Keutamaan Malam Maulid Nabi Muhammad

Bincang Syariah oleh Waktu baca 5 menit 518x dilihat
Keutamaan Malam Maulid Nabi Muhammad

Bagikan Postingan

Keutamaan Malam Maulid Nabi MuhammadKeutamaan Malam Maulid Nabi Muhammad

Kincai Media- Berikut ini adalah keistimewaan malam maulid Nabi Muhammad. Rabiul Awal selalu datang dengan suasana unik di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Di masjid, mushala, pesantren, hingga majelis-majelis pengajian, lantunan shalawat kembali terdengar.

Sirah Nabi Muhammad dibacakan, hidangan disiapkan, dan anak-anak serta orang dewasa berkumpul dalam satu majelis untuk mengenang kelahiran manusia agung yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.

Tradisi tersebut kemudian dikenal luas sebagai Maulid Nabi. Bagi masyarakat Indonesia, Maulid sejatinya bukan sekadar seremoni tahunan. Di dalamnya terdapat pembacaan sirah, shalawat, nasihat keagamaan, sedekah, silaturahmi, sekaligus ungkapan cinta kepada Rasulullah.

Karena itu, pembahasan mengenai Maulid tidak hanya ditemukan dalam karya-karya ustadz kontemporer. Para ustadz terdahulu juga telah mendiskusikan kedudukan dan keistimewaan malam kelahiran Rasulullah.

Salah satu pembahasan menarik dapat ditemukan dalam karya Syekh Muhammad bin ‘Abd al-Baqi al-Zurqani (wafat 1122 H), Syarh al-Zurqani ‘ala al-Mawahib al-Ladunniyyah bi al-Minah al-Muhammadiyyah, sebuah syarah atas karya Imam al-Qasthallani tentang keistimewaan Rasulullah.

Keutamaan Malam Maulid Nabi

Di dalam kitab tersebut, Syekh Baqi al-Zarqani menjelaskan terdapat sebuah pertanyaan menarik: manakah yang lebih utama, Lailatul Qadar alias malam kelahiran Nabi Muhammad ?

Kemudian, Al-Zurqani mengutip jawaban dalam pembahasan tersebut. Ia berkata:

فَإِنْ قُلْتَ: إِذَا قُلْنَا بِأَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وُلِدَ لَيْلًا، فَأَيُّمَا أَفْضَلُ: لَيْلَةُ الْقَدْرِ أَوْ لَيْلَةُ مَوْلِدِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ؟

Artinya; “Jika kita mengatakan bahwa beliau  dilahirkan pada malam hari, manakah yang lebih utama: Lailatul Qadar alias malam kelahiran beliau ?”

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa para ustadz tidak sekadar membicarakan Maulid sebagai sebuah tradisi. Mereka juga mendiskusikannya dalam kerangka keilmuan, dengan mempertimbangkan sebab-sebab yang membikin suatu waktu memperoleh kemuliaan.

Jawaban yang dinukil al-Zurqani menyebut bahwa malam kelahiran Nabi  dipandang lebih utama daripada Lailatul Qadar berasas tiga alasan.

Pertama, malam Maulid adalah malam kelahiran manusia paling mulia

Alasan pertama berangkat dari sosok yang lahir pada malam tersebut.

أَحَدُهَا: أَنَّ لَيْلَةَ الْمَوْلِدِ لَيْلَةُ ظُهُورِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَيْلَةُ الْقَدْرِ مُعْطَاةٌ لَهُ، وَمَا شَرُفَ بِظُهُورِ ذَاتِ الْمُشَرَّفِ مِنْ أَجْلِهِ أَشْرَفُ مِمَّا شَرُفَ بِسَبَبِ مَا أُعْطِيَهُ…

“Pertama, malam kelahiran adalah malam kemunculan beliau , sedangkan Lailatul Qadar merupakan malam yang dianugerahkan kepada beliau. Sesuatu yang menjadi mulia lantaran kemunculan sosok yang mulia lebih utama daripada sesuatu yang menjadi mulia lantaran hidayah yang diberikan kepada sosok tersebut.”

Dari sini tampak gimana para ustadz memandang kedudukan Rasulullah . Malam Maulid memperoleh kemuliaannya lantaran pada malam itulah Rasulullah  lahir ke dunia. Sementara Lailatul Qadar memperoleh kemuliaan lantaran beragam keistimewaan yang Allah berikan pada malam tersebut.

Argumentasi ini lahir dari penghormatan yang sangat tinggi kepada Rasulullah .

Kedua, Lailatul Qadar dimuliakan dengan turunnya malaikat, sedangkan malam Maulid dimuliakan dengan kelahiran Rasulullah

Alasan kedua apalagi lebih menarik:

الثَّانِي: أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ شُرِّفَتْ بِنُزُولِ الْمَلَائِكَةِ فِيهَا، وَلَيْلَةَ الْمَوْلِدِ شُرِّفَتْ بِظُهُورِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ…

“Kedua, Lailatul Qadar menjadi mulia lantaran turunnya para malaikat di dalamnya, sedangkan malam kelahiran menjadi mulia lantaran kemunculan beliau .”

Kemudian dikatakan:

وَمَنْ شُرِّفَتْ بِهِ لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ أَفْضَلُ مِمَّنْ شُرِّفَتْ بِهِمْ لَيْلَةُ الْقَدْرِ، عَلَى الْأَصَحِّ الْمُرْتَضَى.

Artinya; “Dan sesuatu yang menjadi mulia lantaran beliau  lebih utama daripada sesuatu yang menjadi mulia lantaran para malaikat yang turun pada Lailatul Qadar, menurut pendapat yang lebih sahih dan kuat.”

Inilah salah satu langkah para ustadz mahir sirah dan maulid mengungkapkan kecintaan mereka kepada Rasulullah. Mereka tidak sedang bermaksud mengurangi kemuliaan Lailatul Qadar. Sebaliknya, mereka hendak menjelaskan sungguh agung kedudukan Rasulullah , sosok yang menjadi pembawa petunjuk dan rahmat bagi umat manusia.

Ketiga, kelahiran Nabi SAW merupakan awal hadirnya rahmat bagi seluruh alam

Argumentasi ketiga berangkaian dengan luasnya rahmat yang dibawa oleh Rasulullah. Nabi Muhammad  tidak hanya diutus untuk satu kaum. Beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya; “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya’: 107)

Karena itu, kelahiran Rasulullah  memiliki makna yang jauh melampaui sebuah peristiwa sejarah. Kelahiran beliau adalah awal hadirnya seorang pembawa risalah yang kemudian mengajarkan tauhid, akhlak, keadilan, kasih sayang, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Dalam tradisi pesantren, pemahaman seperti inilah yang membikin Maulid tidak berakhir pada kegembiraan. Kegembiraan tersebut diarahkan menjadi rasa syukur dan kecintaan kepada Rasulullah .

Maulid sebagai Ekspresi Cinta kepada Rasulullah

Pandangan serupa disampaikan Syekh Ali Jum’ah. Dalam salah satu penjelasannya, dia mengatakan:

وَالِاحْتِفَالُ بِمَوْلِدِهِ  هُوَ الِاحْتِفَاءُ بِهِ، وَالِاحْتِفَاءُ بِهِ  أَمْرٌ مَقْطُوعٌ بِمَشْرُوعِيَّتِهِ؛ لِأَنَّهُ أَصْلُ الْأُصُولِ وَدِعَامَتُهَا الْأُولَى.

Artinya; “Merayakan kelahiran beliau  pada hakikatnya adalah corak penghormatan kepada beliau. Adapun penghormatan kepada beliau  merupakan perkara yang mempunyai dasar syariat, lantaran dia merupakan pokok dari segala pokok dan fondasi yang pertama.”

Ali Jum’ah kemudian menjelaskan bahwa Allah SWT telah memperkenalkan kedudukan Nabi-Nya kepada seluruh alam:

فَقَدْ عَلِمَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْرَ نَبِيِّهِ، فَعَرَّفَ الْوُجُودَ بِأَسْرِهِ بِاسْمِهِ، وَبِمَبْعَثِهِ، وَبِمَقَامِهِ، وَبِمَكَانَتِهِ…

Artinya; “Allah mengetahui kedudukan Nabi-Nya. Karena itu, Dia memperkenalkan kepada seluruh bentuk nama beliau, pengutusan beliau, kedudukan beliau, dan kemuliaan beliau.”

Pandangan ini membantu kita memahami kenapa tradisi Maulid tumbuh begitu kuat di tengah masyarakat Muslim, khususnya di lingkungan pesantren. Maulid menjadi salah satu langkah umat mengekspresikan mahabbah, kecintaan kepada Rasulullah .

Kecintaan itu kemudian diwujudkan melalui shalawat, pembacaan sirah, sedekah, pemberian makanan, pengajian, dan beragam corak kebaikan.

Namun, semua itu bukanlah tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah agar kecintaan kepada Rasulullah  melahirkan ittiba’, ialah kesediaan untuk mengikuti ajaran, sunnah, dan adab beliau.

Nabi Sendiri Mengenang Hari Kelahirannya

Menariknya, pembicaraan mengenai kelahiran Nabi juga dapat dikaitkan dengan sabda tentang puasa hari Senin.

Ketika Rasulullah  ditanya mengenai puasa pada hari Senin, beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ

Artinya; “Itu adalah hari ketika saya dilahirkan.” (HR Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah mengingat hari kelahirannya dan mengaitkannya dengan sebuah ibadah. Karena itu, ketika umat Islam berkumpul pada bulan Rabiul Awal, membaca shalawat dan sirah Nabi, yang semestinya tumbuh bukan hanya kegembiraan, tetapi juga rasa syukur.

Lebih dari itu, Maulid seyogianya menjadi kesempatan untuk mengukur kembali sejauh mana adab Rasulullah telah datang dalam kehidupan kita.

Sebab, tidak cukup seseorang mengaku mencintai Nabi jika lisannya tetap mudah menyakiti orang lain. Tidak cukup pula memperbanyak shalawat jika perilakunya tetap jauh dari kejujuran, amanah, kasih sayang, dan sikap memuliakan sesama.

Pada akhirnya, Maulid bakal menemukan maknanya ketika cinta kepada Nabi  tidak berakhir di lisan, tetapi berbuah perubahan adab dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, mencintai Rasulullah  bukan hanya tentang mengenang kelahirannya, tetapi juga tentang berupaya meneladani kehidupannya.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads