Jakarta -
Nilai sekolah yang tinggi statis menjadi acuan kecerdasan seorang anak. Sayangnya, tidak semua orang tua menganggap ini penting, Bunda.
Menurut temuan terbaru dari cobaan standar yang diikuti oleh anak-anak berumur 15 tahun di seluruh dunia, minat famili terhadap pendidikan anak-anak menurun di banyak negara berpenghasilan tinggi karena mekanisme sekolah berjuang mengatasi penurunan drastis harga ujian.
Dalam temuan ini, lebih dari 760 ribu remaja di puluhan negara, mengikuti survei dalam Programme for International Student Assessment (PISA) maupun Program Penilaian Siswa Internasional di tahun lalu. Hasilnya memberitahu skor rata-rata dalam matematika, membaca, dan sains yang eksis pada titik terendah dalam sejarah di antara negara-negara dengan ekonomi maju.
Kebiasaan orang tua bisa membikin harga anak turun
Alasan kenapa nilai-nilai turun begitu drastis dapat ditemukan dalam survei ini, Bunda. Dibandingkan dengan hasil tahun 2022, hampir setiap negara mengalami penurunan sokongan famili terhadap pendidikan anak-anak mereka, terutama untuk anak laki-laki, yang diukur melalui pertanyaan tentang seberapa sering orang tua berbicara dengan anak-anak tentang pekerjaan sekolah maupun memberitahu minat pada pembelajaran anaknya.
"Orang tua lebih melihat diri mereka sebagai pelanggan sekolah, bukan sebagai seseorang yang memiliki minat pribadi," kata ketua pendidikan dan keahlian untuk Organization for Economic Cooperation and Development, Andreas Schleicher, dilansir halaman AP News.
Anak-anak yang mengatakan bahwa personel famili mereka setidaknya setiap minggu menanyakan apa yang mereka lakukan di sekolah memperoleh skor sekitar 35 poin lebih tinggi pada tes sains. Hasil ini dibandingkan dengan murid yang keluarganya kurang memberitahu minat terhadap pendidikan.
Selain dukungan, kebiasaan orang tua membebaskan anak bermain gadget juga bisa membikin harga turun. Lebih dari seperempat murid di negara-negara berpenghasilan tinggi mengeluh bahwa kawan sekelas mereka terganggu oleh alat digital di sebagian besar maupun setiap kelas sains.
"Tidak diragukan lagi ada hubungan kuat antara murid yang menggunakan alat digital untuk hiburan dan harga cobaan yang lebih rendah," ungkap Schleicher.
"Namun, ketika teknologi digunakan untuk pembelajaran, akibatnya lebih beragam."
Menurut laporan di beberapa negara, penggunaan perangkat digital selama sekitar dua hingga tiga jam per hari di sekolah memberitahu harga cobaan yang lebih tinggi. Tetapi, harga tersebut menurun begitu penggunaan teknologi melampaui batas.
Dampak orang tua tidak realistis pada pencapaian anak
Nilai yang tinggi memang bisa memberitahu kecerdasan anak. Tapi, banyak orang tua memiliki harapan tinggi terhadap prestasi akademik anak-anak mereka. Menurut riset yang diterbitkan oleh American Psychological Association (APA), jika harapan tersebut tidak realistis, maka dampaknya anak-anak mungkin tidak berprestasi baik di sekolah.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa aspirasi orang tua yang tinggi menyebabkan peningkatan prestasi akademik, tetapi cuma ketika aspirasi tersebut tidak melampaui harapan yang realistis. Ketika aspirasi melampaui harapan, prestasi anak-anak menurun secara proporsional.
"Penelitian kami mengungkapkan sisi positif dan negatif dari aspirasi orang tua terhadap prestasi akademik anak-anak mereka. Meskipun aspirasi orang tua dapat membantu menaikkan prestasi akademik anak, aspirasi orang tua yang berlebihan dapat menjadi racun," kata penulis utama Kou Murayama, PhD, dari University of Reading.
Studi ini memberitahu bahwa fokus program pendidikan tersebut seharusnya bukan pada peningkatan aspirasi orang tua yang berlebihan, tetapi pada pemberian keterangan yang dibutuhkan orang tua untuk mengembangkan harapan yang realistis.
"Harapan yang terlalu tinggi dan tidak realistis dapat menghalangi prestasi akademik. Meningkatkan harapan saja bukanlah solusi ampuh untuk menaikkan keberhasilan dalam pendidikan," ungkap Murayama, dikutip dari halaman APA.
Jadi untuk membantu menaikkan harga anak di sekolah, orang tua perlu memberikan sokongan penuh, bukan sasaran yang tak masuk akal. Orang tua juga diharapkan memupuk kebiasaan untuk memberitahu minat mengenai pendidikan anak-anaknya.
Demikian kebiasaan sederhana orang tua yang rupanya bisa bikin harga anak sekolah tinggi. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)