Jaminan Rezeki Bagi Penuntut Ilmu

Jan 07, 2026 03:58 PM - 5 bulan yang lalu 176615

Kincai Media , JAKARTA -- Diriwayatkan bahwa ada dua laki-laki berkerabat pada masa Nabi Muhammad SAW. Salah satunya datang kepada Nabi SAW untuk memburu ilmu, dan yang satunya lagi bekerja.

Maka saudaranya yang bekerja mengadukan perihal saudaranya kepada Nabi SAW. Nabi SAW menjawab, "Bisa jadi Anda diberi rezeki karena dia." (HR Imam Tirmidzi).

Kisah yang diwartakan oleh sahabat Anas bin Malik di atas mempunyai beberapa ibrah yang layak dipetik.

Pertama, agunan Allah SWT. Bahwa penuntut pengetahuan dijamin rezekinya. Habib Abdullah Ibn Alaw al-Haddad menjelaskan bahwa ini adalah agunan unik setelah adanya agunan umum yang telah dijamin Allah SWT terhadap semua makhluk di muka bumi, dalam firman-Nya.

"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS Hud: 6).

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang mencari ilmu, maka Allah SWT menjamin rezekinya." (HR Syihab dalam Musnadnya).

Maka “jaminan khusus” adalah bertambahnya kemudahan, dihilangkan kepayahan dan kesulitan dalam mencari dan memperoleh rezeki. Semoga pencari pengetahuan dan yang membiayai dimudahkan jalan rezekinya.

Maka bagi barangsiapa tetap menyantuni anak yang sedang menimba pengetahuan terutama di pesantren, yakinlah bahwa rezeki anak itu sudah pasti dijamin oleh Allah Taala yang dititip melalui orang tuanya.

Jika mereka yang bermaksiat dan kufur pada-Nya saja tetap diberi rezeki oleh Nya, apalagi anak yang sedang nyantri ber-tafaqquh fiddin pasti lebih terjamin lagi kebutuhannya.

Kedua, rekomendasi untuk menolong dan membantu orang-orang yang berilmu (ulama) dan para penuntut pengetahuan agama.

Menimba pengetahuan dan membiayai penuntut pengetahuan merupakan salah satu karena musabab mengalir derasnya rezeki seseorang. Barangsiapa yang berusaha, bekerja, memperoleh, dan memfasilitasi para penuntut ilmu, niscaya Allah SWT bakal membalas dan memperluas rezekinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya." (HR Muslim, at-Turmudziy, Abu Dawud).

Ketiga, sabda ini bukan berarti penuntut pengetahuan boleh bermalas-malasan jika sudah ada yang membiayainya.

Jika sekiranya di tengah keterbatasan ekonomi seseorang bisa bekerja keras agar bisa membayai dirinya dan melanjutkan pendidikannya, maka tentu ini lebih afdhal.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Pendapatan yang terbaik dari seseorang adalah hasil jerih payah tangannya.” (HR Ibnu Majah).

Orang yang kebetulan sehat badan dan pikirannya, tiada lagi argumen baginya untuk tidak belajar dan tafaqquh karena tidak ada lagi yang lebih melarat daripada Imam Abu Yusuf, tapi dia tidak pernah lalai menimba ilmu.

Rata-rata orang sukses itu tidak menyerah pada keadaan. Kesulitan ekonomi apalagi kondisi bentuk yang tidak sempurna dijadikan sebagai motivasi.

Bahwa diyakini kesuksesan itu adalah kewenangan siapa saja yang pantang menyerah dan tidak mudah berputus asa.

Selengkapnya