Jika Akidah Ahlussunnah Dianggap Menyimpang

Islami Muslimah oleh Waktu baca 3 menit 507x dilihat
Jika Akidah Ahlussunnah Dianggap Menyimpang

Bagikan Postingan

Akidah Ahlussunnah adalah akidah Islam yang sahih berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta sesuai pemahaman para sahabat. Dalam permasalahan akidah di masyarakat, terdapat beragam pemahaman yang sebenarnya menyimpang karena apa yang diyakini dan dilakukan tidak sesuai dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pemahaman para sahabat. Akan tetapi, mereka meyakini bahwa hal itu adalah ajaran Islam yang sesungguhnya.

Ketika berada di penduduk yang berbeda pemahaman tentang akidah, ada di antara mereka yang menganggap bahwa kita yang mengikuti Ahlussunnah termasuk pengikut akidah yang menyimpang. Karena apa yang dilakukan tidak sama dengan mereka, terutama aktivitas keagamaan, misalnya ritual pemberian sesajen atau sembelihan kepada kecuali Allah, pengagungan kepada makam orang saleh, dan lain sebagainya.

Berikut ini ada beberapa cara untuk menyikapi hal tersebut.

Sabar

Hendaknya kita statis berpegang teguh kepada akidah yang benar. Tidak terpengaruh apa kata orang, meskipun mereka memusuhi kita. Kebencian orang lain karena pemahaman akidah kita itu sudah menjadi sunnatullah, tidak bisa kita hindari. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَ ٰ⁠لِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِیٍّ عَدُوࣰّا شَیَـٰطِینَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ یُوحِی بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضࣲ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورࣰاۚ وَلَوۡ شَاۤءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا یَفۡتَرُونَ

“Dan demikianlah untuk setiap Nabi Kami menjadikan musuh, yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang bagus sebagai tipuan. Dan jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka berbareng (kebohongan) yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-Anʿām: 112)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dimusuhi, beliau menghadapinya dengan kesabaran. Jangan karena dikucilkan, kita akan meninggalkan kebenaran. Perbuatan ini adalah sifat orang munafik. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ فَإِذَاۤ أُوذِیَ فِی ٱللَّهِ جَعَلَ فِتۡنَةَ ٱلنَّاسِ كَعَذَابِ ٱللَّهِۖ وَلَىِٕن جَاۤءَ نَصۡرࣱ مِّن رَّبِّكَ لَیَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمۡۚ أَوَلَیۡسَ ٱللَّهُ بِأَعۡلَمَ بِمَا فِی صُدُورِ ٱلۡعَـٰلَمِینَ

“Dan di antara manusia ada sebagian yang berkata, ‘Kami beragama kepada Allah’; tetapi andaikan dia disakiti (karena dia beriman) kepada Allah, dia menganggap cobaan manusia itu sebagai siksaan Allah. Dan jika datang pertolongan dari Tuhanmu, niscaya mereka akan berkata, ‘Sesungguhnya kami berbareng kamu.’ Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada di dalam dada semua manusia?” (QS. Al-Ankabūt: 10)

Berakhlak baik terhadap penduduk

Kita memiliki kewajiban mendakwahi. Kita bisa mencontoh metode Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara ta’liful qulub, yaitu melunakkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi kambing satu jurang kepada Arab Badui yang kafir dan bersikap kurang ajar. Kemudian orang Arab Badui tersebut berkata tentang apa yang dialami kepada kaumnya dan membujuk mereka masuk Islam. Alasannya, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi infak (hadiah) kepadanya banyak sekali dan tidak takut miskin. Ini adalah salah karena orang Badui tersebut mendapatkan hidayah.

Anas bin Malik mengatakan bahwa meskipun awalnya orang Arab Badui tersebut masuk Islam karena harta, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mendidiknya sehingga Islam lebih dia cintai daripada dunia dan seisinya.

Oleh karena itu, berilah hadiah kepada tetangga di sekitar yang statis berbeda pemahaman dengan Ahlussunnah, semoga menjadi salah satu cara untuk melunakkan hati mereka.

Tetap aktif mengikuti aktivitas penduduk yang tidak bertentangan dengan syariat

Misalnya, ada aktivitas kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar, menjenguk tetangga yang sedang kesusahan, menjaga keamanan, alias yang lain, hendaknya kita ikuti untuk mendekatkan diri terhadap penduduk di sekitar.

Wallahu Ta’ala a’lam.

***

Penulis: Khusnul Rofiana

Artikel Kincai Media

Referensi:

Kajian Urgensi Mempelajari Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, oleh Ustadz Sofyan Chalid Ruray, Lc.

Artikel Lainnya Islami Muslimah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads