Istilah 'Pre-made Children' tengah ramah di negara China, Bunda. Istilah ini menyoroti tren orang tua yang memprioritaskan studi anak-anak mereka daripada rehat dan bersenang-senang selama liburan musim panas.
Dilansir South China Morning Post (SCMP), istilah ini terinspirasi dari konsep 'makanan siap saji' yang menggambarkan makanan kaku olahan pabrik yang mudah disiapkan. Banyak restoran memilih metode persiapan makan sigap saji dibandingkan makanan tradisional yang dimasak sesuai pesanan.
Ungkapan tersebut rupanya membawa konotasi negatif di China, lantaran masyarakat percaya bahwa makanan siap saji tidak sehat. Ungkapan tersebut kemudian diadaptasi menjadi istilah parenting 'Pre-made Children' alias 'Anak-anak yang dipersiapkan sebelumnya'.
'Pre-made Children' merujuk pada anak-anak yang dipaksa oleh orang tua mereka untuk mempelajari pelajaran yang akan dipelajari di semester mendatang selama liburan musim panas.
Cerita orang tua yang menerapkan 'Pre-made Children'
Seorang ibu bermarga Li di provinsi Zhejiang, China Timur, bersikeras agar putranya yang duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD) mempelajari puisi-puisi Tiongkok, melafalkan kosakata bahasa Inggris, dan mengikuti kelas matematika daring sepanjang musim panas. Padahal, mata pelajaran tersebut baru diajarkan oleh pembimbing pada musim gugur.
Li mengungkapkan dirinya dan sang suami kudu mengajari putra mereka itu sepulang kerja setiap hari, hingga membikin mereka kelelahan. Hal itu dilakukan lantaran dia cemas tidak dapat memastikan putranya belajar lebih awal.
Orang tua lainnya juga berbagi pengalaman yang sama. Mereka 'mempersiapkan' anak-anak mereka masuk sekolah dengan belajar selama musim panas. Salah satu orang tua mencatat bahwa anaknya selalu berada di ranking 10 teratas di kelas lantaran belajar sebelum liburan.
Orang tua lain dari Shanghai berbagi di media sosial bahwa mempersiapkan materi terlebih dulu memungkinkan anak-anak untuk merespons pertanyaan pembimbing dengan lebih cepat. Anak juga bisa mendapatkan pujian dan selanjutnya membangun kepercayaan diri, Bunda.
Sayangnya, tren ini tampaknya tidak disukai oleh anak-anak. Putra Li yang berjulukan Xiaoyu pernah mengungkap bahwa dia lebih suka tidak liburan lantaran tidak bisa bersantai.
Tren 'Pre-made Children' juga bertindak pada anak yang lebih besar
Tren 'Pre-made Children' tak hanya terjadi di kalangan anak SD, Bunda. Tren ini juga meluas ke siswa yang baru saja menyelesaikan gaokao alias ujian masuk universitas nasional.
Perlu diketahui, gaokao dianggap sebagai ujian krusial lantaran dapat mengubah hidup sebagian besar siswa di China. Waktu liburan antara gaokao dan masuk universitas dianggap sebagai salah satu kesempatan bagi siswa di China untuk sepenuhnya bersantai dan menikmati hidup.
Namun, tren 'Pre-made Children' mengubah pandangan tersebut. Di media sosial, beberapa orang tua memamerkan anak-anak mereka yang telah lulus sekolah menengah sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke tingkat universitas.
Tren ini apalagi mendorong beberapa sekolah training alias tempat kursus untuk menawarkan program musim panas transisi dari sekolah menengah ke universitas. Biaya mengikuti kelas ini tak murah, ialah sekitar Rp1 juta per sesi.
Pro dan kontra tren 'Pre-made Children'
Fenomena 'Pre-made Children' dipandang sebagai perkembangan terbaru dalam pola asuh. Tren ini menggambarkan tekanan kuat yang diberikan orang tua kepada anak-anak mereka untuk memastikan daya saing di antara kawan sebaya.
Tak sedikit netizen mengkritik tren ini, Bunda. Salah satu netizen menilai tren tersebut sebagai persaingan yang berlebihan.
"Jika ini terus berlanjut, saya jadi bertanya-tanya apakah bakal ada program transisi antara universitas dan bumi kerja, serta pensiun dan kematian?" kata seorang netizen.
Meski begitu, sebagian pihak mendukung program-program dalam 'Pre-made Children'. Mereka menganggap program ini bisa menjadi langkah terbaik bagi anak untuk beradaptasi di tahap pendidikan selanjutnya.
"Universitas sangat berbeda dari sekolah menengah. Tidak ada salahnya beradaptasi dengan lingkungan baru ini melalui program-program seperti itu," ungkap seorang netizen.
"Saya merasa program-program seperti itu bermanfaat. Saya mengikuti salah satu program yang memberikan pedoman tentang gimana merencanakan kehidupan universitas sesuai dengan jalur masa depan dan langkah-langkah apa yang kudu diambil jika saya mau memasuki bumi kerja alias melanjutkan studi setelah universitas," kata yang lain.
Itulah penjelasan tentang istilah 'Pre-made Children' yang viral di China. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/fir)