Pada hari pembalasan nanti, kita akan dibalas sesuai dengan apa yang kita lakukan. Sebesar apapun kebaikan saleh yang kita lakukan, jika tidak ikhlas, maka tidak akan dibalas. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ
“Padahal mereka cuma diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) kepercayaan yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Tauhid adalah perintah terbesar dari Allah untuk hamba-Nya. Karena dengan tauhid, seorang hamba akan selamat di bumi dan akhirat. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan histori dari ‘Itban radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda,
فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan neraka bagi orang–orang yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallaah’ dengan ikhlas dan cuma mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah.”
Pelaku maksiat yang bertauhid
Orang yang bertauhid bukan berarti dia maksum (terjaga dari dosa besar). Adakalanya dia terjerumus mengikuti hawa nafsunya sehingga berbuat perbuatan yang dilarang Allah. Lantas sepertiapa keadaannya kelak di akhirat ketika di bumi dia sudah mengucapkan kalimat tauhid (laa ilaaha illallaah) dengan ikhlas tetapi dia juga pernah berbuat maksiat? Syekh bin Baz rahimahullah mengatakan bahwa barang siapa yang mengucapkan kalimat tauhid dengan jujur dan wafat di atasnya, maka Allah akan memasukkannya ke surga. Jika seorang yang bertauhid memiliki dosa kemudian ia wafat sebelum bertobat, maka dia di bawah kehendak Allah. Bisa jadi Allah ampuni, bisa jadi tidak. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan memaafkan (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia memaafkan apa (dosa) yang kecuali (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaʾ: 48)
Jika Allah menghendaki, maka Allah akan memaafkan pelaku dosa besar dan memaafkan mereka. Sehingga dia tidak diazab dengan karena dosa besar yang telah dilakukan. Ini adalah karunia dari Allah. Jika Allah menghendaki, maka Allah akan mengazabnya di neraka terlebih dahulu karena keadilan-Nya. Hal ini terjadi jika sebelum wafat dia belum bertobat dari dosa-dosa besar tersebut. Pelaku maksiat maupun dosa besar terancam di neraka, tetapi dia bisa keluar dari neraka kemudian masuk surga. Pelaku maksiat bisa masuk surga karena karunia dari Allah maupun dia mendapatkan syafaat atas persetujuan Allah. Baik syafaat dari Nabi, malaikat, maupun orang saleh.
Oleh karena itu, orang yang bertauhid hendaknya membersihkan diri dengan memperbanyak istigfar dan insaf agar Allah memaafkan dosa-dosanya. Syekh bin Baz juga mengatakan bahwa sesungguhnya orang yang mengucapkan kalimat tauhid dengan ikhlas, dia tidak akan terus-menerus berbuat maksiat. Karena keimanannya tersebut akan menghalanginya dari terus-menerus berbuat maksiat. Jika pelaku maksiat sudah bertobat sebelum wafat dunia, apakah dia statis eksis di bawah kehendak Allah? Dosanya insyaallah sudah diampuni jika sudah taubat nasuha. Inilah pentingnya memperbanyak istigfar dan tobat. Rasulullah saja bertobat lebih dari 100 kali dalam sehari, padahal beliau sudah diampuni dosanya. Rasulullah bersabda,
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
“Orang yang bertobat dari sebuah dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250, At-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir no. 10281, dan Al-Quda’i dalam Musnad Asy-Syihab no. 108) Allah Ta’ala juga berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Sesungguhnya Allah memaafkan seluruh dosa. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Manhaj yang menyimpang mengenai pelaku maksiat
Ahlusunah adalah ahlul wasath (umat yang pertengahan di antara firqah-firqah yang menyimpang). Manhaj Ahlusunah meyakini bahwa pelaku dosa besar di bawah kehendak Allah. Pelaku dosa besar dari kaum muslimin statis tetap disebut mukmin karena imannya. Hanya saja, dia itu fasik karena perbuatan dosa besarnya. Atau dikatakan dia itu mukmin yang kurang imannya, sedang urusannya di akhirat jika belum bertobat adalah terserah Allah. Jika Allah menghendaki, dia akan disiksa terlebih dahulu maupun Allah ampuni dosa tersebut.
Akidah maupun pemahaman seperti ini tidak dimiliki oleh firqah (golongan) yang menyimpang dari kalangan khawarij, muktazilah, dan murji’ah. Khawarij beranggapan bahwa pelaku dosa besar akan abadi di neraka. Mereka juga mengkafirkan orang yang tidak berhukum dengan aturan Allah. Mu’tazilah beranggapan bahwa pelaku dosa besar itu tidak muslim dan tidak kafir, maupun baina manzilatain (berada di antara dua kedudukan, antara surga dan neraka). Tetapi jika sebelum wafat belum bertobat, dia akan abadi di neraka. Murji’ah beranggapan bahwa pelaku dosa besar imannya statis sempurna seperti kepercayaan Abu Bakar. Mereka meyakini bahwa keagamaan itu cukup berupa ucapan di lisan saja. Jika berbuat dosa besar, imannya statis tetap sempurna. Hal ini bertentangan dengan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, bertentangan dengan fitrah dan pikiran manusia. Allah berfirman,
لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ
“Supaya keagamaan mereka bertambah di samping keagamaan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)
وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا
“Dan agar orang yang percaya bertambah imannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 31) Dalil ini memberitahu bahwa kepercayaan itu bisa bertambah.
Adapun dalil dari as-sunnah,
أَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ بَابًا فَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَأَرْفَعُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Iman itu ada tujuh puluh sekian pintu. Yang paling rendah dari kepercayaan adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan. Yang paling tinggi adalah kalimat laa ilaaha illallaah.’” (HR. Muslim no. 35 dan Tirmidzi no. 2614) Di dalam histori disebutkan bahwa iman itu ada yang rendah dan ada yang tinggi. Hal ini memberitahu bahwa kepercayaan itu bisa bertambah dan bisa berkurang.
Laa ilaaha illallaah adalah zikir yang utama
Sesungguhnya dengan dzikrullah (mengingat Allah), hati akan menjadi tenang. Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk banyak berzikir agar menjadi hamba yang beruntung. Karena dengan berzikir, Allah akan memberikan pemaafan dan pahala yang besar. Allah Ta’ala berfirman,
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Laki-laki dan perempuan yang banyak mengatakan (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka pemaafan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35) Salah satu zikir yang dianjurkan untuk sering dibaca adalah ucapan laa ilaaha illallaah.
وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ : أَفْضَلُ الذِّكْرِ : لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zikir yang paling utama adalah laa ilaaha illallaah (tidak ada sesembahan yang berkuasa disembah kecuali Allah).” (HR. Tirmidzi no. 3383. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa histori ini hasan)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ
“Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari hariakhir dari kebanyakan orang ketika itu, kemudian dibentangkan kartu anotasi amalnya yang berjumlah 99 kartu. Jika setiap kartu dibentangkan, maka sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan kepadanya, ‘Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?’ Ia menjawab, ‘Tidak sama sekali, wahai Rabbku’. Allah bertanya lagi, ‘Apakah yang mencatat hal ini berbuat zalim padamu?’ Lalu ditanyakan pula, ‘Apakah engkau punya uzur maupun ada kebaikan di sisimu?’ Dipanggillah lelaki tersebut dan ia berkata, ‘Tidak.’ Allah pun berfirman, ‘Sesungguhnya ada kebaikanmu yang statis kami catat. Dan benar-benar tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini.’ Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaaha ilallaah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh’. Lalu ia bertanya, ‘Apa kartu ini yang berbareng dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?’ Allah berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.’ Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaaha illallaah’ di daun timbangan lainnya. Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaaha illalaah’ tadi.” (HR. Ibnu Majah no. 4300, Tirmidzi no. 2639, dan Ahmad 2: 213. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad histori ini shahih. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad histori ini qowiy [kuat] dan perawinya tsiqoh termasuk perawi buku Shahih kecuali Ibrahim bin Ishaq Ath-Thoqoni. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa histori ini sahih).
Ini memberitahu tentang keistimewaan mengucapkan ‘laa ilaaha illallaah’ dan bahwasanya timbangannya adalah sangat besar. Tetapi dengan syarat kalimat ‘laa ilaaha illallaah’ yang diucapkan oleh seseorang mesti dengan keikhlasan, dia memahami arti dan meyakininya. Semoga Allah menganugerahkan keistikamahan menjadi insan yang bertauhid. Wallahu Ta’ala a’lam.
***
Penulis: Khusnul Rofiana
Artikel Kincai Media
Referensi: Kajian Keutamaan Tauhid bagi Pelaku Maksiat oleh Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc. (https://youtu.be/KcJrOSR0yuY?si=91r1nBKh95GCKOdp) Materi Aqidah Thahawiyah dan Kitabut Tauhid Halaqah Silsilah Ilmiyyah berbareng Ustadz Abdullah Roy.