Kincai Media,JAKARTA -- Islam tidak melihat kemuliaan seseorang berdasarkan status sosial dan latar belakangnya. Kisah Salim Maula Abu Hudzaifah, mantan budak yang menjadi salah satu rujukan Rasulullah SAW dalam mengajarkan Alquran, memberitahu bagaimana Islam mengangkat derajat seseorang melalui keimanan, ketakwaan, dan keberanian menyampaikan kebenaran, termasuk menegur imam dan bangsawan ketika berbuat kesalahan.
Dalam buku Rijalun Haular Rasul yang ditulis Khalid Muhammad Khalid, dikisahkan suatu hari Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabat, "Ambillah olehmu Alquran dari empat orang, yaitu Abdullah bin Mas'ud, Salim Maula Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka'ab, dan Mu'adz bin Jabal."
Kita telah mengenal Ibnu Mas'ud, Ubai, dan Mu'adz. Nah, kini siapakah sejatinya sahabat keempat yang dijadikan Rasul sebagai unggulan dan tempat bertanya dalam mengajarkan Alquran?
Ia adalah Salim, mantan budak Abu Hudzaifah. Pada mulanya ia hanyalah seorang budak, kemudian Islam memperbaiki kedudukannya. Ia diambil sebagai anak angkat oleh salah seorang imam Islam terkemuka, yang masuk Islam lebih dahulu dan merupakan seorang bangsawan dan imam Quraisy.
Ketika Islam menghapus tradisi memungut anak angkat, Salim pun menjadi saudara, sahabat karib, serta budak yang telah dimerdekakan bagi orang yang memungutnya sebagai anak, yaitu sahabat yang mulia disebut Abu Hudzaifah bin Utbah. Berkat karunia dan nikmat dari Allah, Salim mencapai jabatan tinggi dan bermartabat di kalangan kaum muslimin, yang dipersiapkan baginya oleh keistimewaan jiwa, tingkah laku, dan ketakwaannya.
Riwayat hidup Salim tidak berbeda dengan histori hidup Bilal, histori hidup sepuluh sahabat Nabi ahli ibadah, dan histori hidup para sahabat lainnya yang sebelum memasuk Islam hidup sebagai budak yang rendah dan miskin. Ia diangkat oleh Islam dengan mendapat kesempurnaan petunjuk, sehingga ia menjadi penuntun umat ke jalan yang benar. Ia juga menjadi figur penentang kezaliman sebagai kesatria di medan laga.
Pada diri Salim terhimpun keutamaan-keutamaan yang terdapat dalam Islam. Keutamaan-keutamaan itu berkumpul pada dirinya dan bercahaya di lingkungan sekitarnya, sementara keimanannya yang mendalam mengatur semua itu menjadi suatu formasi yang sangat indah.
Berani Berkata Benar
Kelebihannya yang paling menonjol pada dirinya adalah mengemukakan apa yang benar secara terus terang. Ia tidak menutup mulut terhadap suatu kalimat yang seharusnya diucapkannya, dan ia tidak mungkin mengingkari hidupnya dengan berdiam diri terhadap kesalahan yang menekan jiwanya.
Setelah Makkah dibebaskan oleh kaum muslimin, Rasulullah SAW mengirimkan beberapa rombongan ke kampung-kampung dan suku-suku Arab sekeliling Makkah, dan menyampaikan kepada penduduknya bahwa Rasulullah sengaja mengirim mereka itu untuk berdakwah, bukan untuk berperang. Seorang imam dari salah satu pasukan yang dikirim Rasulullah SAW adalah Khalid bin Al-Walid.
Ketika Khalid sampai di tempat yang dituju, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkannya terpaksa menggunakan senjata dan menumpahkan darah. Ketika peristiwa ini sampai kepada Nabi Muhammad SAW, beliau memohon ampun kepada Rabbnya sangat durasi sekali sambil berkata, "Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh Khalid."