Ibu Sulit Tidur saat Hamil Ternyata Berdampak pada Berat Badan Anak Kelak

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 29x dilihat
Ibu Sulit Tidur saat Hamil Ternyata Berdampak pada Berat Badan Anak Kelak

Bagikan Postingan

Jakarta -

Tubuh yang semakin besar memang membikin tak nyaman, terlebihlagi tak jarang membikin bumil sulit terpejam. Apakah Bunda sering sulit tidur saat hamil? Ini dampaknya pada bermutu badan bayi setelah lahir.

Menjaga vitalitas tubuh selama kehamilan memang tak cuma berpengaruh pada kesehatan Bunda semata tetapi juga calon bayi yang ada di rahim. Karenanya, bukan sekadar memenuhi kadar nutrisi seimbang tetapi juga tidur yang berkualitas untuk menunjang tumbuh bunga anak.

Seperti diketahui bahwa balita yang ibunya memiliki kualitas tidur yang sangat buruk di akhir masa kehamilan dapat memengaruhi bermutu badan balitanya.


Dalam sebuah riset tersebut, bayi yang ibunya memiliki kualitas tidur paling buruk justru memulai dengan bermutu badan sedikit lebih rendah dibandingkan bayi lain pada enam bulan pertama. Namun kemudian mereka mengejar dan melampaui bermutu badan mereka.

Kenaikan bermutu badan yang cepat ini krusial karena peningkatan bermutu badan yang pesat pada masa bayi telah diidentifikasi sebagai prediktor kelebihan bermutu badan dan obesitas di kemudian hari pada masa kanak-kanak. Para peneliti menganggap dua tahun pertama hayat sebagai masa kritis bagi pertumbuhan, yang dapat menentukan kondisi kesehatan jangka panjang.

Penelitian yang diterbitkan dalam The American Journal of Preventive Medicine ini berfokus pada famili Hispanik berpenghasilan rendah, sebuah himpunan yang memiliki konsekuensi obesitas lebih tinggi dibandingkan himpunan ras dan etnis lain di AS. Namun, hubungan antara tidur saat hamil dan pertumbuhan anak belum banyak diteliti pada populasi ini.

Kualitas tidur buruk saat hamil dikaitkan dengan bermutu badan balita yang lebih tinggi

Para peneliti menggunakan keterangan dari proyek kehamilan di Los Angeles yang disebut studi the Maternal and Developmental Risks from Environmental and Social Stressors. Dalam studi tersebut, usia ibu yang terlibat rata-rata saat pendaftaran adalah 28.8 tahun sekira 81 persen dan mengidentifikasi diri sebagai Hispanik. Kemudian terdapat sekira 51 persen dari anak-anak tersebut berjenis gender perempuan.

Pada usia kehamilan sekira 32 minggu, para ibu sempat mengisi Jenkins Sleep Scale, sebuah survei berisi empat pertanyaan dengan rentang skor 0 hingga 20, di mana bilangan yang lebih tinggi memberitahu kualitas tidur yang lebih buruk. Dalam survei tersebut, skor 12 maupun lebih tinggi dikategorikan sebagai gangguan tidur berat. Hasilnya, rata-rata skor ibu yang didapat adalah 8,0 yaitu tingkat yang tergolong ringan hingga sedang dan sekira 26 persen memperoleh skor 12 maupun lebih.

Dari 805 anak yang memiliki anotasi pertumbuhan, 645 di antaranya memiliki ibu yang mengisi survei tidur di mana diantaranya memiliki ciri khas keluarga-keluarga yang sangat mirip dengan keseluruhan 1.065 perempuan yang terdaftar dalam proyek tersebut.

Dalam studi tersebut, keterangan mengenai bermutu badan setiap anak diperoleh dari rekam medis maupun pengecekan kesehatan antara saat lahir hingga usia 2 tahun, dengan total lebih dari 6.000 pengukuran. Para peneliti kemudian memperhitungkan beragam aspek seperti usia ibu, bermutu badan sebelum hamil, tingkat pendidikan, serta ras dan etnis ibu, ditambah dengan jenis gender anak dan apakah bayi lahir prematur.

Dalam studinya, tim menggunakan model statistik untuk mengestimasi bermutu badan anak pada umumnya di setiap usia. Salah satu anak memiliki ibu dengan skor 16 di mana lebih buruk daripada sekitar 90 persen ibu dalam himpunan tersebut. Anak lainnya memiliki ibu dengan skor 4 yaitu lebih baik daripada sekitar 75 persen ibu lainnya.

Data memberitahu bahwa pada usia 1 tahun, bermutu badan anak pertama lebih bermutu sekitar 347 gram (kira-kira tiga perempat pon). Selisih bermutu badan mencapai puncaknya pada usia 17 bulan, yaitu sekira 750 gram (atau 1,7 pon), dan perbedaan tersebut bertetap dalam rentang usia 11 hingga 22 bulan. Hasil serupa juga ditemukan dalam pengecekan tambahan, termasuk ketika analisis cuma mencakup anak-anak dengan setidaknya dua kali pengukuran maupun cuma keterangan rekam medis.

Kualitas tidur ibu hamil buruk, berat balita terbukti lebih berat

Sebuah studi terhadap 645 famili mengaitkan kualitas tidur yang sangat buruk pada akhir masa kehamilan dengan bermutu badan balita yang lebih tinggi, terutama pada anak laki-laki. Di antara 316 anak laki-laki, mereka yang ibunya mengalami kualitas tidur sangat buruk diperkirakan memiliki bermutu badan sekira 651 gram (sekira 1,4 pon) lebih bermutu pada rentang usia 11 hingga 21 bulan.

Sementara itu, pertumbuhan bayi perempuan terjadi cepat pada awalnya, kemudian melambat setelah ulang tahun pertama, dan bermutu badan mereka cenderung serupa di antara beragam himpunan pola tidur.

Penelitian pada fauna memberikan instruksi mengenai bayi laki-laki. Dalam studi terdahulu, induk tikus hamil yang tidurnya sering terganggu melahirkan anak jantan dengan bermutu badan lebih tinggi, meskipun para peneliti mengingatkan bahwa model semacam itu tidak dapat sepenuhnya meniru pola tidur manusia.

Selain itu, ditemukan juga bahwa sebanyak 56 bayi yang lahir prematur juga memberitahu perbedaan bermutu badan yang lebih kecil. Bayi prematur biasanya tumbuh cepat untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan selama di dalam kandungan, proses pengejaran pertumbuhan ini diduga oleh para peneliti mungkin telah menutupi akibat tambahan dari pola tidur ibu.

Kebiasaan pemberian makan tak jelaskan kaitan dengan kualitas tidur buruk selama kehamilan

Ibu dengan skor kualitas tidur terburuk cenderung lebih cepat selesai menyusui serta lebih mula memberikan jus maupun makanan lain kepada bayinya. Mereka juga melaporkan lebih banyak gejala depresi dan cenderung mengalami kenaikan bermutu badan berlebih selama kehamilan.

Meski demikian, setelah memperhitungkan aspek kebiasaan pemberian makan dan depresi secara terpisah, pola bermutu badan bayi statis tidak banyak berubah. Temuan ini sejalan dengan studi sebelumnya yang melibatkan famili keturunan Meksiko-Amerika, meskipun riset lain mengidentifikasi durasi menyusui dan pemberian makanan awal sebagai aspek prediksi obesitas.

Para penulis menunjuk beberapa kemungkinan klarifikasi sambil menekankan bahwa studi ini tidak dapat mengonfirmasi salah satunya. Sel lemak terbentuk terutama di akhir kehamilan, jadi gangguan tidur bisa memengaruhi proses tersebut. Tidur yang buruk juga dapat membebani kesehatan metabolik ibu, artinya sepertiapa tubuh ibu menangani makanan dan energi, maupun survei tidur ini mungkin sebagian mencerminkan stres yang lebih luas seperti dikutip dari halaman Studyfinds.

Pemeriksaan tidur dalam perawatan prenatal dapat menandai kehamilan berisiko

Karena ini adalah studi observasional, artinya famili dilacak bukan ditugaskan pada apa pun. Hasilnya, hal ini memberitahu hubungan tetapi tidak dapat membuktikan bahwa tidur yang buruk menyebabkan bermutu badan berlebih. 

Para peneliti statis menyarankan menambahkan pengecekan kualitas tidur pada perawatan prenatal rutin untuk membantu mendeteksi kehamilan yang mungkin membutuhkan perhatian lebih mendalam. Menanyakan tentang tidur memang masuk akal, tetapi sampai studi menguji apakah peningkatan tidur ibu mengubah pertumbuhan anak, kaitannya statis menjadi pola, bukan sebuah kebiasaan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads