Ketika Gunung Api Erupsi, Inilah Doa yang Patut Dipanjatkan

Bincang Syariah oleh Waktu baca 3 menit 513x dilihat
Ketika Gunung Api Erupsi, Inilah Doa yang Patut Dipanjatkan

Bagikan Postingan

Ketika Gunung Api Erupsi, Inilah Doa yang Patut DipanjatkanKetika Gunung Api Erupsi, Inilah Doa yang Patut Dipanjatkan

Kincai Media– Berikut ini angan ketika gunung api erupsi. Pasalnya, langit Indonesia beberapa hari ini seperti mengirimkan pesan agar manusia kembali menundukkan kepala. Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan kegiatan erupsi. Abu vulkanik terbawa angin dan menyebar ke sejumlah wilayah.

Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu terpantau terdampak sebaran abu vulkanik. Aktivitas erupsi juga mengganggu penerbangan dan membikin sejumlah airport kudu menghentikan operasionalnya sementara demi keselamatan.

Badan Geologi mencatat kegiatan erupsi menerus Anak Krakatau mulai terjadi pada 5 September 2026, disertai bunyi gemuruh dan kejadian semburan lava (lava fountain). Gunung api yang berada di area Selat Sunda itu hingga sekarang berstatus Level III alias Siaga.

Abu boleh beterbangan ke mana-mana. Tetapi bagi seorang Muslim, musibah bukan sekadar peristiwa alam yang disaksikan dengan rasa takut. Ia juga menjadi momentum untuk mengingat sungguh lemahnya manusia di hadapan kekuasaan Allah.

Gunung yang tampak kokoh selama bertahun-tahun dapat bergolak dalam hitungan waktu. Langit yang semula bening dapat berubah kelabu. Jalan-jalan yang biasanya ramai dapat tertutup abu. Aktivitas manusia berakhir sejenak.

Di hadapan kekuatan alam seperti itu, manusia akhirnya menyadari: ada banyak perihal dalam hidup yang tidak dapat dikendalikan.

Karena itu, selain mengikuti petunjuk keselamatan dari pemerintah dan abdi negara kebencanaan, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, sedekah, dan kebaikan kebajikan.

Doa Tolak Bala ketika Musibah Datang

Salah satu angan yang dikenal luas di kalangan masyarakat Muslim Indonesia adalah angan memohon agar Allah mengangkat bala dan musibah. Doa ini terdapat dalam kitab Adzkar Imam Nawawi.

Berikut adalah referensi angan saat gunung erupsi jenis pertama:

اَللّٰهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ وَسِرِّ الْفَاتِحَةِ، يَا فَارِجَ الْهَمِّ، وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ، يَا مَنْ لِعِبَادِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ، يَا دَافِعَ الْبَلَاءِ يَا اَللَّهُ، وَيَا دَافِعَ الْبَلَاءِ يَا رَحْمَنُ، وَيَا دَافِعَ الْبَلَاءِ يَا رَحِيمُ

Allahumma bi haqqi al-Fatiha wa sirri al-fatiha, ya Farija al-hammi, ya Kasyifa al-ghammi, ya man li ibadihi yaghfiru ya yarhamu, ya dafi’a al-bala’u ya Allah, ya Dafi’a al-bala’u, ya rahman, ya dafial al balau ya rahim

Artinya: Ya Allah, dengan kebenaran Al-Fatihah dan rahasia Al-Fatihah, wahai Dzat yang menghilangkan kesusahan, wahai Dzat yang melenyapkan kesedihan, wahai Dzat yang mengampuni dan menyayangi hamba-Nya, wahai Dzat yang menolak bala, wahai Allah, wahai Dzat yang menolak bala, wahai Dzat Yang Maha Pengasih, wahai Dzat yang menolak bala, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

Yang kedua angan gunung api erupsi, adalah

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أعُوذُ بِكَ مِنَ الهَدْمِ وأعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي وأعُوذُ بِكَ مِنَ الغَرَقِ وَالحَرَقِ وَالهَرَمِ وَأعُوذُ بِكَ أن يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطانُ عِنْدَ المَوْتِ وأعُوذُ بِكَ أنْ أمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وأعُوذُ بِكَ أن أمُوتَ لَديغاً

Allâhumma innî a‘ûdzubika minal hadmi wa a‘ûdzubika minat taraddî wa a‘ûdzubika minal gharaqi wal haraqi wal harami wa a‘ûdzubika an yatakhabbathanîsy syaithânu ‘indal maut wa ‘aûdzubika an amûta fî sabîlika mudbiran wa a‘ûdzubika an amûta ladîghan

Artinya; “Ya Allah, sungguh saya berlindung kepada-Mu dari reruntuhan (longsor), dan saya berlindung pada-Mu dari tergelincir, dan saya berlindung pada-Mu dari tenggelam (banjir), terbakar, dan tak berdaya.

Dan saya berlindung pada-Mu andaikan syetan menjerumuskan padaku ketika bakal mati, dan saya berlindung pada-Mu andaikan meninggal dalam keadaan berbalik arah dari jalan-Mu (murtad), dan saya berlindung pada-Mu andaikan meninggal lantaran disengat. (HR Abu Daud).

Doa ketika gunung api erupsi tersebut diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud no. 1552. Lafalnya mencakup permohonan perlindungan dari reruntuhan (al-hadm), terjatuh (at-taraddi), tenggelam, kebakaran, dan beberapa corak kematian lainnya.

Karena itu, angan ini sangat relevan untuk diamalkan ketika seseorang berada dalam situasi yang mengandung ancaman bencana, termasuk ketika menghadapi akibat runtuhan, longsor, kebakaran, alias akibat lain dari musibah alam.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads