Pelemahan Rupiah Ancam Potensi Ziswaf

Jun 08, 2026 09:25 PM - 4 jam yang lalu 179

Kincai Media , JAKARTA -- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai berpotensi menekan penghimpunan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) di Indonesia. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Prof Burhanuddin Muhtadi mengingatkan bahwa persoalan utama bukan sekadar kurs rupiah, melainkan pelemahan ekonomi yang berkepanjangan dan menyusutnya golongan kelas menengah.

Menurut Burhanuddin, pelemahan rupiah hanya merupakan indikasi dari tekanan ekonomi yang lebih besar. Kondisi tersebut terlihat dari menurunnya jumlah masyarakat kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir.

"Sebenarnya jika pelemahan rupiah itu hanya simptom alias gejala. Yang lebih besar adalah terjadinya pelemahan ekonomi. Itu terindikasi dari penurunan kelas menengah yang cukup besar," ujar Burhanuddin saat diwawancara Kincai Media di Kantor Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan belum lama ini.

Ia menjelaskan, tekanan ekonomi yang dialami kelas menengah terjadi secara beruntun dalam beberapa tahun terakhir. Situasi tersebut diperparah oleh penguatan dolar AS, pelemahan rupiah, serta kondisi ekonomi yang dinilai belum sepenuhnya pulih.

"Meskipun pemerintah mengeluarkan nomor pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, tetapi pelemahan itu terlihat konsisten dan sistematik. Itu juga berbarengan dengan penurunan indeks saham," ucapnya.

Burhanuddin mengaku cemas jika tren ekonomi yang stagnan apalagi melemah terus berlanjut, maka potensi penghimpunan Ziswaf nasional pada masa mendatang juga bakal mengalami penurunan.

Ia mengingatkan bahwa sejumlah studi sebelumnya memperkirakan potensi amal dan wakaf Indonesia dapat mencapai sekitar Rp 500 triliun. Namun, proyeksi tersebut dibuat ketika kondisi kelas menengah tetap relatif kuat dibandingkan saat ini.

Berdasarkan temuan survei Indikator Politik Indonesia pada 2026 yang mengukur perilaku Ziswaf masyarakat setahun sebelumnya, potensi ZISWAF tercatat sekitar Rp 343 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan dalam studi sebelumnya.

"Temuan kami tahun 2026 berasas perilaku Ziswaf setahun sebelumnya sekitar Rp 343 triliun. Itu sebenarnya agak turun dibanding studi Baznas sebelumnya lantaran studi tersebut dilakukan sebelum tren penurunan kelas menengah terjadi," katanya.

Selengkapnya