Keutamaan Membaca Surah Al-Waqi'ahKincai Media – “Kalau membaca Surah Al-Waqi’ah setiap malam, apakah betul bisa membikin seseorang kaya?” Pertanyaan tentang keistimewaan surah Al-Waqi’ah plural kita dengar, terutama masyarakat awam, yang sudah bertahun-tahun mendengar argumen ini.
Pasalnya, sebagian orang mendengar rekomendasi dan keistimewaan membaca Surah Al-Waqi’ah lampau segera menghubungkannya dengan kelapangan rezeki. Sebagian yang lain apalagi memandangnya dengan curiga. Bukankah ibadah semestinya ditujukan untuk akhirat? Lalu kenapa justru dikaitkan dengan urusan bumi seperti rezeki dan kemiskinan?
Pertanyaan itu sesungguhnya bukan perihal baru. Jauh sebelum kita memperdebatkannya hari ini, Rasulullah SAW telah memberikan isyarat mengenai keistimewaan surah tersebut.
سمعت رسول الله ﷺ يقول: من قرأ الواقعة كل ليلة لم يفتقر. رواه البيهقي.
Artinya: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Barangsiapa membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam, dia tidak bakal jatuh miskin.’ (HR. Baihaqi)
Hadis ini sering dibaca secara sederhana. Seolah-olah Surah Al-Waqi’ah adalah jalan pintas menuju kekayaan. Padahal, apakah memang demikian maksudnya? Apakah para ustadz memahami sabda ini sebatas janji bertambahnya kekayaan benda?
Menariknya, persoalan ini pernah ditanyakan langsung kepada para pembimbing dan ustadz terdahulu. Imam Munawi dalam kitab Faidul Qadir mengutip penjelasan Imam Al-Ghazali sebagai berikut:
وقال الغزالي: سألت بعض مشايخنا عما يعتاده أولياؤنا من قراءة سورة الواقعة في أيام العسرة أليس المراد به أن يدفع الله به الشدة عنهم ويوسع عليهم في الدنيا فكيف يصح إرادة متاع الدنيا بعمل الآخرة؟ فأجاب بأن مرادهم أن يرزقهم قناعة أو قوتا يكون لهم عدة على عبادته وقوة على دروس العلم وهذا من إرادة الخير لا الدنيا
Al-Ghazali berkata: “Aku pernah bertanya kepada sebagian pembimbing kami mengenai kebiasaan para wali kami yang membaca Surah Al-Waqi’ah pada masa-masa kesulitan. Bukankah yang dimaksud adalah agar Allah menghilangkan kesusahan mereka dan melapangkan rezeki mereka di dunia? Lalu gimana bisa menginginkan kenikmatan bumi melalui ibadah akhirat?”
Maka beliau menjawab:
“Yang mereka maksud adalah agar Allah menganugerahkan kepada mereka sifat qana’ah (merasa cukup) alias rezeki yang menjadi bekal bagi mereka untuk beragama kepada-Nya serta kekuatan untuk menuntut dan mengkaji ilmu. Ini termasuk menghendaki kebaikan, bukan menghendaki dunia.”
Jawaban ini krusial dicermati. Sebab, ukuran kekayaan dalam pandangan para ustadz rupanya tidak selalu identik dengan banyaknya harta. Bisa jadi seseorang mempunyai sedikit harta, tetapi hatinya dipenuhi qana’ah sehingga hidupnya terasa lapang. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang bergelimang kekayaan namun terus dihantui rasa kurang dan kekhawatiran.
Karena itu, ketika para wali dan orang-orang saleh membiasakan membaca Surah Al-Waqi’ah pada masa-masa sulit, tujuan mereka bukan semata-mata mengejar kenikmatan dunia.
Mereka memohon kepada Allah agar diberikan kecukupan yang dapat menopang ibadah, menguatkan langkah dalam menuntut ilmu, dan menjaga hati dari kegelisahan akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Di sinilah letak keelokan penjelasan Al-Ghazali. Rezeki tidak selalu berfaedah bertambahnya nomor dalam simpanan. Kadang dia datang dalam corak hati yang merasa cukup. Kadang berupa kekuatan untuk terus belajar. Kadang pula berupa kemudahan beragama tanpa dibebani kesulitan yang berlebihan.
Maka membaca Surah Al-Waqi’ah bukanlah upaya menjadikan ibadah sebagai perangkat memburu dunia. Sebaliknya, dia merupakan ikhtiar spiritual agar bumi berada di tangan secukupnya, sehingga hati tetap leluasa melangkah menuju Allah SWT.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·