Jakarta -
Kata orang, trauma masa mini bisa membekas hingga dewasa. Bahkan, pada sebagian orang, pengalaman traumatis di masa mini dapat memengaruhi langkah berpikir, mengelola emosi, hingga membangun hubungan dengan orang lain.
Trauma masa mini bisa berasal dari beragam pengalaman. Tidak hanya akibat kekerasan fisik, emosional, alias seksual, tetapi juga ketika anak mengalami alias menyaksikan peristiwa yang menakut-nakuti keselamatan, seperti musibah alam, kecelakaan, kekerasan di lingkungan, maupun kehilangan orang yang disayangi.
Namun, krusial dipahami bahwa tidak semua orang yang mengalami trauma masa mini bakal menunjukkan karakter alias mengalami gangguan psikologis yang sama.
Respons setiap orang terhadap trauma dapat berbeda-beda, tergantung pada beragam faktor, seperti usia saat mengalami trauma, tingkat keparahan peristiwa, support dari family alias orang terdekat, serta pengalaman hidup setelahnya.
Karakter yang sering dikaitkan dengan trauma masa kecil
Trauma masa mini tidak langsung membentuk satu jenis kepribadian tertentu. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengalaman traumatis dapat memengaruhi langkah seseorang berasosiasi dengan orang lain, mengelola emosi, dan memandang dirinya sendiri.
Dampak trauma masa mini dapat memperkuat hingga dewasa dan memengaruhi kesehatan mental maupun stabilitas emosional seseorang. Kondisi ini juga dapat memengaruhi langkah seseorang merespons tekanan dan menjalin hubungan dengan orang lain.
Beberapa karakter yang dapat muncul antara lain yang dilansir dari Very Well Mind:
1. Sulit mempercayai orang lain
Trauma masa mini dapat memengaruhi langkah seseorang membangun kepercayaan dan hubungan dengan orang lain. Orang yang pernah mengalami trauma di masa kecilnya dapat merasa lebih susah membangun rasa percaya terhadap orang lain, terutama jika trauma yang dialami berasal dari orang terdekat.
Akibatnya, mereka mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk merasa kondusif dalam suatu hubungan alias condong selalu waspada terhadap kemungkinan disakiti.
2. Harga diri yang rendah
Trauma masa mini juga dikaitkan dengan rendahnya rasa percaya diri alias nilai diri (low self-esteem). Akibatnya, sebagian orang mungkin lebih sering menyalahkan diri sendiri, merasa tidak cukup baik, alias kesulitan memandang sisi positif dari dirinya.
3. Kesulitan mengelola emosi
Trauma masa mini dapat berakibat hingga dewasa, termasuk pada kesehatan mental dan stabilitas emosional. Sebagian orang mungkin lebih rentan mengalami depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), alias gangguan suasana hati. Namun, tidak semua penyintas trauma mengalami kondisi tersebut.
4. Cenderung mengalami kesulitan dalam membangun hubungan yang dekat
Trauma masa mini dapat memengaruhi langkah seseorang menjalin hubungan dengan orang lain hingga dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengalami trauma masa mini lebih mungkin mempunyai style keterikatan (attachment style) yang tidak aman, seperti resah (anxious attachment) alias mengelak (avoidant attachment).
Akibatnya, sebagian orang mungkin merasa lebih susah membangun kedekatan emosional, sementara sebagian lainnya condong cemas bakal ditinggalkan dalam suatu hubungan.
Dampak trauma masa mini terhadap kesehatan
Selain dapat memengaruhi hubungan sosial, trauma masa mini juga dikaitkan dengan meningkatnya akibat beragam masalah kesehatan mental dan bentuk di kemudian hari.
Melansir Verywell Mind yang mengutip podcast Cleveland Clinic, orang dewasa yang pernah mengalami trauma saat masa kanak-kanak lebih berisiko mengalami depresi, gangguan suasana hati, hingga munculnya pikiran untuk bunuh diri. Mereka juga dilaporkan lebih rentan menyalahgunakan alkohol maupun unsur adiktif lainnya.
Tidak hanya itu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengalaman traumatis di masa mini juga berangkaian dengan meningkatnya akibat penyakit kronis, seperti glukosuria dan penyakit jantung, saat dewasa.
Para mahir menjelaskan bahwa peningkatan akibat tersebut diduga dipengaruhi oleh beragam faktor. Salah satunya adalah kecenderungan sebagian penyintas trauma untuk melakukan perilaku yang berakibat jelek untuk kesehatan, seperti merokok. Namun, hubungan ini berkarakter kompleks dan tetap terus diteliti.
Kapan perlu mencari bantuan?
Tidak semua orang yang mengalami trauma masa mini memerlukan terapi. Namun, support ahli dapat dipertimbangkan jika pengalaman tersebut terus memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Misalnya menyebabkan kesulitan menjalin hubungan, mengganggu pekerjaan alias aktivitas, memicu kekhawatiran maupun kesedihan yang berkepanjangan, alias menghadirkan kembali kenangan traumatis yang susah dikendalikan.
Psikolog alias psikiater dapat membantu mengidentifikasi akibat trauma serta memberikan penanganan yang sesuai, seperti psikoterapi, untuk membantu seseorang membangun strategi koping yang lebih sehat.
Para mahir juga mengingatkan bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk mencari bantuan. Dengan support yang tepat, seseorang dapat belajar memahami pengalaman traumatis sekaligus mengembangkan langkah yang lebih sehat dalam mengelola emosi dan menjalani hubungan dengan orang lain.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·