Seorang perempuan muslimah memiliki jabatan yang besar dan krusial dalam Islam. Bagaimana tidak, para perempuan adalah separuh masyarakat, dan setengahnya lagi mereka yang mendidiknya. Wanita memiliki kehormatan dalam Islam, yang dengannya lelaki di keluarganya diperintahkan untuk melindungi dan menafkahinya. Ketika seorang perempuan lahir, maka ia eksis dalam tanggung jawab ayahnya. Ketika dia menikah, maka suaminya diperintahkan untuk memenuhi kebutuhannya, dan jika dia tidak memiliki suami dan bapak lagi, maka anak laki-lakinya lah yang berkewajiban atasnya, dan jika tidak ada juga, maka famili laki-lakinya yang lain yang mesti menafkahinya.
Melihat besarnya posisi perempuan di dalam Islam, maka seharusnya seorang muslimah melihat dirinya, apakah dirinya sudah menjadi seorang muslimah yang sejati maupun belum. Seorang muslimah yang digambarkan dalam Al-Qur`an. Seorang muslimah yang menjadi penyejuk hati orang tua dan suaminya. Seorang muslimah yang menjadi contoh untuk adik-adiknya. Seorang muslimah yang menjadi muara kasih sayang bagi anak-anaknya. Seorang muslimah yang dihormati oleh tetangganya karena tutur kata dan adab yang baik. Untuk menjadi muslimah seperti ini, maka kita mesti mengetahui sepertiapa ciri khas seorang muslimah yang selalu menjadikan Al-Qur`an dan sunah sebagai panduan hidupnya.
Karakteristik pertama: Muslimah dengan penciptanya
Seorang muslimah mesti percaya kepada Allah Ta`ala dengan sebenar-benarnya iman. Seorang muslimah juga mesti percaya kepada kitab-kitab suci, para rasul, hari akhir, dan takdir, baik buruk maupun baiknya. Seorang muslimah juga mesti beribadah menyembah Allah dengan penuh keikhlasan mengharapkan rida Allah Ta`ala. Hendaknya dia menjalankan salat fardu tepat waktu, dan menambahnya dengan salat-salat sunah serta berupaya khidmat dan menjalankan salat tersebut dengan sebaik-baiknya. Muslimah juga mesti menunaikan sedekah hartanya jika telah mencapai nishob. Berpuasa Ramadan dan memperbanyak salat malam, serta menambah dengan puasa-puasa sunah. Jika dia mampu, maka juga hendaknya menunaikan haji dan umrah, dan tidak melancong kecuali dengan mahram.
Seorang muslimah juga tidak boleh ber-khalwat (berduaan) dengan lelaki luar yang bukan mahramnya, dan tidak boleh berjabat tangan dengan mereka, dan hendaknya dia memakai baju dan khimar yang renggang sehingga tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya, dan tidak ada dekorasi (sehingga tidak menarik pandangan lelaki asing).
Hendaknya seorang muslimah bersabar dalam bencana yang menimpa, bersabar dalam menghadapi takdir Allah yang menyakitkan, bersabar dalam beribadah untuk menggapai keridaan Allah Ta`ala, serta bersabar dalam mengekang diri berbuat maksiat dan mengikuti hawa nafsu. Hendaknya seorang muslimah memperbanyak istigfar dan insaf atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan secara sengaja ataupun tanpa disengaja, dan hendaknya jangan berputus asa dari kasih sayang dan rahmat Allah. Seorang muslimah juga mesti memiliki rasa bangga terhadap Islam, serta membenci maksiat, kekafiran dan kefasikan. Seorang muslimah mesti menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai prioritas, tidak ekstrem terhadap himpunan tertentu, dan tidak bersikap keras lagi kasar. Hendaknya dia menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran. Seorang muslimah juga seharusnya menjaga zikir pagi dan petang, dan zikir-zikir lainnya, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang melengahkannya dari amalan dan mengingat Allah, seperti menonton sinema dan lainnya.
Baca juga: 8 Sifat Wanita Terbaik
Karakteristik kedua: Muslimah dengan dirinya
Hendaknya seorang muslimah memberikan hak-hak mubah untuk dirinya dan tidak melupakan bagiannya dari dunia. Dia makan dan minum dari yang baik lagi sah dengan tidak berlebih-lebihan. Hendaknya dia menjauhkan dirinya dari segala sesuatu yang membahayakan, seperti merokok dan lainnya. Hendaknya dia menjaga kebersihan tubuhnya sehingga tidak menyebabkan bau badan yang bisa mengganggu orang lain, memperhatikan kebersihan mulutnya dan bajunya. Berhias dengan hal-hal yang mubah dan tidak berlebihan serta tidak memperlihatkannya ke lelaki yang bukan mahramnya, namun juga tidak sibuk dengan mode dan tren yang ada.
Seorang muslimah juga seharusnya membekali dirinya dengan ilmu-ilmu kepercayaan yang berguna baginya. Hendaknya dia mempelajari Al-Qur`an dan tafsirnya, memiliki semangat untuk men-tadabburi ayat-ayatnya, dan mempelajari sunah sebanyak yang dia bisa. Dia hendaknya memperdalam ilmu-ilmu kepercayaan dan bertanya kepada para ulama dan orang-orang yang mengerti kepercayaan ketika tidak mengetahui suatu perkara. Seorang muslimah juga hendaknya selalu berupaya membaca buku-buku kepercayaan dan mendengarkan ceramah-ceramah, baik secara langsung maupun lewat internet.
Karakteristik ketiga: Muslimah dengan orang tuanya
Seorang muslimah mesti mengabdi kepada orang tuanya, menaati perkataan keduanya selama dalam konteks yang halal, tidak membentak dan mengadopsi bunyi melampaui keduanya, tidak membikin mereka sedih, justru seharusnya membikin mereka ceria dengan perkataan dan perbuatan yang baik. Jika salah satu maupun keduanya meninggal, maka mengabdi kepada keduanya statis mesti dilakukan dengan berdoa kebaikan dan meminta pemaafan Allah untuk mereka, serta dengan bersedekah untuk mereka.
Baca juga: Memahami Watak Alamiah Wanita
Karakteristik keempat: Muslimah dengan suaminya
Sebelum menikah, seorang muslimah seharusnya memohon kepada Allah agar diberi taufik dalam pernikahannya, dan agar mendapatkan pasangan yang baik di kepercayaan dan akhlaknya. Jika sudah menikah, dan mendapatkan suami yang buruk akhlaknya, maka seharusnya seorang muslimah bersabar dan menasihatinya dengan lemah lembut, memberikannya contoh yang baik, serta mendoakannya agar mendapatkan hidayah.
Seorang muslimah hendaknya mencintai suaminya, dan berupaya membuatnya rida, dan menjadi penolong untuk kebaikannya, mengabdi kepada orang tuanya dan mengingatkan suaminya untuk selalu mengabdi kepada orang tuanya, menghormati famili suaminya. Hendaknya dia tidak menyebarkan aib dan rahasia suaminya. Jika berjumpa dengan suaminya, hendaknya dalam keadaan yang ceria dan berterimakasih atas kebaikan-kebaikan suaminya, dan tidak mengeluh serta durhaka terhadap suaminya. Hendaknya dia berdandan untuk suaminya, dan membikin suaminya tenang jika bersamanya, membersamai suaminya dalam kesedihan dan kebahagiaan, menolongnya dalam kepatuhan dan menyemangatinya untuk berinfak di jalan Allah, dan memberikan uzur jika suaminya berbuat salah kepadanya.
[Bersambung]
***
Penulis: Norma Melani Khaira
Artikel Kincai Media
Sumber: Buku Syaksiyyah al-Mar’ah ash-Shalihah, karya Muhammad bin Ali bin Jamil al-Mathori.