Kenali Parentification, Saat Anak Dipaksa Dewasa dan Memikul Peran Orang Tua

May 17, 2026 09:00 PM - 2 bulan yang lalu 74124

Tidak semua anak bisa menikmati masa kecilnya dengan tenang. Ada anak yang sejak mini justru merasa kudu kuat, mengalah, dan mengurus banyak perihal di rumah.

Dalam beberapa keluarga, posisi anak dan orang tua bisa berubah tanpa disadari. Anak akhirnya mendapati dirinya menjadi penengah masalah, menjaga adik, hingga ikut memikirkan kondisi emosional orang tuanya.

Situasi ini dikenal dengan istilah parentification atau parentifikasi. Kondisi ini terjadi ketika anak memikul tanggung jawab yang semestinya menjadi tugas orang dewasa di rumah.


Psikolog klinis berlisensi di New York City, Becky Kennedy, menjelaskan bahwa anak yang mengalami parentification tumbuh dengan emosi bahwa kebutuhan dan emosinya sendiri merupakan sebuah ancaman.

"Anak belajar bahwa emosi dan kebutuhan mereka sendiri adalah ancaman," jelas Kennedy, dikutip dari laman Parents.

Karena terbiasa memendam perasaan, anak bisa jadi pribadi yang selalu mengutamakan orang lain dibanding dirinya sendiri. Simak selengkapnya berikut ini.

Jenis-jenis parentification

Dikutip dari laman Parents, parentification terjadi ketika orang tua terlalu berjuntai pada anak. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari satu juta anak muda di Amerika Serikat mengalami kondisi parentification.

Co-Direktur Program Terapi Kognitif-Perilaku Anak di Massachusetts General Hospital, Aude Henin, menjelaskan dalam hubungan yang sehat, orang tua semestinya menjadi sosok yang merawat dan mendukung anak.

"Dalam hubungan orang tua-anak yang sehat, orang tua merawat anak dan menawarkan support instrumental (makanan, tempat tinggal, struktur harian) dan support emosional tanpa syarat (cinta, kasih sayang, bimbingan, aturan)," kata Henin.

Namun, ketika orang tua tidak bisa memberikan perihal tersebut, anak bisa mengambil alih peran yang bukan tanggung jawabnya. Akhirnya, mereka kudu menjaga dan merawat orang tuanya sendiri.

Menurut para ahli, parentification sendiri terbagi menjadi dua jenis, ialah emosional dan instrumental. Berikut penjelasannya:

Parentification emosional

Anak yang mengalami parentification emosional kerap terlibat dalam urusan emosi orang dewasa di rumah. Mereka bisa menasihati orang tua, meredakan bentrok keluarga, alias menghibur kerabat saat kesulitan.

Namun, mereka biasanya tidak mendapat support emosional yang sama dari orang tuanya. Psikolog Kennedy menjelaskan bahwa orang tua bisa saja justru menjadikan anak sebagai tempat curhat.

"Orang tua menceritakan rahasia kepada anak mereka alias mendatangi anak mereka untuk mendapatkan kenyamanan emosional, bukan sebaliknya," ujar Kennedy.

Parentification instrumental

Pada parentification instrumental, anak diberi tanggung jawab untuk mengerjakan beragam pekerjaan di rumah. Misalnya seperti bayar tagihan, memasak, shopping kebutuhan, mengatur janji dokter, hingga menyiapkan adik untuk sekolah.

Namun, tidak semua tugas rumah tangga bisa disebut parentification, Bunda. Co-Direktur Henin menjelaskan orang tua perlu memandang dua hal, ialah "kebutuhan siapa yang dipenuhi?" dan "apakah tugas itu sesuai dengan usia anak?".

Henin menambahkan memberikan tugas yang sesuai usianya justru baik untuk anak. Mengapa demikian? Hal ini bisa membantu anak untuk belajar tanggung jawab dan meningkatkan keterampilannya, Bunda.

"Memberikan tugas-tugas rumah tangga yang sesuai dengan usia anak adalah perihal yang sehat untuk membangun rasa kompetensi dan tanggung jawab serta meningkatkan keahlian mereka," kata Henin.

Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa tanggung jawab sesekali dalam situasi tertentu tetap wajar saja, misalnya saat orang tua sakit. Namun, berbeda dengan kondisi jika anak terus-menerus dibebani tugas layaknya orang dewasa.

Dampak negatif parentification terhadap anak

Mengurus tanggung jawab orang tua setiap harinya tentu bukanlah perihal yang mudah. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berakibat pada perkembangan mereka.

Psikolog Kennedy menjelaskan bahwa anak bisa tumbuh dengan kepercayaan yang "keliru" tentang dirinya sendiri.

"Anak-anak belajar bahwa kebutuhan dan emosi mereka sendiri merupakan ancaman bagi sistem keterikatan mereka, alias keselamatan mereka," jelas Kennedy.

Karena tidak mendapatkan "ruang" untuk mengekspresikan perasaannya, anak jadi terbiasa memendam semuanya sendiri. Mereka pun sering ragu dengan keahlian dirinya.

Tekanan yang terus-menerus ini juga bisa memicu masalah lain, Bunda. Mulai dari kecemasan, depresi, hingga gangguan kesehatan mental lainnya.

Lebih dari itu, parentification juga dikaitkan dengan perilaku agresif, masalah di sekolah hingga kesulitan dalam bersosialisasi. Dampak ini bisa berjalan lama dan tentu saja dapat berpengaruh pada kehidupan anak hingga dewasa.

Cara mengatasi parentification pada anak

Anak-anak yang mengalami parentification tidak selalu memerlukan perawatan yang khusus, Bunda. Namun jika mereka menderita pengaruh negatif, misalnya kekhawatiran alias depresi, ada baiknya berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental.

Biasanya, terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) alias terapi family menjadi pilihan untuk membantu kondisi ini. Henin menjelaskan bahwa semakin sigap hubungan orang tua dan anak yang tidak sehat dikenali, semakin baik pula hasilnya bagi anak.

"Semakin awal dinamika hubungan orang tua-anak yang tidak sehat dapat diidentifikasi, semakin baik bagi anak," kata Henin.

Ia juga menyampaikan pentingnya memandang kondisi family tanpa menyalahkan siapa pun. Setiap family biasanya sudah berupaya melakukan yang terbaik, meskipun hasilnya belum tentu maksimal.

"Penting untuk mendekati situasi ini tanpa menghakimi anak alias orang tua, dan menyadari bahwa family biasanya melakukan yang terbaik yang mereka bisa untuk mengatasi situasi tersebut, meskipun hasilnya tidak sehat," pungkasnya.

Itulah penjelasan mengenai parentification, ketika anak dipaksa dewasa dan memikul peran orang tua lebih sigap dari seharusnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya