Jangan Pandang Rendah Orang Miskin

May 20, 2026 08:16 PM - 10 jam yang lalu 537

Kincai Media , JAKARTA -- Dalam aliran Islam, semua insan setara di hadapan Allah SWT. Yang membedakan antara manusia adalah kadar ketakwaannya. Itu pun hanya Allah Ta'ala yang mengetahui prinsip hati orang per orang.

Banyak alias sedikitnya kekayaan tak bisa menjadi referensi untuk menentukan kemuliaan seseorang. Bahkan, ada banyak riwayat yang menunjukkan tingginya kedudukan orang miskin.

Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Harits bin Wahb, "Maukah kalian saya beri tahu, siapakah mahir surga itu? Mereka adalah orang-orang yang lemah dan dianggap lemah oleh para manusia, tetapi jika mereka berjanji atas nama Allah, pastilah Allah mengabulkan apa yang disumpahkannya. Maukah kalian saya beri tahu, siapakah mahir neraka itu? Mereka adalah setiap orang yang keras, kikir, dan doyan mengumpulkan kekayaan lagi sombong" (HR Bukhari-Muslim).

Satu tafsiran tentang sabda itu adalah yang dimaksud "orang yang lemah", ialah kaum miskin. Adapun tafsiran lain mengatakan, "orang yang lemah" itu adalah mereka yang tawadhu dan lembut hatinya.

Hadis berikutnya lebih gamblang lagi menjelaskan nasib orang yang selama di bumi miskin, tetapi beruntung kelak di akhirat. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Orang beragama yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya, ialah lebih dulu separuh hari yang (ukurannya) sama dengan lima ratus tahun" (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Adapun menurut sabda sahih, dikisahkan, suatu hari Sa'ad menyangka dirinya mempunyai kelebihan duniawi dibandingkan sahabat-sahabat lain. Akan tetapi, Rasul SAW menasihati, "Kalian hanyalah mendapatkan pertolongan dan rezeki dengan karena adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian” (HR Bukhari).

Riwayat lain menuturkan sabda Nabi SAW: "Sesungguhnya, Allah menolong umat ini dengan karena orang-orang lemah di antara mereka, ialah dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka” (HR an-Nasai, menurut Syekh al-Albani sabda ini shahih).

Maknanya, orang yang miskin dan lemah boleh jadi mempunyai kedekatan dengan Allah SWT. Doa-doa yang mereka panjatkan berangkat dari hati yang ikhlas, bebas dari belenggu duniawi. Oleh lantaran itu, jangan anggap remeh angan mereka.

Akhirnya, miskin bukan berfaedah hilangnya nilai diri. Nabi SAW bersabda, "Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu alias dua suap makanan. Akan tetapi, miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas dia pun malu alias tidak meminta dengan langkah mendesak."

Surah al-Mudatsir adalah surah yang turun pada permulaan dakwah yang menjelaskan bahwa Islam melarang setiap perilaku yang menyebabkan munculnya kemiskinan, seperti tidak membantu kaum dhuafa dan membiarkan mereka dalam kepapaan.

Sebagaimana digambarkan dalam surah al-Mudatsir, Allah SWT berfirman, yang artinya, "... Apakah yang memasukkan Anda ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: 'Kami dulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin'" (QS al-Mudatsir: 42-44).

Selengkapnya