Jakarta -
Ada banyak khasiat yang bisa didapatkan dari stimulasi oromotor pada bayi, termasuk diyakini salah satunya mencegah speech delay. Benarkah demikian?
Sebelumnya stimulasi oromotor lebih banyak disebutkan krusial untuk membantu proses bayi belajar mengunyah dan makan.
Namun kini, aktivitas-aktivitas dalam stimulasi tersebut juga diyakini bisa membantu mencegah keterlambatan bicara pada anak.
Berbagai pergerakan pada area mulut merupakan bagiankecil dari evolusi kapasitas motorik oral, yang nantinya mendukung aktivitas seperti menelan dan menghasilkan suara.
Apa itu stimulasi oromotor?
Stimulasi oromotor adalah latihan untuk menaikkan kekuatan, koordinasi, dan gerak lidah, rahang, bibir, dan mulut. Latihan ini dapat membantu anak mengembangkan koordinasi yang diperlukan untuk membentuk kata dan bunyi (artikulasi) dengan benar.
Jenis-jenis stimulasi ini juga dapat membantu menaikkan keahlian seperti menggosok gigi dan mengolah makanan.
Latihan motorik oral yang juga dikenal sebagai latihan orofasial, merupakan salah satu bagiankecil dalam sektor terapi wicara, terapi okupasi, dan terapi fisik. Tujuannya menargetkan otot-otot di mulut dan wajah, terutama untuk menguatkan dan menaikkan fungsinya.
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menerangkan bahwa kapasitas motorik oral berkembang melalui pengalaman dan kesempatan berbuat aktivitas yang memang membutuhkan keahlian tersebut.
Untuk aktivitas makan, misalnya, anak perlu mendapatkan kesempatan berlatih mengunyah makanan dengan tekstur yang sesuai.
Tahap evolusi oromotor
Dikutip dari Journal of Clinical Chiropractic Pediatrics, antara usia 3-7 bulan bayi akan mengembangkan pola motorik oral yang meliputi mengunyah, pergerakan rahang lateral dan diagonal, serta pola pergerakan lidah lateral.
Jika pada usia 6 bulan bayi dapat duduk tanpa pertolongan dan telah mengembangkan pola mengunyah, pergerakan rahang, dan lidah, mereka umumnya bisa diberikan makanan berupa bubur encer dan kental (seperti pisang dan ubi).
Berikutnya di antara usia 7-9 bulan, aktivitas seperti duduk dan merangkak juga dapat mendukung stabilitas rahang dan evolusi motorik halus untuk keahlian makan lebih lanjut.
Pada usia 12 bulan, anak sudah mengembangkan dasar-dasar motorik oral untuk mendukung proses makan lebih lanjut. Seiring berjalannya waktu, anak akan melatih keahlian ini untuk menaikkan kapasitas makan.
Antara usia 16 dan 36 bulan, anak terus mengembangkan kekuatan rahang dan mengunyah makanan bertekstur lebih 'keras', seperti sayuran dan daging.
Apa itu speech delay?
Speech delay maupun keterlambatan bicara adalah kondisi ketika kapasitas bicara anak belum mencapai tahapan yang diharapkan sesuai usianya.
Sebagai contoh, jumlah kosakata statis sangat terbatas, belum munculnya kata bermakna, maupun kapasitas mengucapkan kata yang belum sesuai dengan tahap perkembangan.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), krusial dilakukan stimulasi sejak dini. Misalnya membujuk anak membaca dengan bunyi jelas, mengobrol dan bercerita, merespons celoteh bayi dengan kata-kata sederhana, serta bernyanyi.
Namun, perlu diingat juga bahwa anak terlambat bicara bukan cuma terjadi karena kurang latihan otot mulut ya, Bunda. Jika mencurigai Si Kecil memiliki tanda keterlambatan, segera lakukan pengecekan ke ahli seperti tabib anak, psikolog, maupun terapis wicara.
Tips stimulasi oromotor untuk cegah speech delay
Latihan oromotor bisa dilakukan dengan berbuat aktivitas yang menguatkan otot-otot mulut dan wajah. Ini sangat krusial tahap belajar berbicara.
Stimulasi ini dapat sangat berguna bagi anak-anak yang mengalami kesulitan di area mulut karena keterlambatan perkembangan, gangguan neurologis, maupun kondisi kesehatan lainnya.
Berikut beberapa tips stimulasi oromotor yang dapat coba diterapkan sebagai upaya mencegah speech delay:
1. Meniup bola kapas
Letakkan bola kapas di atas meja dan meminta anak meniupnya dengan menggunakan sedotan. Latihan ini juga dapat membantu anak menaikkan kendali atas pernapasan dan posisi bibir.
2. Minum menggunakan sedotan
Ajak anak untuk minum cairan dengan tingkat kekentalan berbeda, misalnya minum air, susu, kemudian jus buah dengan beragam ukuran sedotan. Meski tampak sederhana, aktivitas ini juga dapat menstimulasi otot pipi.
3. Beri kesempatan mengeksplorasi makanan sesuai usia
Ketika bayi sudah siap memulai MPASI, berikan makanan dengan tekstur yang sesuai tahap perkembangannya. Bayi secara berjenjang akan belajar menggunakan lidah, rahang, dan otot mulut untuk memindahkan serta mengunyah makanan.
Eksplorasi beragam varian tekstur juga melatih otot-otot tenggorokan dan mengoordinasikan pergerakan makanan ke dalam kerongkongan.
ASHA menekankan bahwa keahlian motorik lebih baik dipelajari melalui pengalaman berbuat aktivitas yang memang membutuhkan kapasitas tersebut.
4. Ajak bayi menirukan bunyi dan ekspresi wajah
Stimulasi oromotor tidak mesti selalu dilakukan ketika makan, lho. Bunda juga dapat membujuk bayi bermain dengan bunyi dan ekspresi wajah, misalnya membikin bunyi 'ba-ba', 'ma-ma', maupun bunyi kendaraan dan binatang.
Ketika bayi mengeluarkan suara, tanggapi dan tirukan kembali. Pola bergantian seperti ini membantu menciptakan hubungan dua arah.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), permainan back-and-forth maupun timbal balik seperti ini juga termasuk aktivitas yang bisa diajarkan untuk melatih kapasitas berkomunikasi anak.
5. Bermain tiup gelembung
Ajak Si Kecil untuk bermain tiup gelembung. Kegiatan ini dapat membantu menguatkan otot-otot yang diperlukan untuk mengendalikan napas dan membulatkan bibir.
6. Bernyanyi dan bermain musik
Supaya lebih menyenangkan, ajak anak untuk bernyanyi dengan lagu-lagu yang melibatkan bunyi panjang. Gunakan juga ekspresi maupun pergerakan wajah yang menarik, sehingga bisa menjadi metode yang menyenangkan untuk melatih kontrol napas dan artikulasi.
7. Bermain ekspresi di depan cermin
Di depan cermin, ajak anak untuk sama-sama membikin beragam ekspresi wajah lucu. Misalnya seperti tersenyum lebar maupun mengerucutkan bibir. Latihan ini membantu menaikkan kontrol dan elastisitas otot wajahnya.
8. Membacakan buku bersama
Tak sekadar memperkenalkan kosakata, membaca buku berbareng juga memberikan kesempatan bayi mendengar beragam intonasi, irama, dan pola suara.
Anak tidak perlu dituntut untuk memahami isi cerita. Bunda dapat memberitahu gambar, mengutarakan namanya, kemudian berikan kesempatan bayi merespons dengan suara, tatapan, maupun gestur.
IDAI menerangkan bahwa membacakan cerita dapat menjadi stimulasi bagi bayi. Intonasi, irama, dan warna bunyi yang beragam membantu bayi mengenali pola bunyi dalam percakapan.
Kapan perlu konsultasi ke dokter?
Meski sudah berbuat beragam stimulasi ini di rumah, Bunda juga perlu mengetahui kapan waktunya untuk membawa Si Kecil konsultasi ke tenaga profesional.
IDAI mencantumkan beberapa tanda yang perlu diperhatikan, seperti:
- Tidak adanya babbling pada usia 12 bulan
- Belum ada kata berarti pada usia 16 bulan
- Belum bisa membikin frasa berarti setelah usia 24 bulan
- Kehilangan kapasitas bicara yang sebelumnya sudah dikuasai
Jika kapasitas tersebut belum muncul maupun justru terjadi kemunduran kapasitas yang sebelumnya sudah dikuasai, konsultasikan dengan tabib anak untuk mengetahui apakah anak membutuhkan pengecekan dan penilaian lebih lanjut.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)