Ketika Krakatau Mengubah Dunia: Dari Bencana 1883 hingga Budaya Pop

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 6 menit 511x dilihat
Ketika Krakatau Mengubah Dunia: Dari Bencana 1883 hingga Budaya Pop

Bagikan Postingan

Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian pada awal September 2026. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat bagian erupsi menerus yang berjalan sekitar 25 jam, sejak Jumat, 4 September pukul 23.07 WIB hingga Minggu, 6 September pukul 00.04 WIB. Episode tersebut telah berhenti, tetapi status kegiatan Anak Krakatau tetap berada pada Level III alias Siaga.

Pada 6 September, PVMBG juga mencatat satu erupsi Strombolian susulan berdurasi sekitar 30 detik pada pukul 03.53 WIB. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak melakukan kegiatan dalam radius tiga kilometer dari pusat kegiatan gunung. PVMBG menegaskan bahwa kegiatan vulkaniknya tetap bergerak dan kemungkinan letusan susulan tetap tergolong tinggi.

Di tengah situasi tersebut, nama Krakatau kembali muncul dalam percakapan publik. Namun Krakatau bukan sekadar salah satu gunung api aktif Indonesia. Namanya telah melewati sejarah panjang yang menghubungkan geologi, bencana, perkembangan media massa, pengetahuan pengetahuan, hingga budaya populer.

1883: Ketika Gunung Mengubah Selat Sunda

Krakatau berada di Selat Sunda, di antara Jawa dan Sumatra. Kompleks gunung api ini sudah mempunyai sejarah pengetahuan bumi panjang, tetapi peristiwa yang membikin namanya dikenal bumi terjadi pada 26–27 Agustus 1883.

Erupsi katastrofik tersebut menghancurkan sebagian besar struktur Krakatau saat itu. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat bahwa keruntuhan kaldera menghancurkan kerucut Danan dan Perbuwatan, sementara hanya sebagian Rakata yang tersisa. Lebih dari 36.000 orang meninggal, sebagian besar akibat tsunami yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatra. Aliran piroklastik apalagi bisa bergerak sekitar 40 kilometer melintasi Selat Sunda hingga mencapai pantai Sumatra.

Krakatau 1883 dalam Angka

  • 26–27 Agustus 1883: fase klimaks erupsi Krakatau.
  • Lebih dari 36.000 korban jiwa: kebanyakan akibat tsunami.
  • Sekitar 40 km: jarak yang ditempuh sebagian aliran piroklastik menyeberangi Selat Sunda.
  • Sekitar dua pertiga pulau: bagian Krakatau yang dihancurkan alias runtuh dalam rangkaian erupsi tersebut.
  • Sejak 1927: kegiatan Anak Krakatau mulai tercatat setelah muncul kembali di dalam kaldera 1883.

Skalanya membikin Krakatau menjadi salah satu erupsi paling terkenal dalam sejarah modern. Tetapi ada aspek lain yang membikin peristiwa tersebut berbeda dari banyak musibah besar sebelumnya: Krakatau terjadi ketika bumi mulai semakin terhubung oleh teknologi komunikasi.

Salah Satu Bencana Global pada Era Telegraph

Pada akhir abad ke-19, jaringan telegraf dan kabel bawah laut telah mengubah langkah info bergerak. Pesan tidak lagi kudu menunggu kapal berlayar dari satu benua ke benua lainnya. Informasi dapat ditransmisikan dalam hitungan jam.

Perkembangan ini turut mengubah jurnalisme. Riset sejarah media menunjukkan bahwa telegraf memungkinkan buletin bergerak dengan kecepatan yang sebelumnya mustahil, sekaligus memperkuat peran kantor-kantor buletin internasional seperti Reuters dan Havas dalam pengedaran info global.

Krakatau meletus tepat dalam konteks teknologi baru tersebut. Karena itu, peristiwa di sebuah kepulauan yang ketika itu merupakan bagian dari Hindia Belanda dapat dengan sigap menjadi buletin internasional.

Dalam banyak penulisan sejarah media, erupsi Krakatau apalagi kerap dianggap sebagai salah satu contoh awal ketika sebuah musibah lokal berubah menjadi pengalaman dunia melalui jaringan komunikasi modern. Dengan kata lain, jauh sebelum televisi, breaking news 24 jam, alias video vertikal dari smartphone, masyarakat bumi sudah mulai mengalami kejadian serupa: menyaksikan sebuah tragedi jauh melalui media.

Ketika Krakatau Mengubah Langit

Dampak Krakatau juga tercatat jauh dari Indonesia. Material vulkanik yang terlontar tinggi ke atmosfer menyebar ke beragam daerah bumi dan menghasilkan kejadian optik yang tidak biasa. Langit senja berwarna merah dan jingga dilaporkan di beragam tempat setelah erupsi.

NASA mencatat bahwa erupsi 1883 melontarkan material dalam jumlah sangat besar ke atmosfer dan menghancurkan sebagian besar pulau Krakatau. Ledakannya juga dilaporkan terdengar hingga daerah yang berjarak ribuan kilometer dari Indonesia.

Fenomena tersebut ikut menjadikan Krakatau objek penelitian internasional. Bencana tidak lagi hanya dicatat sebagai peristiwa lokal, tetapi sebagai kejadian yang menunjukkan sungguh sebuah kegiatan pengetahuan bumi di satu titik bumi dapat memberikan jejak atmosfer dalam skala global.

Dari Krakatau Lahir Anak Krakatau

Kisahnya tidak selesai ketika sebagian besar Krakatau hancur. Setelah kurang dari separuh abad relatif tenang, kegiatan vulkanik kembali membangun sebuah kerucut baru di dalam kaldera yang terbentuk pada 1883. Aktivitas tersebut tercatat sejak 1927 dan kemudian melahirkan pulau yang dikenal sebagai Anak Krakatau, secara literal berfaedah “anak Krakatau”.

Proses ini menjadi salah satu ilustrasi paling mudah dipahami tentang skala waktu geologi. Sebuah gunung dapat runtuh, tetapi sistem vulkanik di bawahnya tetap aktif dan perlahan membangun struktur baru.

Anak Krakatau sendiri kembali mengalami perubahan drastis pada 22 Desember 2018. Sebagian tubuh gunung runtuh setelah kegiatan vulkanik dan menghasilkan tsunami mematikan di area Selat Sunda. Smithsonian mencatat keruntuhan tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh Anak Krakatau yang ketika itu mempunyai ketinggian sekitar 338 meter.

Pasca-2018, Badan Geologi mencatat rangkaian erupsi berskala lebih rendah sebagai bagian dari fase bangunan alias pertumbuhan kembali Anak Krakatau hingga Desember 2023. Setelah jarak yang cukup panjang, erupsi kembali tercatat pada 2 Juli 2026. Sejak tanggal tersebut, status Anak Krakatau berada pada Level III alias Siaga.

Krakatoa, East of Java

Krakatau yang Berpindah dari Geologi ke Pop Culture

Besarnya reputasi Krakatau membikin namanya melampaui jurnal ilmiah dan kitab sejarah. Pada 1969, Hollywood merilis movie petualangan musibah “Krakatoa, East of Java”, dibintangi Maximilian Schell dan Diane Baker. Film tersebut mengambil latar 1883 dan membangun petualangan fiksi di sekitar ancaman letusan Krakatau.

Ada satu masalah yang justru membikin movie tersebut terus dibicarakan puluhan tahun kemudian: judulnya salah secara geografis.

Krakatau berada di sebelah barat Pulau Jawa, bukan timur. American Film Institute mencatat bahwa kesalahan tersebut telah disorot beragam sumber sejak movie dirilis. Menurut catatan AFI, pihak pemasok dikabarkan baru menyadari persoalan tersebut setelah materi promosinya diproduksi dan perubahan titel dianggap terlalu mahal.

Kesalahan geografis itu kemudian menjadi trivia terkenal dalam sejarah sinema. Namun keberadaan movie tersebut sekaligus memperlihatkan seberapa jauh Krakatau telah menjadi bagian dari khayalan global.

Nama Krakatau muncul dalam buku, dokumenter, film, ilustrasi, fotografi, penelitian, dan beragam corak representasi lain. Dari kejadian geologi, dia berkembang menjadi sebuah simbol tentang kekuatan alam yang berada di luar kendali manusia.

143 Tahun Kemudian, Krakatau Masih Menulis Ceritanya

Ada bujukan untuk memandang Krakatau 1883 sebagai sebuah cerita yang telah selesai. Padahal secara geologis, apa yang berjalan sekarang merupakan bagian dari proses yang sama panjangnya.

Hingga 6 September 2026, PVMBG menilai tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah peristiwa 2018 tetap relatif mini dan tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami seperti peristiwa sebelumnya. Namun perkembangan kegiatan dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif. Masyarakat pesisir Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang, mengikuti pengarahan BPBD, serta tidak mempercayai info tidak terverifikasi mengenai potensi tsunami.

Konteks tersebut krusial lantaran sejarah Krakatau menunjukkan gimana musibah dapat menghasilkan dua perihal sekaligus: pengetahuan dan mitologi. Data ilmiah membantu manusia memahami apa yang sebenarnya terjadi, sementara media dan budaya terkenal mengubah peristiwa tersebut menjadi cerita yang diwariskan lintas generasi.

Sekitar 143 tahun setelah erupsi besar 1883, Krakatau tetap menjadi pengingat tentang perbedaan skala waktu manusia dan bumi. Bagi manusia, lebih dari satu abad adalah sejarah yang panjang. Bagi sebuah sistem vulkanik, mungkin hanya sebuah bab singkat.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads