Ketika Fitnah Mengguncang Madinah

Islami Muslimah oleh Waktu baca 7 menit 509x dilihat
Ketika Fitnah Mengguncang Madinah

Bagikan Postingan

Kisah ini bermulai dari seorang wanita mulia, ialah Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha, putri dari sahabat terbaik Rasulullah ﷺ dan khalifah pertama setelah beliau. Ia adalah sosok yang dikenal dengan kesucian, kecerdasan, dan kedudukannya yang tinggi di sisi Rasulullah ﷺ.

Namun, kemuliaan itu tidak membuatnya terlepas dari ujian. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mendapatkan ujian yang sangat berat ketika sebagian orang menuduhnya melakukan perbuatan biadab berbareng seorang sahabat yang saleh, ialah Shafwan bin Al-Mu‘aththal radhiyallahu ‘anhu. Tuduhan tersebut merupakan sebuah tuduhan besar yang mengguncang family Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin pada saat itu. Peristiwa ini dikenal dengan nama Haaditsatul Ifki, ialah kisah tersebarnya buletin bohong yang mencemarkan kehormatan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Kisah ini diriwayatkan oleh para mahir hadis, di antaranya Imam Al-Bukhari dan lainnya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

“Apabila Rasulullah ﷺ hendak melakukan perjalanan, beliau mengundi di antara istri-istrinya. Siapa pun yang keluar namanya dalam undian tersebut, maka dia bakal ikut berbareng Rasulullah ﷺ.

Pada suatu perjalanan, namaku keluar dalam undian. Ketika itu saya ikut berbareng Rasulullah  ﷺ. Untuk menemani beliau dalam Ghazwah Al-Muraisi. Setelah Ghazwah selesai, kami kembali ke Madinah. Saat perjalanan pulang, kami berakhir di sebuah tempat untuk beristirahat, kemudian saya keluar dari tandu (haudaj) untuk buang hajat. Ketika kembali, saya menyadari bahwa kalungku hilang, kemudian saya memutuskan untuk mencarinya. Ketika saya kembali, rupanya rombongan telah berangkat lantaran para pembawa tandu mengira saya tetap berada di dalam haudaj, sebab saat itu tubuhku tetap sangat ringan.

Aku kemudian tetap berada di tempat tersebut sembari berambisi rombongan bakal menyadari bahwa saya tertinggal. Tidak lama kemudian, datanglah seorang sahabat berjulukan Shafwan bin Al-Mu‘aththal radhiyallahu ‘anhu, yang bekerja melangkah di belakang pasukan untuk memeriksa jika ada sesuatu yang tertinggal. Ketika melihatku, Shafwan mengenaliku lantaran pernah melihatku sebelum turunnya tanggungjawab hijab. Ia kemudian berkata,

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn, istri Rasulullah ﷺ tertinggal.”

Shafwan hanya mengatakan demikian, kemudian Shafwan menundukkan untanya agar saya dapat menaikinya, dan dia melangkah menuntun unta tersebut hingga memasuki Madinah.”

Lantas apa yang terjadi di saat `Aisyah memasuki Madinah?

`Aisyah dan Shafwan memasuki Madinah di siang hari. Di saat itu, Rais Munafiqiin (pemimpin orang munafik) –Abdullah bin Ubay bin Salul- memandang kehadiran `Aisyah dan Shafwan, dan seketika itu terbesit rencana jahat dan kesempatan untuk memfitnah `Aisyah dan menyebarkan keburukan tentangnya.

Dia pun sontak berkata, “Wallahi, maa roaitu hadza, illa naala min hadzihi”, maksudnya adalah kinayah (kalimat kiasan) bahwa Shafwan bercabul dengan `Aisyah. Dan lantaran perkataannya ini, tersebarlah berita bahwa `Aisyah telah berzina. `Aisyah tidak mengetahui bahwa masyarakat Madinah membicarakan dirinya, dan sesampainya di Madinah, `Aisyah jatuh sakit. Karena buletin ini, `Aisyah merasakan ada perubahan pada sikap Rasulullah ﷺ pada dirinya, namun dia tidak mengetahui apa penyebabnya. Rasulullah ﷺ sebenarnya tidak mempercayai perihal tersebut, namun wahyu yang ditunggu untuk membersihkan nama `Aisyah tetap belum turun.

Dengan hati yang sesak, logika yang penuh pertanyaan, dan tubuhnya yang menahan sakit, `Aisyah pun meminta untuk pulang ke rumah orangtuanya. Ketika `Aisyah berbareng salah seorang sahabiyyah, dia pun mengabarkan `Aisyah apa yang terjadi, dan `Aisyah sangat terkejut tentang tuduhan besar yang menimpa dirinya.

Kemudian Rasulullah ﷺ mendatanginya dan berkata,

‘Wahai ‘Aisyah, telah sampai kepadaku buletin tentang dirimu begini dan begitu. Jika engkau memang tidak bersalah, maka Allah bakal membebaskanmu dari tuduhan itu. Namun, jika engkau telah melakukan suatu kesalahan, maka mohonlah maaf kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya. Karena seorang hamba yang mengakui kesalahannya lampau bertobat, maka Allah bakal menerima tobatnya.’

Mendengar perkataan Rasulullah ﷺ, air matanya berakhir mengalir hingga dia tidak merasakan satu tetes pun. Hatinya terasa begitu berat. Dia berbicara kepada ayahnya, Abu Bakar,

‘Jawablah Rasulullah ﷺ untukku.’

Namun Abu Bakar menjawab,

‘Demi Allah, saya tidak tahu apa yang kudu saya katakan kepada Rasulullah ﷺ.’

Kemudian dia meminta ibunya untuk menjawab, tetapi ibunya pun berkata,

‘Demi Allah, saya tidak tahu apa yang kudu saya katakan kepada Rasulullah ﷺ.’

Saat itu, dia tetap seorang gadis muda yang belum banyak membaca Al-Qur’an. Dia pun berkata,

‘Demi Allah, saya mengetahui bahwa kalian telah mendengar buletin ini hingga hati kalian terpengaruh dan kalian membenarkannya. Jika saya mengatakan bahwa saya tidak bersalah, kalian mungkin tidak bakal mempercayaiku. Namun, jika saya mengakui sesuatu yang sebenarnya Allah mengetahui bahwa saya tidak melakukannya, kalian pasti bakal mempercayaiku.

Demi Allah, saya tidak menemukan perumpamaan antara saya dan kalian selain seperti perkataan ayahnya Yusuf, ketika menghadapi ujian besar,

 فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗوَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ  

“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan hanya kepada Allah saya memohon pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)

Setelah itu, saya beralih dan berebahan di tempat tidurku. Saat itu, saya betul-betul percaya bahwa Allah mengetahui saya tidak bersalah dan Allah pasti bakal membebaskanku dari tuduhan tersebut.

Namun, demi Allah, saya tidak pernah menyangka bahwa Allah bakal menurunkan wahyu yang dibaca sepanjang masa untuk menjelaskan keadaanku. Aku merasa diriku terlalu mini untuk dibicarakan langsung oleh Allah melalui wahyu. Aku hanya berambisi Rasulullah ﷺ mendapatkan mimpi yang menjadi tanda dari Allah bahwa saya terbebas dari tuduhan itu.

Tetapi belum lama Rasulullah ﷺ duduk di tempatnya dan belum seorang pun dari keluargaku yang keluar, tiba-tiba wahyu turun kepada beliau. Keadaan Rasulullah ﷺ saat menerima wahyu sangatlah berat. Keringat berceceran dari tubuh beliau seperti butiran mutiara, meskipun saat itu hari sangat dingin. Hal itu menunjukkan beratnya wahyu yang Allah turunkan kepada beliau.

Setelah keadaan Rasulullah ﷺ kembali tenang, beliau tersenyum. Kalimat pertama yang beliau ucapkan adalah, ‘Wahai ‘Aisyah, sungguh demi Allah, Allah telah membebaskanmu.’

Ibuku kemudian berbicara kepadaku, ‘Berdirilah dan temui Rasulullah ﷺ.’

Namun saya menjawab, ‘Demi Allah, saya tidak bakal berdiri kepadanya. Aku hanya memuji Allah Yang Maha Agung.’

Kemudian Allah menurunkan ayat,

 اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ   

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa buletin bohong itu adalah dari golongan  kamu juga.” (QS. An-Nur: 11)

Ayat-ayat tersebut turun untuk menyatakan kesucian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan membersihkan namanya dari segala tuduhan.

Setelah turun ayat yang menyatakan kesucian dan terbebasnya ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari tuduhan tersebut, Nabi ﷺ menyampaikan buletin itu kepada kaum muslimin. Beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dari surah An-Nur, yang diturunkan untuk membebaskan ‘Aisyah dan juga awal mula disyariatkannya haddu al-qadzaf (hukuman had yang berupa cambukan sebanyak 80 kali cemeti untuk orang yang menuduh orang lain bercabul dan tidak bisa membawa empat orang saksi).

Kemudian Rasulullah ﷺ turun dari mimbar dan didatangkanlah dua orang laki-laki yang ikut menyebarkan tuduhan tersebut secara terang-terangan, ialah Hassan bin Tsabit dan Mistah bin Utsatsah, serta seorang wanita, ialah Hamnah binti Jahsy. Rasulullah ﷺ kemudian menegakkan balasan had qadzaf kepada mereka, lantaran telah terbukti bahwa tuduhan yang mereka sebarkan adalah sebuah kebohongan. Sedangkan yang pertama mengompori tuduhan ini tidak mendapatkan had qodzaf, disebabkan dia tidak menyampaikannya secara langsung, tetapi secara kinayah, dan azabnya ditunda sampai di hadapan Allah Ta’ala. Wallahu a`lam bis showwab.

Peristiwa Haditsul Ifki merupakan ujian yang sangat berat bagi ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Namun, dari kisah ini terlihat gimana Allah menjaga kehormatan hamba-Nya yang bersih, memenangkan kebenaran atas kebatilan, serta mengajarkan pentingnya tabayyun (mencari kebenaran saat mendapatkan berita, apalagi jika buletin tersebut berasal dari orang-orang fasik), menjaga lisan, dan tidak mudah mempercayai buletin tanpa bukti.

Kisah ini juga menunjukkan perhatian Islam dalam menjaga kehormatan manusia melalui penerapan ḥadd al-qadzaf. Hal ini menjadi pelajaran bahwa Islam melarang keras penyebaran tuduhan dan mengajarkan umatnya untuk berhati-hati dalam menyampaikan berita. Dan menjaga kehormatan manusia adalah salah satu maqoshid syari`ah (tujuan syariat).

***

Penulis: Hamna Khairatunnisa

Artikel Kincai Media

Referensi:

Kitab Taudiihu Al-Ahkaam min Buluughi Al-Maraam jilid keenam, karya Syekh Abdullah bin Abdirrahman Al-Bassam.

Artikel Lainnya Islami Muslimah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads