Kalau Masih Maksiat, Buat Apa Shalat?

Bincang Syariah oleh Waktu baca 6 menit 508x dilihat
Kalau Masih Maksiat, Buat Apa Shalat?

Bagikan Postingan

Kalau Masih Maksiat, Buat Apa Shalat?Kalau Masih Maksiat, Buat Apa Shalat?

Kincai Media– Ada jenis pertanyaan yang tampaknya religius, tetapi justru bisa menjerumuskan orang semakin jauh dari agama: “Untuk apa saya shalat jika tetap suka maksiat?”

Pertanyaan itu biasanya muncul dari seseorang yang sedang merasa bersalah. Ia tahu dirinya belum baik. Ia tetap berbohong, tetap marah, tetap tergoda melakukan sesuatu yang dilarang. Ia lampau memandang shalatnya sendiri dengan curiga: bukankah munafik namanya, pagi bersujud kepada Allah, malamnya melakukan dosa?

Dari kegelisahan semacam itu, seseorang bisa sampai pada konklusi yang keliru: jika tetap melakukan dosa, untuk apa shalat? Maka dia mulai berpikir untuk meninggalkan shalat.

Di titik inilah, menurut Gus Baha, justru terjadi kesalahan yang lebih besar. “Apa artinya shalat jika kita tetap melakukan kemungkaran?” Menurutnya, itu salah besar. Shalat tetap wajib, apalagi ketika seseorang tetap bergulat dengan maksiat.

Sebab, kata Gus Baha, jangan sampai dosa membikin seseorang kehilangan satu-satunya tanda bahwa dia tetap mengakui dirinya sebagai hamba Allah.

Kita sering membayangkan manusia berakidah secara terlalu sempurna, seolah-olah seseorang kudu menjadi baik terlebih dulu sebelum layak beribadah, alias seolah-olah orang yang tetap berdosa tidak layak berdiri di hadapan Tuhan.

Padahal, siapa yang sebenarnya bebas dari dosa? Jika syarat untuk shalat adalah kudu menjadi manusia tanpa dosa, mungkin saf masjid bakal jauh lebih sepi.

Manusia bukan malaikat. Ia jatuh, bangun, lampau jatuh lagi. Ia menyesal, kemudian mengulangi kesalahan yang sama. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk berubah, tetapi pada suatu hari mendapati dirinya kembali berada di lubang yang sama.

Namun, selama dia tetap shalat, ada satu perihal yang belum berubah: dia tetap mengakui siapa Tuhannya. Bagi Gus Baha, pengakuan itu bukan perkara kecil. Orang yang shalat, sesungguhnya sedang mengatakan,

“Saya hamba-Mu, ya Allah.” Ia seperti sedang menegaskan kembali sebuah perjanjian: saya mungkin belum menjadi hamba yang baik, tetapi saya tidak menyangkal bahwa Engkau adalah Tuhanku.

Saya mungkin tetap melakukan dosa, tetapi saya tidak memutus hubungan dengan-Mu. Saya mungkin kalah oleh hawa nafsu, tetapi saya tidak memindahkan Tuhan dari tempat-Nya. Di situlah shalat mempunyai makna yang lebih dalam daripada sekadar aktivitas berdiri, rukuk, dan sujud. Shalat adalah deklarasi kehambaan.

Karena itu, ada kekeliruan ketika seseorang berkata, “Saya tetap maksiat, jadi percuma shalat.” Tidak. Justru lantaran tetap maksiat, jangan tinggalkan shalat. Dosa tidak menjadi legal lantaran seseorang shalat.

Tetapi dosa juga tidak membikin shalat menjadi tidak wajib baginya. Keduanya kudu diletakkan pada tempatnya: maksiat tetap maksiat, shalat tetap shalat. Yang satu kudu ditinggalkan, sementara yang lain kudu dipertahankan.

Jangan membatalkan ketaatan hanya lantaran belum sukses meninggalkan kemaksiatan. Sebab manusia sering membikin kesalahan kedua setelah melakukan kesalahan pertama.

Ia berdosa, lampau lantaran merasa dirinya pendosa, dia meninggalkan shalat. Ia jatuh sekali, kemudian memilih untuk tidak bangun. Padahal, mungkin yang diminta Allah bukan kesempurnaan manusia, melainkan agar manusia tidak berakhir kembali.

Ada perbedaan besar antara orang yang berdosa tetapi tetap pulang dan orang yang berdosa lampau memutuskan untuk tidak pulang. Shalat adalah salah satu corak kepulangan itu. Lima kali sehari manusia dipanggil untuk meninggalkan sejenak urusan dunia. Ia berwudu, berdiri menghadap kiblat, lampau mengucapkan takbir: Allahu Akbar.

Allah Mahabesar.

Kalimat itu semestinya membikin seorang pendosa ingat bahwa sebesar apa pun kesalahannya, Tuhan tetap lebih besar daripada kesalahannya. Ia kemudian bersujud. Dalam posisi paling rendah secara bentuk itu, manusia justru sedang mengakui sesuatu yang paling tinggi secara spiritual: saya bukan Tuhan. Aku hanya hamba.

Dan mungkin inilah yang sering kita lupakan. Maksiat bisa membikin seseorang jauh dari Allah. Tetapi jangan sampai rasa bersalah membuatnya merasa bahwa pintu Allah sudah tertutup. Al-Qur’an justru memerintahkan manusia untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Allah berfirman dalam Surah az-Zumar ayat 53:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ۝٥٣

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui pemisah terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”

Ada sesuatu yang menarik dalam ayat ini. Allah memanggil orang-orang yang telah “melampaui pemisah terhadap dirinya sendiri” dengan julukan ‘ibādī, “hamba-hamba-Ku”. Mereka adalah orang-orang yang telah melakukan kesalahan, tetapi Allah tetap menyebut mereka sebagai hamba-Nya. Seolah-olah kesalahan manusia tidak boleh menjadi argumen untuk memutuskan hubungan dengan Allah.

Karena itu, ketika Gus Baha mengatakan bahwa orang yang shalat sedang mempertahankan statusnya sebagai hamba, pendapat tersebut menemukan konteks yang kuat dalam aliran Al-Qur’an. Seseorang boleh saja belum menjadi hamba yang baik, tetapi jangan sampai dia mencabut pengakuannya bahwa Allah adalah Tuhannya.

Gus Baha mengingatkan bahwa dengan shalat, seseorang setidaknya tidak sedang melawan ketentuan Allah dalam perkara yang satu itu. Ia sedang menjalankan kewajiban. Ia sedang mempertahankan statusnya sebagai hamba.

Pengakuan sebagai hamba itulah yang penting. Sebab kelak, ketika manusia berambisi kepada rahmat Allah dan syafaat Rasulullah ﷺ, dia datang bukan sebagai manusia yang mengaku dirinya suci, melainkan sebagai hamba yang tidak pernah mencabut pengakuannya bahwa Allah adalah Tuhannya.

Tentu saja, ini bukan pembenaran bagi kemaksiatan. Jangan salah memahami. “Kalau begitu, maksiat saja terus, toh tetap shalat.” Bukan itu maksudnya. Orang yang memahami shalat sebagai pengakuan kehambaan justru semestinya merasa semakin malu kepada Allah. Bagaimana mungkin seseorang baru saja bersujud kepada-Nya, kemudian dengan sengaja melanggar perintah-Nya?

Tetapi rasa malu itu kudu diarahkan untuk memperbaiki diri, bukan untuk meninggalkan shalat. Jika seorang pencuri berkata, “Saya tidak layak shalat lantaran saya pencuri,” kita tidak boleh menjawab, “Benar, jangan shalat.” Kita justru kudu mengatakan: tinggalkan mencurinya, jangan tinggalkan shalatnya.

Begitu pula jika seorang pembohong mau berubah, jangan suruh dia menunggu sampai menjadi manusia jujur untuk mulai beribadah. Jika seorang pemabuk mau kembali kepada Allah, jangan katakan bahwa dia kudu bersih terlebih dulu sebelum bersujud.

Suruh dia berakhir dari maksiat itu dan tetap shalat. Sebab, barangkali, salah satu jalan keluar dari gelap memang bukan dengan menunggu sinar datang, melainkan dengan terus melangkah ke arah cahaya.

Shalat mungkin belum langsung membikin seseorang menjadi suci. Tetapi dia menjaga seseorang agar tidak sepenuhnya kehilangan hubungan dengan kesucian. Ia seperti tali. Orang yang jatuh tetap bisa diselamatkan selama tangannya belum melepaskan tali itu. Karena itu, jangan gunakan dosa sebagai argumen untuk meninggalkan shalat.

Namun, jangan pula gunakan shalat sebagai argumen untuk mempertahankan dosa. Keduanya sama-sama keliru. Yang betul jauh lebih sederhana: tinggalkan dosanya, pertahankan shalatnya.

Sebab manusia tidak selalu kuat. Ia bisa kalah hari ini dan menang besok. Bisa menang hari ini lampau kalah lagi lusa. Yang penting, setiap kali kalah, dia tetap tahu ke mana kudu kembali.

Barangkali di situlah salah satu makna terdalam shalat: bukan tanda bahwa seseorang sudah selesai dengan dosa-dosanya, melainkan tanda bahwa dia belum menyerah kepada dosa-dosanya. Ia tetap berdiri. Ia tetap bersujud. Ia tetap mengakui Allah sebagai Tuhannya. Dan selama itu pula, dia tetap mempunyai jalan untuk pulang.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads