Khutbah Jumat: Shalat Istisqa, Ikhtiar di Tengah Kekeringan dan Harapan kepada Allah

Bincang Syariah oleh Waktu baca 7 menit 509x dilihat
Khutbah Jumat: Shalat Istisqa, Ikhtiar di Tengah Kekeringan dan Harapan kepada Allah

Bagikan Postingan

 Shalat Istisqa, Ikhtiar di Tengah Kekeringan dan Harapan kepada AllahKhutbah Jumat: Shalat Istisqa, Ikhtiar di Tengah Kekeringan dan Harapan kepada Allah

Kincai Media– Kekeringan merupakan salah satu kondisi yang dapat memberikan akibat besar bagi kehidupan manusia. Berkurangnya curah hujan tidak hanya menyebabkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air, tetapi juga dapat mengganggu pertanian, perekonomian, dan keseimbangan lingkungan. Nah berikut Khutbah Jumat tentang shalat Istisqa, ikhtiar di tengah kekeringan dan angan kepada Allah.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلىَ عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ، الَّذِي خَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلىَ خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجَابِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْأَحْبَابُ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْوَهَّابِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Jamaah shalat khutbah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya diwujudkan melalui ibadah yang berkarakter ritual, tetapi juga melalui kesadaran bahwa kehidupan kita sepenuhnya berjuntai kepada Allah Swt. Karena itu, kita pun mempunyai tanggungjawab untuk menjaga kehidupan dan segala nikmat yang telah dianugerahkan-Nya.

Salah satu nikmat yang sering kali baru kita sadari nilainya ketika mulai susah diperoleh adalah air. Ketika hujan tak kunjung turun, tanah mulai retak. Sawah mengering. Sungai menyusut. Waduk dan embung kehilangan cadangannya. Sumber-sumber air semakin sedikit.

Para petani mulai mencemaskan tanaman mereka. Masyarakat pun perlahan merasakan sesuatu yang selama ini mungkin dianggap biasa: bahwa nyaris seluruh kehidupan manusia berjuntai kepada air.

Allah Swt. berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

Artinya; “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.”(QS. Al-Anbiya: 30)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Air adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Karena itu, ketika hujan tidak turun dalam waktu yang panjang dan manusia berada dalam kebutuhan terhadap air, Islam tidak mengajarkan kita untuk berpangku tangan.

Islam mengajarkan kita untuk kembali kepada Allah Swt., memohon pertolongan-Nya, memperbanyak angan dan istighfar, sekaligus melakukan beragam ikhtiar yang bisa kita lakukan. Salah satu corak ibadah yang diajarkan dalam keadaan seperti ini adalah shalat istisqa, ialah shalat untuk memohon kepada Allah Swt. agar menurunkan hujan.

Jamaah shalat khutbah Jumat rahimakumullah,

Rasulullah sendiri pernah melaksanakan shalat istisqa. Dalam sabda yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَاسْتَسْقَى، فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، وَقَلَبَ رِدَاءَهُ، وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Artinya; “Sesungguhnya Nabi ﷺ keluar menuju tempat shalat untuk melaksanakan istisqa. Beliau menghadap kiblat, membalik kain selendangnya, kemudian melaksanakan shalat dua rakaat.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa ketika manusia menghadapi kesulitan lantaran kekurangan air, Islam mengajarkan sebuah jalan spiritual: kembali kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, memperbanyak angan dan istighfar, serta melaksanakan shalat.

Dalam Ithaf as-Sadat al-Muttaqin, Imam Murtadha az-Zabidi menjelaskan bahwa istisqa adalah memohon air kepada Allah ketika manusia membutuhkannya. Sementara itu, Imam an-Nawawi dalam Raudhah ath-Thalibin menjelaskan bahwa istisqa mempunyai beberapa tingkatan.

Tingkatan yang paling sederhana adalah bermohon memohon hujan. Berikutnya, memperbanyak angan pada beragam kesempatan. Adapun corak yang paling utama adalah melaksanakan shalat istisqa dua rakaat yang disertai khutbah.

Dengan demikian, istisqa bukan sekadar ritual yang dilakukan ketika tandus sudah menjadi parah. Lebih dari itu, istisqa merupakan pengakuan bahwa manusia mempunyai keterbatasan dan bahwa di kembali seluruh keahlian serta ikhtiar manusia terdapat kehendak Allah Swt.

Jamaah shalat khutbah Jumat rahimakumullah,

Shalat Istisqa adalah Sunnah Muakkadah. Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj menjelaskan bahwa shalat istisqa hukumnya sunnah muakkadah, sebagaimana shalat Id. Pensyariatannya didasarkan pada praktik Rasulullah dan kemudian dilanjutkan oleh para khalifah setelah beliau.

Artinya, ketika masyarakat mengalami kebutuhan terhadap air, terlebih dalam kondisi tandus panjang, shalat istisqa merupakan salah satu sunnah yang patut kita hidupkan.

Namun, ada satu perihal krusial yang kudu kita pahami bersama: shalat istisqa bukan pengganti ikhtiar.

Berdoa kepada Allah tidak berfaedah kita boleh berakhir berusaha. Sebaliknya, dalam Islam, angan dan ikhtiar justru melangkah bersama. Seorang Muslim tidak cukup hanya menengadahkan tangannya ke langit. Ia juga kudu menggerakkan tangannya untuk mencari jalan keluar dari kesulitan.

Allah Swt. berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

Artinya; “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan menuntut usaha. Tawakal tidak sama dengan menyerah. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah manusia mengerahkan keahlian yang dimilikinya.

Karena itu, ketika kita bermohon memohon hujan, pada saat yang sama kita kudu bertanya: apa yang dapat kita lakukan untuk menghadapi kekeringan ini?

Di sinilah angan kudu berjumpa dengan ikhtiar. Berdoa kepada Allah, Berikhtiar di Bumi. Ketika kekeringan terjadi, setiap pihak mempunyai corak ikhtiar yang dapat dilakukan sesuai dengan keahlian dan tanggung jawabnya.

Masyarakat dapat menghemat penggunaan air, menjaga sumber mata air, memperbaiki lingkungan, memperluas daerah resapan, menjaga hutan, serta membangun dan merawat tempat-tempat penampungan air.

Para petani dapat menyesuaikan pola tanam dengan kondisi air yang tersedia. Para mahir dapat mengembangkan teknologi yang membantu menghadapi persoalan kekeringan. Sementara itu, pemerintah mempunyai tanggung jawab yang lebih besar lantaran mempunyai kewenangan, sumber daya, data, dan keahlian untuk melakukan langkah-langkah antisipatif dalam skala luas.

Dengan demikian, kepercayaan dan pengetahuan pengetahuan semestinya tidak dipertentangkan. Keduanya dapat melangkah berbareng dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Di tengah perkembangan teknologi meteorologi, salah satu corak ikhtiar yang dapat dilakukan adalah operasi modifikasi cuaca alias rekayasa cuaca, ketika kondisi atmosfer memang memungkinkan.

Rekayasa cuaca bukanlah sihir. Teknologi ini tidak berfaedah manusia bisa menciptakan hujan sesuka hati. Hujan tetap berada dalam ketentuan dan kehendak Allah Swt. Teknologi hanyalah sarana yang digunakan manusia untuk memanfaatkan kondisi awan dan atmosfer yang tersedia berasas kajian ilmiah.

Karena itu, tidak ada pertentangan antara shalat istisqa dan teknologi. Tidak ada pertentangan antara angan dan pengetahuan pengetahuan. Dan tidak ada pertentangan antara tawakal dan ikhtiar.

Justru seorang Muslim diperintahkan untuk bermohon kepada Allah sekaligus menggunakan ilmu, akal, tenaga, dan keahlian yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya.

Jamaah shalat khutbah Jumat rahimakumullah,

Karena itu, ketika tandus panjang terjadi, jangan sampai kita berakhir hanya pada rayuan untuk berdoa.

Shalat istisqa penting. Doa penting. Istighfar penting. Tetapi ikhtiar juga penting. Dan dalam skala yang lebih luas, pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk datang melalui kebijakan dan tindakan nyata.

Tidak cukup bagi negara hanya membujuk masyarakat menengadahkan tangan ke langit, sementara di lapangan masyarakat menghadapi sawah yang mengering, waduk yang menyusut, sumber air yang menipis, dan ancaman kandas panen.

Doa adalah ikhtiar spiritual. Sementara itu, negara mempunyai tanggung jawab menghadirkan ikhtiar melalui kebijakan, pelayanan publik, pengelolaan sumber daya, dan pemanfaatan teknologi.

Karena itu, pemerintah perlu melakukan langkah antisipatif ketika parameter kekeringan mulai terlihat. Data cuaca, prakiraan musim, kondisi waduk, kesiapan air, dan kebutuhan pertanian kudu menjadi bagian dari dasar pengambilan keputusan.

Jika kondisi atmosfer memungkinkan, operasi modifikasi cuaca patut dipertimbangkan dan dilaksanakan secara serius, terukur, serta berbasis kajian ilmiah.

Pada saat yang sama, pemerintah perlu mengoptimalkan waduk dan embung, memperbaiki jaringan irigasi, memastikan pengedaran air, menjaga sumber-sumber air, serta memberikan perlindungan kepada masyarakat dan petani yang terdampak kekeringan.

Sebab, tugas pemerintah bukan hanya membujuk rakyat bermohon ketika kesulitan datang. Pemerintah juga bertanggung jawab mencegah, mengantisipasi, dan mengurangi akibat kesulitan yang dihadapi masyarakat.

Jamaah shalat khutbah Jumat rahimakumullah,

Pada akhirnya, tandus panjang mengajarkan kepada kita sebuah keseimbangan krusial dalam kehidupan seorang Muslim.

Mari kita menghidupkan shalat istisqa. Mari memperbanyak istighfar. Mari memohon kepada Allah agar hujan segera diturunkan.

Namun, berbarengan dengan itu, mari kita juga bekerja. Tangan yang menengadah kepada Allah dalam angan kudu melangkah berbareng tangan yang bekerja di bumi.

Kita bermohon lantaran kita adalah hamba Allah. Kita berupaya lantaran Allah memberikan akal, ilmu, tenaga, dan keahlian kepada kita. Dan setelah seluruh upaya dilakukan, kita menyerahkan hasilnya kepada Allah Swt.

Allah Swt. berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

Artinya; “Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”(QS. Ali ‘Imran: 159)

Semoga Allah mengakhiri kekeringan yang kita hadapi. Semoga Allah menurunkan hujan yang membawa manfaat, menyelamatkan tanaman dan ternak, menjaga sumber-sumber air, serta memberikan kekuatan kepada pemerintah dan seluruh masyarakat dalam menghadapi setiap kesulitan.

Semoga Allah membimbing kita menjadi hamba-hamba-Nya yang tidak hanya pandai berdoa, tetapi juga bersungguh-sungguh dalam berikhtiar; yang tidak hanya bertawakal, tetapi juga menggunakan pengetahuan dan keahlian yang telah Allah anugerahkan.

Semoga setiap angan yang kita panjatkan, setiap ikhtiar yang kita lakukan, dan setiap kebijakan yang diambil untuk kemaslahatan masyarakat menjadi jalan turunnya rahmat Allah Swt. kepada kita semua.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ،

اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Artikel Lainnya Bincang Syariah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads