Allah Ta’ala menamai Diri-Nya dengan Al-Haqq di dalam Al-Qur’an sebanyak sepuluh kali. Nama ini bukan sekadar gelar, melainkan penegasan bahwa Dzat-Nya, sifat-Nya, firman-Nya, janji-Nya, syariat-Nya, dan seluruh berita yang Dia sampaikan adalah fakta yang tidak bercampur dengan kebatilan sedikit pun. Lawan dari Al-Haqq adalah al-baathil, dan Allah sendiri yang menegaskan pemisahan itu dalam firman-Nya (yang artinya), “Dialah Yang Maha Benar, dan apa saja yang mereka seru selain-Nya itulah yang batil” (QS. Al-Hajj: 62). Memahami nama ini akan menguatkan kepercayaan seorang hamba terhadap agamanya dan menjaganya dari keraguan yang sering dihembuskan oleh para penyeru kebatilan.
Dalil nama Allah “Al-Haqq”
Nama Al-Haqq disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak sepuluh kali, baik berdiri sendiri maupun digandengkan dengan nama-Nya yang lain. Di antaranya pada firman Allah Ta’ala,
فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
“Maka demikianlah Allah, Rabb kalian yang sebenarnya (Al-Haqq). Maka tidak ada sesudah fakta itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kalian dipalingkan?” (QS. Yunus: 32)
Ayat ini sangat tegas dan tidak menyisakan ruang kompromi. Setelah Allah mengutarakan bukti-bukti keesaan-Nya dalam pembuatan dan pengaturan lingkungan semesta, Dia menutup dengan pernyataan bahwa Dialah Rabb yang haqq. Konsekuensinya jelas: sesudah fakta cuma ada kesesatan. Tidak ada jalan tengah, tidak ada area abu-abu.
Allah Ta’ala juga berfirman,
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Benar, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru kecuali Allah itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Hajj: 62) [1]
Dalam ayat ini Allah mempertentangkan secara langsung antara Al-Haqq dan al-baathil. Ibadah kepada Allah adalah haqq, amalan kepada selain-Nya adalah baathil. Pemisahan ini tegas dan mutlak.
Dan firman-Nya tatkala mensucikan Diri-Nya dari segala kekurangan,
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya (Al-Haqq); tidak ada sesembahan yang berkuasa disembah kecuali Dia, Rabb Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mu’minun: 116) [2]
Serta firman-Nya mengenai hari kembalinya seluruh makhluk kepada-Nya,
ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ أَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ
“Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya (Al-Haqq). Ketahuilah bahwa segala aturan pada hari itu cuma kepunyaan-Nya, dan Dialah Pembuat Perhitungan yang paling cepat.” (QS. Al-An’am: 62) [3]
Adapun di dalam As-Sunnah, nama Al-Haqq termaktub dalam doa yang sangat agung yang senantiasa dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangun untuk salat tahajud. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun dari malam untuk bertahajud, beliau berdoa: Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkaulah Yang Mengurus langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, milik-Mu kerajaan langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Cahaya langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Raja langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Al-Haqq, janji-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, firman-Mu benar, surga benar, neraka benar, para nabi benar, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar, dan hari hariakhir benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dengan-Mu aku membantah lawan-lawan-Mu, dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosaku yang telah kemudian dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku nyatakan. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan. Tidak ada sesembahan yang berkuasa disembah kecuali Engkau.” (HR. Bukhari no. 1069 dan Muslim no. 769) [4]
Perhatikanlah doa ini dengan saksama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali rangkaian pengakuan fakta dengan menetapkan bahwa Allah adalah Al-Haqq. Setelah itu, seluruh fakta yang lain, mulai dari janji, pertemuan, firman, surga, neraka, para Nabi, hingga hari kiamat, semuanya bermuara dan berasal dari ke-haqq-an Dzat-Nya. Ini memberitahu bahwa fakta seluruh perkara tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan cabang dan akibat dari fakta Allah Ta’ala yang mutlak.
Kandungan arti nama Allah “Al-Haqq”
Untuk menyerap kedalaman arti yang terkandung di balik nama yang agung ini, kita perlu meninjau akar bahasanya terlebih dahulu, kemudian menyelami klarifikasi para ulama salaf ketika merumuskan arti Al-Haqq yang layak bagi keagungan Allah Ta’ala.
Makna bahasa dari “Al-Haqq”
Nama Al-Haqq berakar dari abjad haa’ dan qaf yang memberitahu arti ketetapan, kepastian, dan kesesuaian dengan realitas. Al-Jauhari memaparkan arti asal kata ini,
الحق: خلاف الباطل، والحق: واحد الحقوق
“Al-Haqq adalah lawan dari al-baathil (kebatilan). Dan al-haqq juga berarti satu dari beberapa hak (kewajiban).” [5]
Ibnu Faaris memberikan kaidah bahasa yang lebih mendalam,
الحاء والقاف أصل واحد، وهو يدل على إحكام الشيء وصحته، فالحق نقيض الباطل، ثم يرجع كل فرع إليه بجودة الاستخراج وحسن التلفيق، ويقال حق الشيء: وجب
“Huruf haa’ dan qaf adalah satu pokok arti yang memberitahu arti pengukuhan sesuatu dan kebenarannya. Maka al-haqq adalah lawan dari al-baathil. Kemudian setiap cabang arti balik kepadanya melalui ketepatan penggalian dan kebaikan penyusunan. Dikatakan: haqqa asy-sya’yu, artinya sesuatu itu telah menjadi wajib (tetap).” [6]
Dari tinjauan kebahasaan tersebut, jelaslah bahwa al-haqq mencakup arti ketetapan yang tidak bisa digoyahkan, kepastian yang tidak hamil keraguan, dan kesesuaian sempurna dengan kenyataan yang sejati. Lawan katanya adalah al-baathil, yaitu sesuatu yang rapuh, fana, dan tidak memiliki injakan dalam realitas.
Makna “Al-Haqq” dalam konteks sifat Allah
Ketika nama Al-Haqq disandarkan kepada Allah Ta’ala, maknanya melingkupi seluruh dimensi fakta secara absolut dan menyeluruh. Tidak seperti fakta pada makhluk yang berkarakter parsial, relatif, dan bisa berubah, fakta Allah adalah fakta yang azali, abadi, dan mencakup Dzat, sifat, perbuatan, firman, janji, syariat, serta seluruh berita yang Dia sampaikan.
Imam Abu Ja’far Ibn Jarir ath-Thabari menafsirkan firman Allah “wa rudduu ilallahi mawlaahumul haqq” dalam surah Yunus ayat 30,
ورجع هؤلاء المشركون يومئذ إلى الله الذي هو ربهم ومالكهم الحق لا شك فيه، دون ما كانوا يزعمون أنهم لهم أرباب من الآلهة والأنداد
“Maka orang-orang musyrik itu pada hari itu dikembalikan kepada Allah yang Dia adalah Rabb dan Pemilik mereka yang sebenarnya, tidak ada keraguan tentang-Nya, bukan kepada apa yang mereka sangka sebagai tuhan-tuhan dan tandingan-tandingan bagi mereka.” [7]
Imam Abu Ishaq az-Zajjaji merumuskan arti nama ini dari dua sisi yang saling melengkapi,
فالله الحق، أي: هو الحق، وما عبد من دونه باطل، والله الحق، أي: ذو الحق في أمره ونهيه، ووعده ووعيده، وجميع ما أنزله على لسان رسله وأنبيائه
“Maka Allah adalah Al-Haqq, artinya: Dialah Yang Maha Benar, dan segala yang disembah selain-Nya adalah batil. Dan Allah adalah Al-Haqq, artinya: Dzat yang memiliki fakta dalam perintah dan larangan-Nya, dalam ikrar dan ancaman-Nya, serta dalam seluruh apa yang Dia turunkan melalui lisan para Rasul dan Nabi-Nya.” [8]
Imam Abu Muzhaffar as-Sam’ani menegaskan bahwa di antara arti Al-Haqq adalah keadilan yang sempurna,
الحق هو العادل سبحانه
“Al-Haqq adalah Dzat Yang Maha Adil Subhanahu wa Ta’ala.” [9]
Makna ini harmonis dengan penggunaan kata al-haqq dalam bahasa Arab yang sering kali berarti keadilan dan ketetapan aturan yang benar, sebagaimana firman Allah “wa ya’lamuuna annallaha huwal haqqul mubiin” (QS. An-Nur: 25).
Imam Ibnu Katsir tatkala menafsirkan firman Allah “fa ta’aalallahu al-malikul haqq” dalam surat Al-Mu’minun ayat 116 menjelaskan,
أي: تنزه وتقدس الملك الحق الذي هو حق ووعده حق، ووعيده حق ورسله حق، والجنة حق والنار حق، وكل شيء منه حق
“Yaitu: Maha Suci dan Maha Quddus Raja Yang Maha Benar, yang Dia sendiri adalah benar, janji-Nya benar, ancaman-Nya benar, para Rasul-Nya benar, surga benar, neraka benar, dan segala sesuatu yang datang dari-Nya adalah benar.” [10]
Syekh Abdurrahman as-Sa’di memberikan jabaran yang sangat bening dan komprehensif mengenai nama Al-Haqq,
الحق في ذاته وصفاته فهو واجب الوجود، كامل الصفات والنعوت، وجوده من لوازم ذاته، ولا وجود لشيء من الأشياء إلا به، فهو الذي لم يزل ولا يزال بالجلال والجمال والكمال موصوفًا، ولم يزل ولا يزال بالإحسان معروفًا، فقوله حق، وفعله حق، ولقاؤه حق، ورسله حق، وكتبه حق، ودينه هو الحق، وعبادته وحده لا شريك له هي الحق، وكل شيء ينسب إليه فهو حق
“Al-Haqq dalam Dzat dan sifat-Nya, maka Dia adalah Dzat yang wajib wujud-Nya, Maha Sempurna sifat-sifat dan gambaran-Nya, keberadaan-Nya adalah akibat dari Dzat-Nya sendiri, dan tidak ada keberadaan sesuatu apa pun kecuali karena-Nya. Dialah Dzat yang senantiasa dan akan terus disifati dengan keagungan, keindahan, dan kesempurnaan, serta senantiasa dan akan terus dikenal dengan kebaikan-Nya. Maka firman-Nya benar, perbuatan-Nya benar, pertemuan dengan-Nya benar, para Rasul-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nya adalah benar, dan peribadahan cuma kepada-Nya tanpa sekutu adalah benar. Setiap sesuatu yang dinisbatkan kepada-Nya maka ia adalah benar.” [11]
Imam Ibnul Qayyim memperdalam bahasan ini dengan menerangkan bahwa ke-haqq-an Allah Ta’ala berkarakter absolut dari segala sisi dan meniscayakan fakta seluruh konsekuensinya,
فكما أن ذاته الحق فقوله الحق، ووعده الحق، وأمره الحق، وأفعاله كلها حق، وجزاؤه المستلزم لشرعه ودينه ولليوم الآخر حق، فمن أنكر شيئًا من ذلك فما وصف الله بأنه الحق المطلق من كل وجه، وبكل اعتبار فكونه حقًّا يستلزم شرعه ودينه وثوابه وعقابه
“Sebagaimana Dzat-Nya adalah Al-Haqq, maka firman-Nya adalah benar, janji-Nya benar, perintah-Nya benar, seluruh perbuatan-Nya benar, dan balasan-Nya yang meniscayakan syariat-Nya, agama-Nya, serta hari akhir adalah benar. Maka barang siapa mengingkari sesuatu dari hal-hal tersebut, berarti ia belum mensifati Allah sebagai Al-Haqq secara absolut dari segala sisi dan dengan segala tinjauan. Karena keberadaan-Nya sebagai Al-Haqq meniscayakan fakta syariat-Nya, agama-Nya, pahala-Nya, dan hukuman-Nya.” [12]
Ini poin yang sangat krusial dan tidak boleh dilewatkan. Mengakui Allah sebagai Al-Haqq bukan cuma soal meyakini keberadaan-Nya, tapi juga meyakini fakta syariat-Nya, pahala-Nya, dan hukuman-Nya. Orang yang meyakini Allah ada, tetapi menolak sebagian syariat-Nya, pada hakikatnya belum mengimani nama Al-Haqq secara utuh.
Syekh Abdurrazzaq al-Badr merangkum seluruh dimensi kehaqqan Allah Ta’ala dengan ungkapan yang padat dan menyeluruh,
ومعنى “الحق” أي: الذي لا شك فيه ولا ريب، لا في ذاته، ولا في أسمائه وصفاته، ولا في ألوهيته، فهو المعبود بحق ولا معبود بحق سواه، فهو تبارك وتعالى حق، وأسماؤه وصفاته حق، وأفعاله وأقواله حق، ودينه وشرعه حق، وأخباره كلها حق، ووعده حق، ولقاؤه حق
“Makna Al-Haqq adalah Dzat yang tidak ada keraguan dan tidak ada kesangsian tentang-Nya; tidak pada Dzat-Nya, tidak pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan tidak pula pada uluhiyyah-Nya. Dialah sesembahan yang benar dan tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya. Maka Dia Tabaraka wa Ta’ala adalah benar, nama-nama dan sifat-sifat-Nya benar, perbuatan dan firman-Nya benar, kepercayaan dan syariat-Nya benar, seluruh kabar-Nya benar, janji-Nya benar, dan pertemuan dengan-Nya benar.” [13]
Bukti-bukti Al-Qur’an bahwa Allah adalah Al-Haqq
Syekh Abdurrazzaq al-Badr menerangkan bahwa Allah Ta’ala telah menegakkan beragam dalil, bukti, dan keterangan yang jelas di dalam Al-Qur’an bahwa Dialah sesembahan yang benar dan tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya. Di antara jenis-jenis bukti tersebut adalah sebagai berikut [14]:
Pertama, keesaan Allah dalam Rububiyyah. Allah Ta’ala menyendiri dalam penciptaan, pemberian rezeki, dan pengaturan lingkungan semesta tanpa sekutu sedikit pun. Dialah satu-satunya Rabb yang benar. Dan akibat logis dari pengakuan ini adalah mengesakan-Nya dalam peribadahan. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ * فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
“Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, maupun siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang wafat dan mengeluarkan yang wafat dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka akan menjawab: Allah. Katakanlah: Mengapa kalian tidak bertakwa? Maka demikianlah Allah, Rabb kalian yang sebenarnya. Tidak ada sesudah fakta itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kalian dipalingkan?” (QS. Yunus: 31-32)
Kedua, penyebutan nama-nama-Nya yang elok dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi yang memberitahu kesempurnaan, keagungan, dan kebesaran-Nya, sehingga Dialah yang paling berkuasa diibadahi tanpa sekutu. Contoh paling agung adalah ayat Kursi yang memuat lebih dari dua puluh sifat mulia dalam satu ayat.
Ketiga, limpahan nikmat-Nya yang tiada terhitung kepada seluruh makhluk. Dalam surah An-Nahl, yang sebagian ulama menjulukinya “surah kenikmatan” karena banyaknya nikmat yang diuraikan di dalamnya, Allah Ta’ala menutup jabaran nikmat-nikmat tersebut dengan firman-Nya,
يَعْرِفُونَ نِعْمَةَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ
“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. An-Nahl: 83) [15]
Keempat, pengabulan doa orang yang terdesak dan pelepasan kesusahan orang yang menderita, yang tidak ada satu pun makhluk yang bisa melakukannya kecuali Allah. Allah Ta’ala berfirman,
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan jika ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sesembahan lain? Amat sedikitlah kalian mengingati-Nya.” (QS. An-Naml: 62)
Kelima, ketiadaan kapasitas kecuali Allah dalam memberi manfaat, menolak mudarat, memberi, dan menahan. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
“Katakanlah: Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian seru kecuali Allah; jika Allah menghendaki kemudaratan kepadaku, apakah mereka dapat menghilangkan kemudaratan itu? Atau jika Allah menghendaki rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mengekang rahmat-Nya? Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah berserah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar: 38)
Keenam, kehalusan dan keajaiban ciptaan-Nya yang memberitahu bahwa Penciptanya adalah Dzat yang Maha Benar dan Maha Sempurna. Allah Ta’ala berfirman,
اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Allah-lah yang menjadikan bumi untuk kalian sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kalian kemudian membaguskan bentuk tubuh kalian serta memberi kalian rezeki dari yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah, Rabb kalian. Maka Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Ghafir: 64)
Ketujuh, kehinaan dan kelemahan sesembahan kecuali Allah yang tidak bisa menciptakan seekor lalat pun, terlebihlagi memberikan khasiat maupun menolak mudharat. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
“Wahai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah oleh kalian perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kalian seru kecuali Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, biarpun mereka bergabung untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya balik dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan sangat lemah pula yang disembah.” (QS. Al-Hajj: 73) [16]
Seluruh bukti di atas dan statis banyak lagi yang tersebar di segenap penjuru Al-Qur’an menegaskan dengan gamblang bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Al-Haqq, sesembahan yang benar, satu-satunya Dzat yang berkuasa diibadahi, dan bahwa peribadahan kepada selain-Nya adalah kebatilan yang paling batil dan kesesatan yang paling sesat.
Konsekuensi keagamaan terhadap nama Allah “Al-Haqq”
Pertama, meyakini seluruh berita dari Allah tanpa keraguan. Surga, neraka, hari kiamat, hisab, dan seluruh perkara gaib adalah benar karena yang mengabarkannya adalah Dzat yang Maha Benar. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dalam doa tahajjud beliau, “Engkaulah Al-Haqq, janji-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, firman-Mu benar, surga benar, neraka benar.”
Kedua, memurnikan amalan cuma kepada-Nya. Karena Allah adalah satu-satunya sesembahan yang benar, maka doa, nadzar, sembelihan, tawakal, dan seluruh bentuk amalan mesti ditujukan cuma kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dialah Yang Maha Benar, dan apa saja yang mereka seru selain-Nya itulah yang batil” (QS. Al-Hajj: 62). Tidak ada kompromi dalam ayat ini.
Ketiga, berpegang pada hukum tanpa rasa minder. Ibnul Qayyim menegaskan bahwa ke-haqq-an Dzat Allah meniscayakan ke-haqq-an syariat, pahala, dan hukuman-Nya. Seorang mukmin tidak perlu malu maupun ragu menjalankan aturan Allah di tengah penduduk yang menjauh dari agama, karena yang ia ikuti adalah fakta mutlak, bukan selera era yang berubah-ubah.
Semoga Allah meneguhkan kita di atas Al-Haqq dan menjauhkan kita dari segala bentuk kebatilan. Aamiin.
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
[1] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 213; Dr. Nawal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 1: 144.
[2] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 213.
[3] Dr. Nawal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 1: 144.
[4] HR. Bukhari (no. 1069) dan Muslim (no. 769). Lihat Syekh Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 214.
[5] Al-Jauhari, Ash-Shahah taaj al-Lughah wa Shahaah al-‘Arabiyyah, 4: 146.
[6] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 2: 15.
[7] Ath-Thabari, Jami’ al-Bayaan ‘an Ta’wiil Aayi al-Qur’an, 12: 175.
[8] Az-Zajjaji, Isytiqaaq Asmaa’ Allah, hal. 178.
[9] As-Sam’ani, Tafsiir al-Qur’an al-‘Aziiz, 3: 452; dinukil oleh Mazin bin Muhammad bin ‘Isa, Aaraa’ al-Imam Abil Muzhaffar as-Sam’ani al-‘Aqadiyyah, hal. 394.
[10] Ibn Katsir, Tafsiir al-Qur’an al-‘Azhiim, 3: 203.
[11] Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di, Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan fi Tafsiir Kalaam al-Mannaan, hal. 539.
[12] Ibnul Qayyim, Badaa’i’ al-Fawaa’id, 4: 165.
[13] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 214.
[14] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 215-217.
[15] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 216.
[16] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 217.
Daftar Pustaka
Al-Badr, Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin. 2015. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.
Al-Jauhari, Abu Nasr Ismail bin Hammad. 1987. Ash-Shahah taaj al-Lughah wa Shahaah al-‘Arabiyah. Beirut: Dar al-‘Ilm lil-Malayin.
Al-‘Ied, Nawal binti Abdul Aziz. 2019. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. Riyadh: Dar al-Hadits.
As-Sa’di, Abdurrahman bin Nasir. 2000. Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan fi Tafsiir Kalaam al-Mannaan. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah.
As-Sam’ani, Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad. Tafsiir al-Qur’an al-‘Aziiz. Riyadh: Dar al-Wathan.
Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. 1980. Jami’ al-Bayaan ‘an Ta’wiil Aayi al-Qur’an. Makkah: Dar at-Tarbiyah.
Az-Zajjaji, Abu al-Qasim Abdurrahman bin Ishaq. 1986. Isytiqaaq Asmaa’ Allah. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah.
Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. 1979. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah. Kairo: Dar al-Fikr.
Ibn Katsir, Abu al-Fida’ Ismail bin Umar. 1999. Tafsiir al-Qur’an al-‘Azhiim. Riyadh: Dar Thaibah.
Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abi Bakr. 1994. Badaa’i’ al-Fawaa’id. Makkah: Dar ‘Alam al-Fawa’id.
Mazin bin Muhammad bin ‘Isa. 2016. Aaraa’ al-Imam Abil Muzhaffar as-Sam’ani al-‘Aqadiyyah min Khilaal Tafsiirihi al-Qur’an al-‘Aziiz. Risalah Doktorat. Sudan: Universitas Al-Qur’an al-Karim wal-‘Ulum al-Islamiyyah.