Tafsir Surah An-nazi’at (bag. 4): Kokohnya Langit Dan Bumi Sebagai Tanda Adanya Kiamat

Jun 08, 2026 11:00 AM - 16 jam yang lalu 740

Pada perenungan ayat-ayat dalam surah An-Naziat sebelumnya, Allah menceritakan kisah Nabi Musa dan Fir’aun serta gimana hasil akhir dari perbuatan jelek Fir’aun. Hal ini sebagai intermezo bagi baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa nantipun kaumnya yang memusuhi Nabi dan tidak bertobat, mereka bakal mendapatkan kesudahan yang sama seperti Fir’aun.

Kemudian pada ayat setelahnya, Allah kembali memberikan peringatan bagi kaum musyrikin Quraisy yang menentang Nabi, bahwa Allah bisa mendatangkan kiamat, dengan bukti-bukti Allah bisa menciptakan beragam perihal luar biasa di alam semesta ini.

Hamka menyebut sebuah munasabah (keterkaitan antara ayat) menarik antara ayat ini dan sebelumnya, “Disebutkan tentang cerita Nabi Musa menghadapi Fir’aun serta gimana akhir kehidupan Fir’aun yang tenggelam di lautan Qulzum. Lalu di penutup dikatakan bahwa kejadian itu adalah suatu seumpama untuk komparasi bagi manusia. Seberapa tinggipun pangkat, kekayaan, luasnya kekuasaan, dan kerajaan, manusia tetaplah manusia yang tidak ada artinya dibanding kebesaran alam ini. Manusia hidup singkat, di bawah 100 tahun lampau mati, adapun alam semesta tetap dalam kebesarannya, dan hanya Allah yang menciptakan itu semua.” (Tafsir Hamka, hal. 7879)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ بَنٰىهَاۗ

“Apakah pembuatan Anda yang lebih dahsyat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 27)

Dalam ayat ini, Allah menggunakan kalimat tanya, bukan untuk bertanya, namun untuk taqri’ (mencela) dan taubikh (mengecam) kaum musyrikin. Dengan nada mengancam, dapat kita rasakan sungguh mengerikannya ayat ini, “Wahai sekalian Quraisy, apakah kalian lebih susah untuk Allah ciptakan dibandingkan dengan langit yang begitu luas dan agung ini?”

Langit yang begitu luas ini mudah Allah ciptakan, apalagi sekedar menciptakan kalian kembali setelah mematikan kalian, perihal itu tentu jauh lebih mudah, maka kenapa kalian tetap mengingkari hari kiamat?

Perlu diingatkan kembali, jika kita menggunakan logika komparasi dasar manusia, memandang langit yang sangat luas dengan beragam isinya, dibandingkan dengan manusia yang sangat mini dan lemah, tentu bakal kita katakan bahwa menciptakan langit tentu lebih “sulit”. Tentu ini hanya komparasi dasar lantaran Allah menggunakan “‘adatul basyariyah” alias pernyataan yang biasa dipakai dan dapat dimengerti manusia, untuk mendekatkan pemahaman. Namun di samping itu semua, secara hakikat, segala pembuatan makhluk adalah mudah bagi Allah, tanpa ada kesulitan apapun.

Lafadz “banaha” dalam ayat dibaca dengan saktah, ialah dibaca terpisah dengan langkah berakhir dulu sejenak tanpa mengambil nafas. Karena potongan ayat ini dimaknai isti’naf, yaitu kalimat baru yang dimulai dari awal, tujuannya untuk menjelaskan agungnya gedung langit yang Allah ciptakan dengan kekuatannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ

“Dia telah meninggikan bangunannya, lampau menyempurnakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 28)

Allah mengangkat langit serta benda-benda yang berada di sana, meninggikan genting langit bagi kita, serta menjadikannya sempurna dari semua sisi tanpa ada kekurangan dari sisi manapun.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa “Allah tinggikan gedung langit, meluaskan penjurunya, menyamakan antar penjuru-penjurunya, serta memberi hiasan dengan gugusan bintang-bintang di malam hari yang gelap.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ

“Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 29)

Allah menjadikan malam hari gelap gulita dan siang hari terang benderang.

Hamka menjelaskan bahwa bumi berputar dengan putaran yang tetap mengelilingi mentari dalam garis edar yang stabil. Oleh lantaran itu, muncul siang dan juga malam dengan keteraturan yang bagus selama jutaan tahun.

Dengan keteraturan ini pula, kita menjadi mudah untuk melakukan ibadah salat. Waktu melangkah perlahan dengan teratur mulai dari terbit fajar untuk melakukan salat Subuh, lampau naik perlahan untuk salat Dhuha, kemudian sampai tengah langit sehingga kita bisa melakukan salat Zuhur, dan seterusnya. Allah buat stabil dan perlahan agar kita bisa beribadah. Tidak terbayang sungguh sulitnya ibadah jika perjalanan waktu sangatlah sigap dan tidak teratur bagi manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ

“Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 30)

Setelah menciptakan langit, Allah menciptakan bumi serta membuatnya terhampar agar manusia dapat hidup dan mempunyai penghidupan yang mudah di atasnya.

Meskipun disebutkan hamparan, namun ini tidak menafikan hasil-hasil penelitian dan pengamatan yang memperlihatkan bumi berbentuk bola alias bulat. Oleh lantaran itu, disebutkan dalam Tafsir Al-Kabir bahwa pada awalnya, bumi adalah suatu bola yang terkungkung, kemudian Allah lebarkan dan hamparkan bumi tersebut. Serta makna dari “Dahahaa” alias “hamparkan” bukanlah semata-mata terhampar (seperti karpet datar yang homogen), bakal tetapi suatu hamparan (tidak homogen) yang bisa untuk menumbuhkan beragam tumbuhan dan pepohonan, di sana terdapat bukit dan lembah, lautan dan daratan, serta selainnya.

Pendapat lain mengatakan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, bakal tetapi dibuat kosong pada awalnya. Kemudian setelah langit tercipta, baru Allah keluarkan air dan kehidupan di muka bumi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ

“Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 31)

Allah keluarkan mata air yang segar dari dalam bumi, kemudian menjadikannya sungai yang mengalir, setelah itu menumbuhkan dengan aliran sungai tersebut sebagai tumbuhan dan padang gembalaan untuk pakan hewan-hewan ternak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ

“Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kokoh.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 32)

Gunung-gunung menjulang di atas permukaan bumi, dijadikan sebagai pasak agar bumi tidak bergetar dahsyat dan membikin bumi nyaman ditinggali oleh manusia dan hewan-hewan.

Selain itu, gunung juga menjadi pagar alami yang berfaedah sebagai pemecah angin, menjaga manusia dari angin yang terlalu besar yang dapat menerbangkan mereka dan tempat tinggalnya.

Penyebutan gunung-gunung setelah penyebutan tentang air menjelaskan kepada kita bahwa ada hubungan erat antara keduanya. Ketika air dari lautan menguap lantaran panas, kemudian berkumpul menjadi awan hitam lampau hujan, pepohonan yang berada di pegunungan menahan air agar tidak langsung tumpah ruah seperti banjir bandang yang dapat menghancurkan manusia. Akan tetapi, Allah buat air menyerap perlahan ke muka bumi, terserap oleh akar-akar pohon raksasa dan lapisan tanah yang banyak jumlahnya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan pada sungai-sungai yang mengalir teratur dari pegunungan menuju lautan. Semua perihal ini adalah untuk kemasalahatan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ

“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 33)

Allah lakukan semua yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya untuk faedah dan masalat manusia serta hewan-hewan.

Renungilah, semua yang keluar dari muka bumi adalah untuk faedah manusia dan hewan ternak mereka. Mulai dari pepohonan, biji-bijian yang menjadi makanan pokok, buah-buahan sebagai pelengkap, katun dan wol sebagai busana yang menjaga tubuh, hingga garam yang berasal dari air laut, serta api yang bahan bakarnya adalah pepohonan, baik yang hidup alias yang sudah lama mati.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 3

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Catatan kebanyakan cetakan dan laman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/

Selengkapnya