tidak mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, berupa nikmat harta, kesehatan, anak-anak, dan lain sebagainya. Maka sebenarnya Anda sedang mempersiapkan diri untuk kehilangan nikmat tersebut.

Jangan Anda membalas kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT dengan perbuatan maksiat yang Anda lakukan.

Syukurilah semua nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada kamu. Selain mendapatkan tambahan nikmat, Anda juga akan mendapatkan pahala dan kenikmatan ruhiyah yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun di bumi ini.

Jika Anda bersyukur maka sebenarnya Anda sedang mengikat dengan kuat nikmat-Nya yang diberikan kepada kamu. Semakin Anda bersyukur, semakin banyak nikmat­-Nya yang akan diberikan kepada kamu.

Syukur akan berbuah nikmat, sedangkan ingkar akan berbuah sengsara. Hal ini dijelaskan Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam buku Al-Hikam dengan klarifikasi tambahan oleh Penyusun dan Penerjemah Al-Hikam, D A Pakih Sati Lc.

Terjemah buku Al-Hikam oleh Ustaz Bahreisy menambah klarifikasi perkataan Syekh Athaillah. Ia mengutip hadist Nabi Muhammad SAW.

An-Nu'man bin Basyir mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Siapa yang tidak dapat mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan bisa mensyukuri nikmat yang banyak. Siapa yang tidak berterimakasih kepada sesama manusia, tetapi tidak bersyukur kepada Allah SWT."

Syukur itu merasa dalam hati, mengatakan dengan lidah dan mengerjakan dengan personel badan.

Artikel Lainnya Intisari Islam
↑
Close Right Ads
Close Left Ads