Alasan bayi suka aroma ibunya rupanya bukan sekadar hatikecil alami, tetapi juga didukung oleh beragam penelitian ilmiah. Aroma alami yang berasal dari kulit, puting, hingga ASI ibu diyakini membantu bayi mengenali ibunya, merasa lebih tenang, sekaligus memudahkan proses menyusu sejak hari-hari pertama kehidupan.
Mengutip laman Unicef, menjelang Baby Friendly Virtual Conference 2026, pembicara Profesor Vivien Swanson psikolog kesehatan sekaligus peneliti dari University of Stirling yang memimpin penelitian internasional melalui WOLF Project (Wellcome-funded Olfaction Project).
Penelitian dari WOLF Project ini mengungkap mengenai hubungan antara indera penciuman (aroma) dan menyusui, serta gimana sistem penciuman (olfaktori) berkedudukan dalam memperkuat ikatan antara orang tua dan bayi.
Saat bayi lahir, dia mulai mengenali bumi melalui beragam indera, seperti sentuhan, suara, penglihatan, dan penciuman. Selama ini banyak orang konsentrasi pada kontak kulit ke kulit alias skin to skin, padahal aroma alami ibu juga mempunyai peran yang sangat penting, lho Bunda.
Alasan bayi suka aroma ibunya mulai dari aroma tubuh ibu, termasuk aroma kulit, puting, kolostrum, dan ASI, diduga menjadi sinyal biologis yang membantu bayi menemukan sumber makanan sekaligus memberikan rasa aman.
Penelitian menunjukkan bahwa sistem penciuman manusia jauh lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami. Indera penciuman tidak hanya membantu manusia mengenali makanan alias mendeteksi bahaya, tetapi juga berkedudukan dalam komunikasi sosial, mengenali personil keluarga, hingga membangun hubungan emosional.
Aroma membantu bayi menemukan payudara
Dalam bumi mamalia, indera penciuman merupakan salah satu aspek utama yang membantu bayi memperkuat hidup. Anak mamalia menggunakan aroma induknya untuk menemukan puting susu, melekat dengan betul (latch) dan sukses menyusu.
Para intelektual menggunakan istilah olfaksi untuk menjelaskan sistem penciuman manusia. Selama ini manusia diketahui menggunakan indera penciuman untuk bertahan hidup, mendeteksi bahaya, serta mengenali makanan yang aman. Selain itu, penciuman juga membantu kita mengomunikasikan emosi, mengenali orang lain, apalagi memilih pasangan romantis.
Kini, terdapat bukti ilmiah yang kuat bahwa aroma payudara, kolostrum, alias ASI (bisa salah satu alias kombinasi dari ketiganya) juga berkedudukan krusial dalam membantu ibu memulai proses menyusui serta mempertahankan pengalaman menyusui yang nyaman dan menenangkan bagi bayi seiring berjalannya waktu.
Salah satu tujuan paling menarik dari WOLF Project adalah mengidentifikasi senyawa kimia utama yang dihasilkan selama proses menyusui yang berpotensi menjadi feromon manusia pertama yang sukses diidentifikasi. Jika sukses dibuktikan, temuan ini bakal menjadi kemajuan krusial dalam pengetahuan pengetahuan tentang manusia.
Masalah menyusui seperti bayi susah melekat pada tetek (latch), produksi ASI yang dirasa kurang, serta nyeri pada puting merupakan keluhan yang umum terjadi di beragam negara. Oleh lantaran itu, mengetahui langkah memanfaatkan indera penciuman untuk membantu proses menyusui, menenangkan bayi, dan memperkuat ikatan ibu dan bayi pada masa-masa awal kehidupan mempunyai potensi yang sangat besar.
Namun, krusial untuk dipahami bahwa hingga penelitian ini selesai, para peneliti tetap belum dapat memastikan seberapa besar akibat nyata dari pendekatan tersebut.
Mengapa peran aroma ibu belum masuk pedoman menyusui?
Meski bukti ilmiah terus berkembang, penelitian WOLF Project menemukan bahwa sebagian besar pedoman menyusui di bumi tetap belum membahas pentingnya indera penciuman.
Tim peneliti meninjau beragam panduan, termasuk pedoman WHO, UNICEF Baby Friendly Initiative serta pedoman nasional dari 11 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya sedikit pedoman yang membahas pentingnya peran indera penciuman.
Padahal, beberapa praktik yang telah direkomendasikan, seperti kontak kulit ke kulit (skin-to-skin care), menjaga ibu dan bayi tetap berdekatan, serta perawatan metode kanguru (kangaroo care), kemungkinan secara alami mendukung komunikasi melalui aroma tubuh.
Sebaliknya, beberapa tindakan medis maupun kebiasaan budaya diduga dapat mengurangi komunikasi melalui aroma. Di antaranya:
- Memandikan bayi segera setelah lahir.
- Mencuci tetek sebelum menyusui.
- Penggunaan antiseptik berlebihan.
- Penggunaan minyak pijat alias ramuan herbal beraroma kuat.
membuang kolostrum. - Pemberian susu formula yang mempunyai aroma khas.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hingga sekarang belum ada bukti kuat yang menyatakan praktik-praktik tersebut secara langsung menyebabkan kegagalan menyusui. Penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh aroma terhadap keberhasilan pemberian ASI.
Kesimpulan dari ulasan ini argumen bayi suka aroma ibunya rupanya bukan sekadar lantaran kedekatan emosional. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aroma alami dari kulit, payudara, kolostrum, dan ASI kemungkinan menjadi bagian krusial dari komunikasi biologis antara ibu dan bayi.
Aroma tersebut membantu bayi menemukan payudara, merasa lebih tenang, memperkuat ikatan emosional, hingga mendukung keberhasilan menyusui. Meski demikian, para mahir tetap terus meneliti seberapa besar pengaruhnya terhadap praktik menyusui sehari-hari.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·