Inilah Tata Cara Shalat Istisqa Saat Musim Kemarau

Bincang Syariah oleh Waktu baca 4 menit 507x dilihat
Inilah Tata Cara Shalat Istisqa Saat Musim Kemarau

Bagikan Postingan

Inilah Tata Cara Shalat Istisqa Saat Musim KemarauInilah Tata Cara Shalat Istisqa Saat Musim Kemarau

Kincai Media– Berikut Inil adalah tata langkah shalat istisqa saat musim kemarau. Sesuai dengan namanya, al-istisqa’ ialah meminta curahan air penghidupan (thalab al-saqaya).  Shalat istisqa hukumnya adalah sunnah muakkadah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan.

Sebagaimana Rasulullah Saw. dalam sabda berasal dari Abu Hurairah , Nabi dan sahabat shalat meminta hujan lantaran musim tandus yang berkepanjangan. Nabi bersabda:

خرج النبي صلى الله عليه وسلم يوماً يستسقي فصلى بنا ركعتين بلا أذان ولا إقامة ثم خطبنا ودعا الله عز وجل وحول وجهه نحو القبلة رافعاً يديه ثم قلب ردائه فجعل الأيمن الأيسر والأيسر الأيمن

Artinya: Nabi Muhammad Saw keluar rumah pada suatu hari untuk memohon diturunkan hujan, lampau beliau salat dua rekaat berbareng kita tanpa azdan dan iqamat, kemudian beliau berdiri untuk khutbah dan memanjatkan angan kepada Allah Swt dan seketika itu beliau mengalihkan wajahnya (dari semula menghadap ke arah hadirin) menghadap ke kiblat serta mengangkat kedua tangannya, serta membalikkan selendang sorbannya, dari pundak kanan ke pundak kiri, begitupun ujung sorbannya (HR. Imam Ahmad).

Terkait waktu  penyelenggaraan salat istisqa, maka ustadz memberikan keterangan seyogianya dikerjakan di siang hari layaknya shalat Idul Fitri alias Adha. Simak penjelasan Aisyah Ra berikut ini:

خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس

Dalam hadits ini Rasulullah Saw mengerjakan salat istisqa’ setelah mentari muncul di atas permukaan bumi, seperti waktu dimulainya salat Idul Fitri alias idul Adha. Para ustadz beranggapan salat istisqa’ dapat dikerjakan hingga sore hari, asalkan tidak pada waktu diharamkan mengerjakan salat, ialah pas mentari di atas kepala dan pas terbenam matahari.

Tata Cara Shalat Istisqa

Adapun  tata langkah melaksanakan shalat Istisqa sebagai berikut;

Pertama: pemimpin dan makmum berkumpul di tanah lapang untuk mengerjakan shalat secara berjamaah.

Kedua: pemimpin dan makmum tanpa didahului azdan dan iqamat beriktikad membaca niat salat istisqa’

أصلي سنة الاستسقاء ركعتين مستقبل القبلة اماما/ماموما لله تعالى

Ketiga: sesudah takbiratul ihram, pemimpin dan makmum melakukan takbir 7 kali pada rekaat pertama, dan 5 kali takbir pada rekaat kedua.

Keempat: pada tiap-tiap rakaatnya pemimpin membaca surat al-fatihah dan satu surat pendek secara jelas yang dapat didengarkan oleh para makmum. Dilanjutkan dengan rujuk, dua sujud dan duduk di antara dua sujud.

Kelima: pada rekaat kedua setelah sujud, pemimpin dan makmum melakukan duduk tahiyyat akhir dan membaca referensi tahiyyat, tasyahhud, dan salawat seperti yang dibaca dalam salat wajib. Diakhiri dengan referensi salam dengan menolehkan wajah dan kepala ke kanan dan ke kiri.

Keenam: pemimpin menyampaikan khutbah dan didengarkan oleh jamaah yang hadir. Khutbah salat istisqa’ terdiri dari dua khutbah yang disampaikan khatib dengan langkah berdiri dan sekali duduk di antara kedua khutbah.

Rukun khutbah dan tatacaranya dalam salat istisqa’ sama dengan yang dilakukan khatib sesudah salat Id. Diantaranya membaca takbir 9 kali pada khutbah pertama dan takbir 7 kali pada khutbah kedua.

Dalam materi khutbah dianjurkan khatib membujuk umat Islam untuk bertaubat, meminta maaf atas segala dosa, serta memperbanyak istighfar dengan angan Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan makhluk hidup lainnya pada saat tandus panjang.

Tiap-tiap mengakhiri khutbah pertama dan khutbah kedua, khatib disunnahkan membaca angan dengan langkah dirinya membalikkan badan dan membelakangi jamaaah untuk menghadap kiblat, menukar posisi selendang sorban di pundaknya, seraya mengangkat kedua tangannya.

Ketujuh, angan shalat istisqa sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim,juz II, laman 366;

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا هَنِيئًا مَرِيعًا غَدَقًا مُجَلَّلًا عَامَّا طَبَقًا سَحًّا دَائِمًا. اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ. اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ وَالْبَهَائِمِ وَالْخَلْقِ مِنَ الْبَلَاءِ وَالْجَهْدِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ. اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَاسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْسَمَاءِ وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ. اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْجَهْدَ وَالْجُوعَ وَالْعُرْيَ وَاكْشِفْ عَنَّا الْبَلَاءَ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ. اللَّهُمَّ إِنَا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا

Allāhummasqinā ghaitsan mughītsan hanī’an marī‘an (lan riwayat murī‘an) ghadaqan mujallalan thabaqan sahhan dā’iman. Allāhummasqināl ghaitsa, wa lā taj‘alnā minal qānithīn. Allāhumma inna bil ‘ibādi wal bilādi wal bahā’imi wal khalqi minal balā’i wal juhdi wad dhanki mā lā nasykū illā ilaika.

Allāhumma anbit lanaz zar‘a, wa adirra lanad dhar‘a, wasqinā min barakātis samā’i, wa anbit lanā min barakātil ardhi. Allāhummarfa‘ ‘annal jahda wal jū‘a wal ‘urā, waksyif ‘annal balā’a mā lā yaksyifuhū ghairuka. Allāhumma innā nastaghfiruka, innaka kunta ghaffārā, fa arsilis samā’a ‘alainā midrārā.

Artinya; Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan yang menolong, mudah, menyuburkan, yang lebat, banyak, merata, menyeluruh, dan berfaedah abadi. Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan. Jangan jadikan kami termasuk orang yang berputus harapan. Ya Allah, sungguh banyak hamba, negeri, dan jenis hewan, dan segenap makhluk lainnya mengalami bencana, paceklik, dan kesempitan di mana kami tidak mengadu selain kepada-Mu.

Ya Allah, tumbuhkan tanaman kami, deraskan air susu ternak kami, turunkan pada kami air hujan lantaran berkah langit-Mu, dan tumbuhkan tanaman kami dari berkah bumi-Mu. Ya Allah, angkat dari bahu kami kesusahan paceklik, kelaparan, ketandusan.

Hilangkan dari kami musibah yang hanya dapat diatasi oleh-Mu. Ya Allah, sungguh kami memohon maaf kepada-Mu, lantaran Kau adalah maha pengampun. Maka turunkan pada kami hujan deras dari langit-Mu.

Demikian penjelasan mengenai inilah tata langkah shalat Istisqa saat musim kemarau. Semoga bermanfaat. [Baca juga: Doa Shalat Istisqa Lengkap].

Artikel Lainnya Bincang Syariah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads