Rasulullah Dan Ikatan Batu Pengganjal Lapar

May 20, 2026 08:30 PM - 10 jam yang lalu 514

Kincai Media , JAKARTA -- Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW memimpin salat isya berjamaah di masjid. Namun, selang beberapa lama jamaah dapat mendengarkan bunyi "kletak-kletik", terutama ketika Rasulullah SAW sedang bergerak untuk rukuk dan sujud.

Dalam pikiran masing-masing, jamaah cemas. Mereka takut bilamana Rasulullah SAW sedang menggigil lantaran sakit. Demikian mereka menyangka.

Usai shalat, Umar bin Khattab bertanya kepada beliau, "Apakah engkau sakit, wahai kekasih Allah?"

"Tidak," jawab Nabi SAW, "aku sehat walafiat."

"Namun, kenapa tiap kali engkau menggerakkan tubuhmu untuk rukuk dan sujud, terdengar bunyi berkeretakan. Mungkin engkau sakit?" tanya Umar lagi.

"Tidak. Aku segar bugar," tetap jawab Nabi.

Akan tetapi, para sahabat tetap terlihat makin khawatir. Oleh lantaran itu, beliau lantas membuka jubahnya.

Tampak oleh para sahabat, Nabi SAW mengikat perutnya yang kempes dengan selempang kain yang diisi batu-batu kecil. Itu dilakukan beliau demi menahan rasa lapar.

Batu-batu itulah yang mengeluarkan bunyi "kletak-kletik" ketika Nabi SAW bergerak. Umar spontan memekik, "Ya Rasul, alangkah hinanya kami dalam pandanganmu. Apakah engkau kira jika engkau katakan lapar, kami tidak bersedia menyuguhkan makanan untukmu?"

Rasul SAW menggeleng seraya tersenyum.

"Umar," kata Nabi SAW, "aku mengetahui, kalian--para sahabat--sangat mencintaiku. Namun, di mana bakal kuletakkan mukaku di hadapan Allah, andaikan sebagai pemimpin justru saya membikin berat orang-orang yang kupimpin?"

Mendengar jawaban itu, seluruh jamaah hening.

"Biarlah saya lapar," ujar Rasulullah SAW melanjutkan perkataannya, "supaya manusia di belakangku tidak terlalu serakah sampai-sampai menyebabkan orang lain kelaparan."

Hikmah lapar

"Perangilah nafsumu dengan rasa lapar dan rasa haus lantaran sesungguhnya pahala dalam perihal itu seperti pahala bertempur di jalan Allah. Tidak ada kebaikan yang lebih dicintai di sisi Allah, selain rasa lapar dan rasa haus." Hadis Nabi Muhammad SAW itu bisa jadi terasa aneh.

Bagaimana mungkin rasa lapar dan haus bisa menjadi kebaikan ibadah paling dicintai Allah?

Untuk memahaminya, pertama-tama, rasa lapar sesungguhnya berangkaian erat dengan nafsu manusia.

Dalam perjalanan spiritual (safar ruhaniy), nafsu kerap mengganggu dan menipu seorang salik (seseorang yang secara sadar memilih pengembaraan menuju kepada-Nya). Nafsu makan, misalnya, bakal mengganggu konsentrasi dan kekhusukan seorang abid dalam beribadah. Jika seorang abid hendak bersembahyang, misalnya, sedangkan perutnya sarat dengan makanan, biasanya dia bakal enggan dan malas.

Itulah kenapa Luqman berbicara kepada anaknya, "Hai anakku, jika perut kenyang, logika bakal tertidur, kebijaksaan bakal membeku, dan personil badan menjadi enggan melaksanakan ibadah."

Perut memang sumber penyakit. Tak saja penyakit-penyakit lahiriah seperti yang lazim dikenal dalam pengetahuan kedokteran, tetapi juga penyakit rohaniah seperti tamak, malas, hati yang keras, cinta dunia, dan semacamnya.

Selengkapnya