Bulan Jumadil Awal merupakan bulan kelima dalam kalender Hijriyah yang menyimpan sejumlah anotasi sejarah krusial dalam perjalanan Islam. Bulan yang eksis setelah Rabiul Akhir ini menjadi momentum untuk mengenang beragam peristiwa berhistoris sekaligus memungut hikmah dari perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam menyebarkan doktrin Islam.
Untuk diketahui, bulan Jumadil Awal 1448 Hijriah pada tahun 2026 dimulai pada 12 Oktober sampai 11 November 2026.
Satu di antara banyak pristiwa krusial pada bulan Juamadil Awal adalah pernikahan Nabi Muhammad SAW saat berumur 25 tahun dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid yang telah berumur 40 tahun.
Thabaqat Al-Kubra karya Ibnu Sa’ad meriwayatkan, pernikahan mulia antara Nabi Muhammad SAW dan Sayyidah Khadijah terjadi pada bulan Jumadil Awal di Makkah, sekitar 15 tahun sebelum turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua individu, namun menjadi pondasi dan landasan terkuat pendukung dakwah Islam di fase-fase mula kenabian, hingga menghadirkan keturunan-keturunan mulia Nabi Muhammad SAW dan Sayyidah Khadijah. Serta menjadi contoh terbaik dalam membangun rumah tangga yang dipenuhi keridhaan Allah SWT.
Sebelum pernikahan itu berlangsung, Nabi Muhammad SAW sudah populer di seluruh Makkah dengan gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya) berkah kejujuran, kesucian moral, dan integritasnya.
Sementara itu, Sayyidah Khadijah adalah seorang perempuan bangsawan Quraish yang kaya raya dan dihormati, dengan upaya yang sukses. Ia dijuluki At-Thahirah (wanita yang suci) karena berhasil menjaga kehormatannya di tengah penduduk pra-Islam (Jahiliyyah).
Mendengar kejujuran dan adab mulianya, Sayyidah Khadijah memilih Nabi Muhammad SAW untuk mengelola barang dagangannya ke Suriah. Setelah menyaksikan sendiri sepertiapa ia mengutamakan moral dan berkah dalam urusan bisnisnya melalui asistennya, Maisarah, Khadijah menyampaikan keinginannya untuk menikah dengannya melalui temannya, Nafisah binti Munabbih.
Pernikahan tersebut terjadi dengan kehormatan dan restu penuh dari kedua keluarga. Paman Nabi, Abu Thalib, menyampaikan khutbah pernikahan, memuji kemuliaan akhlak, silsilah, dan keistimewaan Nabi Muhammad SAW di depan para figur Quraish, dikutip dari beragam sumber literatur Islam.
Mahar yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidah Khadijah adalah 20 ekor unta betina muda. Pernikahan yang terjadi pada bulan Jumadil Awal ini membangun rumah tangga yang ceria dan harmonis selama 25 tahun, di mana Nabi Muhammad SAW tidak menikahi perempuan lain selama Sayyidah Khadijah statis hidup.
Sayyidah Khadijah merupakan tiang penopang cinta dan perjuangan dalam misi kenabian Nabi Muhammad SAW. Peran Sayyidah Khadijah dalam hayat Nabi Muhammad SAW benar-benar tidak tertandingi.
Sayyidah Khadijah merupakan penenang di masa krisis bagi Nabi Muhammad SAW setelah menerima wahyu pertamanya di Gua Hira dalam keadaan gemetar dan ketakutan. Sayyidah Khadijah adalah orang pertama yang memeluk, menenangkan, dan menguatkan Nabi Muhammad SAW.
Sayyidah Khadijah juga merupakan As-Sabiqunal Awwalun, orang maupun himpunan pertama yang memeluk Islam, mengabdikan seluruh dirinya untuk perjuangan tersebut. Seluruh harta dan upaya beliau turut dikerahkan untuk mendukung Nabi Muhammad SAW dalam perjuangan Islam, terutama selama suku Quraish di Shayb al-Abas berbuat boikot terhadap umat Islam.