Biografi Imam Ath-thabari

Jun 07, 2026 11:00 AM - 1 hari yang lalu 1921

Nama

Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar bin Muhammad bin Ibrahim, yang nasabnya bersambung kepada Ja‘far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Al-Hasyimi.

Artinya, beliau termasuk keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melalui jalur Husain bin Ali, sehingga termasuk ahlul bait.

Nisbah

Disebut Ath-Thabari, ialah nisbah kepada daerah Thabaristan. Beliau juga dinisbahkan sebagai Asy-Syafi‘i, lantaran mengikuti ajaran Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‘i dan sangat mendalam serta menguasai ajaran tersebut.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

الشيخ محب الدين الطبري المكي الشافعي

“Syekh Muhibuddin Ath-Thabari Al-Makki Asy-Syafi‘i.”

Al-Hafizh As-Suyuthi rahimahullah berkata,

المحب الطبري… فقيه الحرم… المكي الشافعي

“Al-Muhibb Ath-Thabari… Faqih (ahli fikih) Haram… Al-Makki Asy-Syafi‘i.”

Beliau juga dinisbahkan sebagai Al-Makki, lantaran dilahirkan di Makkah dan tumbuh besar di sana. Nisbah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir, As-Suyuthi, dan selain keduanya.

Nama kun-yah

Beliau dikenal dengan kun-yah Abu Al-Abbas. Hal ini disepakati oleh kebanyakan ustadz yang menulis biografinya, seperti: Adz-Dzahabi, Al-Yafi‘i, As-Subki, As-Suyuthi, dan Ibnu Al-‘Imad.

Taqiyuddin Al-Fasi menambahkan kun-yah lain, ialah Abu Ja‘far. Dalam kitab Al-‘Aqd Ats-Tsamin, dia berkata,

يكنى: أبا جعفر، وأبا العباس

“Beliau dijuluki Abu Ja‘far dan Abu Al-Abbas.”

Julukan

Imam Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar mempunyai banyak gelar. Sebagian gelar tersebut berangkaian dengan kedudukan ilmiahnya dan keluasan ilmunya dalam bagian agama, seperti:

  • Syekh Al-Haram شيخ الحرم (Guru besar Masjidil Haram), sebagaimana disebutkan oleh Al-Yafi‘i, Ibnu Al-‘Imad Al-Hanbali, dan As-Subki.
  • Bahkan As-Subki menambahkan: حافظ الحجاز بِلَا مدافعة “Hafizh Hijaz tanpa ada yang menandinginya.”
  • Adz-Dzahabi dan As-Suyuthi menyebutnya sebagai:
    • Faqih Al-Haram فقيه الحرم (Ahli fikih Masjidil Haram)
    • Muhaddits Al-Hijaz محدث الحجاز (Ahli sabda daerah Hijaz)
    • Syekh Asy-Syafi‘iyyah شيخ الشافعية (Tokoh ustadz ajaran Syafi‘i)

Sebagian gelar lainnya berangkaian dengan kecintaannya kepada Ahlul Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana tidak, sementara beliau memang termasuk keturunan mereka, dari jalur Husain bin Ali Al-Hasyimi radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana telah disebutkan.

Hal ini tampak pada nama-nama dalam keluarganya, seperti: Muhammad, Ahmad, Hasan, Husain, dan nama-nama wanita seperti: Aisyah, Zainab, dan Fatimah.

Begitu pula gelar-gelar seperti, Ar-Radhi (الرضي), Al-Muhibb (المحب), alias Muhibbuddin (محب الدين).

Gelar “Muhibbuddin” ini sering muncul pada ayah dan kakek-kakeknya, dan juga pada keturunan setelahnya.

Julukan yang beliau tidak sukai

Al-Muhibb Ath-Thabari mempunyai satu gelar lain yang tidak dia sukai, ialah “Muhyiddin” (محيي الدين) (penghidup agama).

Taqiyuddin Al-Fasi rahimahullah berkata,

وكان الشيخ محب الدين الطبري يُلقَّب بمحيي الدين قبل أن يلقب بمحب الدين، وكان يكرَه اللقب الأول، فزار المدينة النبوية، ومدح النبي صلى الله عليه وسلم بقصيدة، وسأل أن تكون جائزته عليها أن يزول عنه اللقب الأول، فزال حتى كأن لم يكن

“Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari dulu dijuluki “Muhyiddin” sebelum kemudian dikenal dengan julukan “Muhibbuddin”. Namun beliau tidak menyukai julukan yang pertama.

Suatu ketika, beliau mengunjungi Madinah An-Nabawiyah, lampau memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah qasidah (syair pujian). Beliau memohon agar jawaban atas qasidah tersebut adalah dihilangkannya julukan pertamanya. Maka julukan itu pun hilang, seakan-akan tidak pernah ada.”

Kelahiran dan pertumbuhan

Pendapat yang paling kuat dan dipegang oleh kebanyakan sejarawan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Al-‘Imad dalam kitab Syadzarat adz-Dzahab adalah bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 27 Jumadil akhir tahun 615 Hijriah. Tanggal ini juga tercatat pada laman titel manuskrip jilid pertama dalam naskah yang tersimpan di perpustakaan Köprülü di Turki.

Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari tumbuh dalam family yang mempunyai ilmu, kemuliaan nasab, kedudukan sosial, dan kepemimpinan. Ayahnya, paman-pamannya, dan generasi setelah mereka memegang beragam kedudukan krusial di kota suci Makkah, seperti qadhi, ulama, pengajar, khatib, mufti, dan imam. Hal ini merupakan sebuah keistimewaan besar bagi family Ath-Thabari. Semoga Allah meridai mereka dan membalas mereka dengan sebaik-baik jawaban atas jasa mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.

Perjalanan menuntut ilmu

Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari tumbuh dalam lingkungan ilmiah yang sangat mendukung, baik lantaran berasal dari family ustadz terkemuka di Makkah maupun lantaran kedekatannya dengan pusat pengetahuan di Tanah Haram. Ia mempelajari beragam kitab sabda dan fikih, termasuk Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i, Jami‘ At-Tirmidzi, serta Shahih Ibnu Hibban, kepada sejumlah ustadz besar di Makkah. Ia juga memperoleh piagam dari para ustadz di Baghdad, Syam, dan Mesir, serta memperdalam fikih di Mesir kepada Majduddin Al-Qusyairi. Di Yaman, dia dikenal sebagai pengajar terkemuka dan mempunyai kedudukan tinggi di sisi Raja Al-Muzaffar, yang apalagi memberinya tunjangan tetap untuk mengajar di madrasah keluarganya di Makkah.

Guru-guru

Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari menimba pengetahuan dari para ustadz besar Hijaz pada masanya, serta dari para ustadz yang datang ke Makkah saat musim haji dan umrah. Di antara guru-gurunya yang paling terkenal adalah Abu Al-Hasan Ali bin Al-Muqayyir, darinya dia mempelajari Sunan Abu Dawud dan kitab-kitab lainnya; Taqiyuddin Ali bin Abi Bakar Ath-Thabari, Imam Maqam dan khatib Masjidil Haram; Abdurrahman bin Abi Harami Al-Makki; Syarafuddin Al-Mursi; Bahauddin Ibnu Al-Jummayzi; Syu‘aib bin Yahya Al-Iskandarani; Najmuddin Basyir Al-Qurasyi; serta ustadz besar Ibnu Al-‘Adim Al-Halabi. Mereka adalah tokoh-tokoh terkemuka dalam hadis, fikih, dan ilmu-ilmu agama, dan melalui merekalah Al-Muhibb Ath-Thabari memperoleh sanad, ijazah, serta keluasan pengetahuan yang mengantarkannya menjadi salah satu ustadz besar di Hijaz.

Murid-murid

Sebagaimana kebiasaan para ustadz yang mengamalkan ilmunya, Imam Al-Muhibb Ath-Thabari aktif berceramah melalui beragam jalur seperti khatib, pengajar, mufti, qadhi, dan pemimpin di Masjidil Haram. Dari majelis ilmunya, lahir banyak ustadz besar yang kemudian menjadi tokoh krusial di beragam negeri. Di antara murid-muridnya adalah putranya sendiri, Jamaluddin Muhammad bin Ahmad, yang menjadi Qadhi Makkah; Al-Hafizh Syarafuddin Ad-Dimyathi; Alauddin Al-‘Aththar Ad-Dimasyqi; Al-Hafizh Al-Barzali, sejarawan besar Syam; Quthbuddin Al-Qasthalani; master tafsir dan nahwu terkenal Abu Hayyan Al-Andalusi; serta Ibnu Al-Khabbaz Al-Anshari yang menjadi pembimbing bagi ustadz besar seperti Al-Mizzi dan Adz-Dzahabi. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh ilmiah Al-Muhibb Ath-Thabari meluas dan bersambung melalui generasi-generasi ustadz setelahnya.

Pujian para ustadz terhadapnya

Imam Al-Muhibb Ath-Thabari رحمه الله mendapatkan penerimaan yang luas di tengah masyarakat, baik dari kalangan ustadz maupun orang awam. Itu merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Beliau memperoleh penghormatan, pengagungan, dan pujian yang baik. Pujian semacam ini tidak diragukan lagi merupakan tanda kesalehan dan ketakwaan, sekaligus bukti keluasan pengetahuan dan ketajaman pemahaman.

Al-Muhibb Ath-Thabari menggabungkan antara ibadah dan ilmu. Beliau nyaris tidak pernah terlihat selain dalam keadaan menuntut alias mengajarkan ilmu, alias dalam ibadah.

Abu Al-Yumn Ibnu ‘Asakir berkata,

لم أرَ المحبَّ في وقت من الأوقات إلا في عملٍ من صلاةٍ أو طوافٍ أو دعاءٍ أو تعليمِ علمٍ أو تصنيفهِ، أو نحو هذا

“Aku tidak pernah memandang Al-Muhibb pada suatu waktu pun selain sedang melakukan suatu amal, seperti salat, thawaf, berdoa, mengajar ilmu, alias menulis (mengarang), dan semisalnya.”

Inilah karakter orang-orang saleh dan kebiasaan para penempuh jalan menuju Allah dengan keikhlasan dan ilmu.

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,

كان عالمًا عاملًا جليل القدر، عارفًا بالآثار، ومَن نظر في أحكامه عرَف مَحَلَّه مِن العلم والفقه

“Beliau adalah seorang berilmu yang mengamalkan ilmunya, mempunyai kedudukan tinggi, menguasai atsar (hadis), dan siapa yang menelaah fatwa-fatwanya bakal mengetahui kedudukannya dalam pengetahuan dan fikih.”

Adz-Dzahabi rahimahullah juga berkata,

وكان إمامًا صالحًا زاهدًا كبير الشأن

“Beliau adalah seorang pemimpin yang saleh, zuhud, dan mempunyai kedudukan besar.”

Tajuddin As-Subki berkata,

شيخ الحرم، وحافظ الحجاز بلا مدافعة

“Syekh Al-Haram dan Hafizh Hijaz tanpa ada yang menandinginya.”

Al-Yafi‘i berkata,

شيخ الحرم الإمام العلَّامة الحافظ ذو التصانيف الكثيرة والفضائل الشهيرة

“Syekh Al-Haram, imam, ustadz besar, hafizh, pemilik banyak karya dan keistimewaan yang masyhur.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

كان فقيهًا، بارعًا، محدثًا، حافظًا، درَّس وأفتى، وكان شيخ الشافعية هناك، ومحدِّث الحجاز في زمانه

“Beliau seorang fakih yang unggul, muhaddits, hafizh, mengajar dan berfatwa, menjadi Syekh ajaran Syafi‘i di sana, serta muhaddits Hijaz pada zamannya.”

Taqiyuddin Al-Fasi menukil perkataan Al-Hafizh Al-‘Ala’i,

ما أخرجَتْ مكةُ بعد الشافعي مثلَ المحب الطبري)

“Makkah tidak pernah melahirkan setelah Imam Asy-Syafi‘i seorang seperti Al-Muhibb Ath-Thabari.”

Namun dia menambahkan bahwa pernyataan tersebut tetap bisa diperdebatkan. Kemudian dia berkata,

ووجدتُ بخط القطب الحلبي في ترجمة المحب الطبري: أنه لم يكن في زمانه مثلُه.

“Aku menemukan tulisan Al-Quthb Al-Halabi dalam riwayat hidup Al-Muhibb Ath-Thabari bahwa pada zamannya, tidak ada yang sebanding dengannya.”

Dan dia menegaskan,

وهذا مما لا ريبَ فيه

“Hal ini tidak diragukan lagi.”

Keluasan pengetahuan Al-Muhibb Ath-Thabari tidak terbatas pada fikih, hadis, alias tafsir saja. Ia juga seorang mahir bahasa dan penyair yang fasih.

Imam Taqiyuddin Al-Fasi berkata,

وللشيخ محب الدين شعرٌ كثيرٌ جيد، يحويه ديوانه، وهي مجلدة لطيفة على ما رأيت

“Syekh Muhibbuddin mempunyai banyak syair yang bagus, yang terkumpul dalam diwan (kumpulan puisi)-nya, sebuah jilid yang bagus sebagaimana yang saya lihat.”

Demikian pula Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan,

وله شِعرٌ جيد؛ فمنه قصيدته في المنازل التي بين مكة والمدينة تزيد على ثلاثمائة بيتٍ، كتبها عنه الحافظ شرف الدين الدمياطي في معجمه

“Beliau mempunyai syair yang bagus; di antaranya qasidahnya tentang tempat-tempat antara Makkah dan Madinah yang mencapai lebih dari tiga ratus bait. Qasidah itu ditulis oleh Al-Hafizh Syarafuddin Ad-Dimyathi dalam Mu‘jam-nya.”

Akidah

Pada dasarnya, andaikan para penulis riwayat hidup tidak menyebut secara unik tentang ajaran iktikad seseorang yang mereka tulis, maka perihal itu biasanya menunjukkan bahwa orang tersebut mempunyai perjalanan hidup yang lurus dan iktikad yang benar, sebagaimana kebanyakan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dari penelaahan terhadap kitab yang menjadi objek kajian ini, ialah karya-karya Imam Al-Muhibb Ath-Thabari رحمه الله, tampak jelas bagi siapa pun yang memperhatikannya bahwa beliau adalah seorang tokoh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau adalah Imam Masjidil Haram, Qadhi Makkah, Syekh Hijaz, dan tokoh ajaran Syafi‘i pada zamannya.

Hal ini dapat disimpulkan dari perkataan-perkataannya dalam kitabnya, dari kuatnya kecintaan beliau terhadap agamanya, serta dari pembelaannya terhadap manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau juga menampilkan dan mengkritisi beragam pandangan yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah dalam persoalan iktikad dan iman, serta membantahnya dengan dalil dan hujjah yang jelas.

Mazhab fikih

Imam Tajuddin As-Subki dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyah Al-Kubra dan Ibnu Katsir dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyin, serta yang lainnya, menyebut bahwa beliau beraliran Syafi‘i. Bahkan, beliau merupakan pemimpin (tokoh utama) ajaran Syafi‘i pada zamannya.

Imam Al-‘Ala’i rahimahullah berkata,

ما أخرجَت مكة بعد الشافعي مثلَ المحب الطبري

“Makkah tidak pernah melahirkan setelah Imam Asy-Syafi‘i seorang seperti Al-Muhibb Ath-Thabari.”

Wafat

Pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa beliau wafat pada bulan Jumadil akhir tahun 694 Hijriah di Makkah Al-Mukarramah. Pendapat ini disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Mu‘jam Al-Mukhtash bil Muhadditsin, Ibnu Katsir dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyin, serta Ibnu Al-‘Imad dalam Syadzarat Adz-Dzahab, dan juga oleh para ustadz lainnya.

Semoga Allah merahmatinya, meridainya, dan membalasnya dengan sebaik-baik jawaban atas jasa-jasanya kepada Islam dan kaum muslimin.

Baca juga: Biografi Imam Ahmad bin Hanbal

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari website alukah.net.

Selengkapnya