Khutbah Jumat Muharram: Mengawali Tahun Hijriah dengan Kebaikan dan KeberkahanKincai Media – Dalam almanak Islam, tahun baru dimulai dengan bulan Muharram. Bulan penanda awal tahun Hijriah. Bulan ini membawa pesan krusial tentang gimana seorang Muslim memulai lembaran baru dengan semangat kebaikan. Berikut, Khutbah Jumat Muharram: Mengawali Tahun Hijriah dengan Kebaikan dan Keberkahan
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى : اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ ٣٦
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu melangkah di atas jalan yang diridai-Nya.
Hadirin jamaah khutbah Jumat Muharram yang dirahmati Allah,
Setiap pergantian waktu selalu menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar bergesernya nomor pada kalender. Ada yang memandang tahun baru sebagai kesempatan membikin sasaran baru, menyusun rencana, alias memperbaiki hal-hal yang belum tercapai.
Dalam tradisi Islam, pergantian tahun mempunyai nuansa yang lebih reflektif. Tahun baru Hijriah dimulai dengan bulan Muharram, sebuah bulan yang membujuk manusia untuk berakhir sejenak, memandang kembali perjalanan hidup, lampau bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita menjadi lebih baik?
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1971), jilid I, laman 309 memberikan pesan yang sederhana tetapi penuh makna. Menurut beliau, Muharram adalah permulaan tahun. Maka, sangat baik jika awal tahun dibangun dengan kebaikan agar keberkahannya dapat menyertai perjalanan bulan-bulan berikutnya.
Bagi Al-Ghazali, waktu bukan hanya kumpulan hari yang datang dan pergi. Waktu adalah amanah. Setiap awal adalah pintu yang menentukan langkah setelahnya. Seperti sebuah gedung yang memerlukan pondasi kuat agar bisa berdiri lama, perjalanan satu tahun juga memerlukan awal yang baik.
Hadirin jamaah khutbah Jumat Muharram yang dirahmati Allah,
Sebuah niat baik di awal perjalanan mungkin terlihat kecil, tetapi dia dapat menjadi arah yang menentukan. Karena itu, Muharram bukan hanya tentang pergantian kalender, melainkan kesempatan untuk memperbaiki hati, meluruskan niat, dan kembali menata hubungan dengan Allah maupun sesama manusia.
Dalam Islam, Muharram termasuk salah satu bulan yang dimuliakan alias dikenal dengan istilah Asyhurul Hurum (bulan-bulan haram). Allah menjelaskan bahwa jumlah bulan dalam setahun ada dua belas, dan di antaranya terdapat empat bulan yang mempunyai kedudukan khusus, ialah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Dalam sebuah sabda Rasulullah bersabda;
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ
Artinya; “Sesungguhnya waktu telah kembali berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya terdapat empat bulan yang dimuliakan (bulan haram), ialah tiga bulan yang berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram; serta Rajab (yang dikenal sebagai Rajab Mudhar).” (Imam Bukhari dan Muslim).
Hadirin jamaah khutbah Jumat Muharram yang dirahmati Allah,
Bulan-bulan ini menjadi pengingat bahwa tidak semua waktu mempunyai kedudukan yang sama. Ada masa ketika manusia diajak untuk lebih menjaga diri, lebih berhati-hati dalam bertindak, dan lebih serius memperbaiki kehidupan.
Allah berfirman dalam surah At-Taubah ayat 36;
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ ٣٦
Artinya; Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.
Itulah (ketetapan) kepercayaan yang lurus, maka janganlah Anda menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi Anda semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berbareng orang-orang yang bertakwa.
Hadirin jamaah khutbah Jumat Muharram yang dirahmati Allah,
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Tafsir Marah Labib, Jilid I, laman 447 menjelaskan bahwa pada bulan-bulan haram, manusia dilarang menzalimi dirinya sendiri dengan melakukan dosa dan perbuatan buruk.
Pesan ini menunjukkan bahwa keburukan bukan hanya soal merugikan orang lain, tetapi juga tentang merusak diri sendiri. Setiap kali manusia melakukan sesuatu yang menjauhkan dirinya dari kebaikan, sebenarnya dia sedang mengambil sesuatu yang berbobot dari dirinya sendiri.
Ibnu Abbas juga memberikan pandangan yang menarik. Menurut beliau, larangan melakukan kejam bukan hanya terbatas pada empat bulan haram, tetapi menjadi pengingat agar manusia tidak membiasakan diri dengan keburukan sepanjang hidupnya. Sebab, hati manusia bisa terbentuk dari kebiasaan.
Jika seseorang terbiasa menunda kebaikan, maka semakin susah baginya untuk berubah. Namun jika dia membiasakan diri dengan kebaikan baik, perlahan kebaikan itu bakal menjadi bagian dari karakternya.
Karena itu, mengisi bulan Muharram dengan kebaikan tidak kudu selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, perubahan justru tumbuh dari hal-hal sederhana yang sering dianggap kecil.
Seperti, meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti. Menghubungi family yang lama tidak disapa. Membantu orang yang sedang kesulitan. Menahan kemarahan ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan. Semua itu adalah corak kebaikan yang mempunyai nilai besar di sisi Allah.
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: “Seorang Muslim adalah orang yang sanggup menjamin keselamatan orang-orang Muslim lainnya dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadirin jamaah khutbah Jumat yang dirahmati Allah,
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, pesan Muharram terasa semakin penting. Banyak orang sibuk mengejar pencapaian, tetapi lupa memperhatikan kondisi batinnya. Banyak yang mau mengubah keadaan, tetapi lupa bahwa perubahan paling awal kudu dimulai dari dalam diri.
Muharram datang sebagai pengingat lembut bahwa manusia tidak hanya perlu memperbaiki apa yang terlihat, tetapi juga membersihkan apa yang tersimpan di dalam hati.
Pada akhirnya, tahun baru Hijriah adalah sebuah laman kosong. Setiap manusia mempunyai kesempatan untuk menulis cerita yang berbeda. Ada yang mengisinya dengan penyesalan, ada pula yang memilih mengisinya dengan perbaikan.
Tidak ada yang tahu berapa panjang perjalanan yang tetap tersisa, tetapi setiap orang mempunyai kesempatan untuk menentukan gimana perjalanan itu dijalani.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat 218;
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Baqarah ayat 218).
Hadirin jamaah khutbah Jumat yang dirahmati Allah,
Maka, mengawali Muharram dengan kebaikan bukan sekadar tradisi alias kebiasaan tahunan. Ia adalah langkah untuk mengingatkan diri bahwa hidup selalu mempunyai kesempatan kedua. Dan seperti nasihat Imam Al-Ghazali, sebuah perjalanan yang baik sebaiknya dimulai dari langkah pertama yang baik.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ آمِينَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
___
English (US) ·
Indonesian (ID) ·