Kisah Dokter yang Dipaksa Pensiun, Justru Dirikan Klinik Cikal Bakal Bayi Tabung Pertama AS

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 509x dilihat
Kisah Dokter yang Dipaksa Pensiun, Justru Dirikan Klinik Cikal Bakal Bayi Tabung Pertama AS

Bagikan Postingan

Jakarta -

Bunda mungkin mengenal program bayi tabung maupun in vitro fertilization (IVF) sebagai salah satu teknologi reproduksi berbantu yang banyak digunakan pasangan untuk mendapatkan keturunan. Namun, perjalanan IVF hingga menjadi prosedur medis seperti kini rupanya tidak terjadi dalam waktu singkat.

Salah satu sosok krusial di balik sejarah IVF di Amerika Serikat adalah Dr. Georgeanna Seegar Jones, seorang tabib ahli endokrinologi reproduksi. Menariknya, salah satu tonggak terbesar dalam kariernya justru terjadi setelah ia mesti meninggalkan Johns Hopkins karena ketentuan usia pensiun.

Bersama suaminya, Dr. Howard W. Jones Jr., Georgeanna kemudian membangun program IVF di Virginia. Program tersebut akhirnya menghasilkan kelahiran bayi IVF pertama di Amerika Serikat pada 1981.


Kisah Georgeanna pun balik mendapat perhatian pada 2026 setelah namanya masuk dalam National Women's Hall of Fame, sebagai penghormatan atas kontribusinya dalam sektor kedokteran dan kesehatan reproduksi. Berikut kisahnya dikutip dari People.

Siapa Dr. Georgeanna Seegar Jones?

Georgeanna Seegar Jones lahir di Baltimore, Maryland, pada 1912. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Johns Hopkins University School of Medicine dan lulus pada 1936.

Sejak statis menjadi mahasiswa kedokteran, Georgeanna telah berbuat riset krusial mengenai hormon kehamilan. Ia memberitahu bahwa hormon yang kemudian dikenal sebagai human chorionic gonadotropin (hCG) berasal dari plasenta, bukan kelenjar pituitari seperti yang sebelumnya diyakini.

Setelah menyelesaikan pendidikan dan pelatihannya, Georgeanna menjadi salah satu figur krusial dalam evolusi endokrinologi reproduksi.

Pada 1939, ia mendirikan Divisi Endokrinologi Reproduksi di Johns Hopkins. Ia juga tercatat sebagai tabib ahli endokrinologi ginekologi penuh waktu pertama di fakultas kedokteran Amerika Serikat.

Bidang yang ditekuninya berhubungan erat dengan hormon, menstruasi, kesuburan, kehamilan, hingga keguguran berulang.

Karier Georgeanna sempat terhenti karena ketentuan pensiun

Selama puluhan tahun, Georgeanna dan Howard bekerja di Johns Hopkins. Keduanya kemudian menjadi pasangan tabib yang sama-sama berkontribusi besar terhadap evolusi ilmu reproduksi.

Namun, pada 1978, perjalanan mereka di Johns Hopkins berakhir karena ketentuan institusi yang mengharuskan tabib pensiun pada usia 65 tahun. Howard mendapat tambahan waktu untuk statis bekerja agar masa pensiunnya dapat bertepatan dengan Georgeanna. Setelah itu, keduanya meninggalkan Johns Hopkins.

Jika mengikuti alur hayat pada umumnya, masa tersebut mungkin menjadi waktu bagi mereka untuk benar-benar selesai bekerja. Namun, rupanya justru sebaliknya.

Tak durasi setelah itu, pasangan tersebut mendapat kesempatan bergabung dengan Eastern Virginia Medical School (EVMS) di Norfolk, Virginia. Di sana, mereka diminta membantu mengembangkan program reproduksi.

Pada tahun yang sama, bumi baru saja menyaksikan kelahiran Louise Brown, bayi pertama di bumi yang lahir melalui IVF di Inggris. Kabar tersebut menjadi pemicu bagi Georgeanna dan Howard untuk mencoba mengembangkan teknologi serupa di Amerika Serikat.

Dari rumah baru hingga mendirikan program IVF

Saat Georgeanna dan Howard baru tiba di Norfolk pada 1978, seorang jurnalis datang dan bertanya apakah bayi tabung juga dapat dilakukan di Amerika Serikat. Jawaban Howard ketika itu cukup sederhana: yang mereka perlukan adalah uang.

Setelah pemberitaan tersebut muncul, sokongan finansial mulai berdatangan dan pasangan tersebut dapat mengembangkan program IVF di Norfolk. Mereka kemudian mendirikan program IVF yang menjadi cikal akan Jones Institute for Reproductive Medicine.

Perjalanan menuju keberhasilan tidak mudah. Pada tahap awal, mereka mencoba IVF dengan siklus alami. Namun, sejumlah prosedur pengambilan sel telur tidak menghasilkan kehamilan.

Sebuah tinjauan sejarah evolusi IVF mencatat bahwa selama tahun pertama, lebih dari 40 pasien menjalani upaya pengambilan sel telur dengan pendekatan tersebut, tetapi belum menghasilkan kehamilan. Georgeanna kemudian berpartisipasi krusial dalam fluktuasi strategi.

Tim mulai menggunakan stimulasi ovarium dengan gonadotropin untuk membantu menghasilkan lebih banyak sel telur yang dapat digunakan dalam proses IVF.

Elizabeth Carr, bayi IVF pertama di Amerika Serikat

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil.

Pada 1981, tim Georgeanna dan Howard berhasil memperoleh kehamilan melalui IVF. Bayi perempuan disebut Elizabeth Jordan Carr kemudian lahir pada Desember 1981 dan tercatat sebagai bayi pertama di Amerika Serikat yang lahir melalui IVF.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu tonggak krusial dalam sejarah pengobatan infertilitas di Amerika Serikat.

Dalam anotasi sejarah evolusi stimulasi ovarium, pada 1981 program Norfolk berbuat puluhan prosedur laparoskopi dan transfer embrio. Dari rangkaian upaya tersebut, tujuh kehamilan berhasil berkembang hingga persalinan.

Keberhasilan tim Jones kemudian ikut menguatkan penggunaan stimulasi ovarium untuk membantu memperoleh beberapa sel telur dalam satu siklus IVF.

Georgeanna sudah meneliti kesuburan jauh sebelum IVF berhasil

Kontribusi Georgeanna sebenarnya tidak cuma berhubungan dengan kelahiran bayi IVF pertama di Amerika. Jauh sebelum pindah ke Virginia, ia telah berbuat beragam riset mengenai gangguan kesuburan.

Dikutip dari National Library of Medicine mencatat bahwa pada 1949 Georgeanna menjadi orang pertama yang mendeskripsikan kondisi yang kemudian dikenal sebagai luteal phase defect, yang saat itu dikaitkan dengan infertilitas.

Pada 1969, ia juga mengidentifikasi dan mendeskripsikan ovarian resistance syndrome serta memberitahu bahwa stimulasi dengan gonadotropin tertentu dapat menaikkan jumlah sel telur yang tersedia untuk IVF.

Pengetahuan mengenai stimulasi ovarium tersebut kemudian menjadi bagiankecil krusial dalam evolusi teknologi reproduksi berbantu.

Georgeanna dan Howard pernah bergesekan dengan sejarah mula IVF

Menariknya, minat pasangan Jones terhadap IVF sebenarnya sudah muncul jauh sebelum mereka membangun program di Virginia.

Pada 1965, ilmuwan Inggris Robert Edwards datang ke Johns Hopkins. Saat itu, Edwards tengah berbuat riset mengenai kemungkinan membuahi sel telur manusia di luar tubuh.

Howard dan Georgeanna membantu riset tersebut. Howard menyediakan jaringan ovarium untuk penelitian, sementara tim Edwards berbuat percobaan di laboratorium.

Edwards kemudian melanjutkan riset berbareng tabib Patrick Steptoe di Inggris. Keduanya akhirnya berhasil menghasilkan kehamilan IVF pertama di bumi yang berujung pada kelahiran Louise Brown pada 1978.

Pengalaman mula tersebut menjadi salah satu bagiankecil dari fondasi ilmiah yang kemudian membantu Georgeanna dan Howard ketika membangun program IVF di Amerika.

Penelitian IVF terus berkembang hingga sekarang

Teknologi IVF yang digunakan saat ini tentu sudah jauh berkembang dibandingkan prosedur pada mula 1980-an.

Dalam IVF, sel telur diambil dari ovarium kemudian dipertemukan dengan sperma di laboratorium. Embrio yang berkembang selanjutnya dapat dipindahkan ke rahim.

Perkembangan riset juga membikin tabib memiliki lebih banyak pilihan untuk berbuat stimulasi ovarium, pemantauan evolusi folikel, pengambilan sel telur, kultur embrio, hingga pemilihan waktu transfer embrio.

Sejumlah riset sejarah IVF memberitahu bahwa penggunaan stimulasi ovarium untuk menghasilkan beberapa sel telur menjadi salah satu evolusi krusial dalam menaikkan kesempatan memperoleh embrio untuk transfer. Namun, pendekatan ini juga membutuhkan pemantauan karena stimulasi ovarium memiliki risiko, termasuk kehamilan multipel dan ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS).

Artinya, teknologi bayi tabung yang dikenal Bunda kini merupakan hasil dari perjalanan riset selama puluhan tahun dan melibatkan banyak ilmuwan serta tabib dari beragam negara.

Warisan Dr. Georgeanna Seegar Jones

Georgeanna terus berkarya di sektor reproduksi setelah pindah ke Virginia. Ia dan Howard menjadi figur krusial dalam evolusi kedokteran reproduksi di Amerika Serikat.

Johns Hopkins mencatat bahwa Georgeanna merupakan perempuan pertama yang menjadi presiden American Fertility Society, perkumpulan yang kini dikenal sebagai American Society for Reproductive Medicine (ASRM), pada 1970.

Georgeanna wafat pada 2005 dalam usia 92 tahun.

Namun, kontribusinya terhadap pengobatan infertilitas terus dikenang. Pada September 2026, ia secara anumerta dilantik ke dalam National Women's Hall of Fame. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas perjalanan panjangnya dalam riset hormon, kesuburan, dan evolusi reproduksi berbantu.

Kisah Georgeanna memberitahu bahwa usia pensiun rupanya bukan akhir dari perjalanan kariernya. Justru setelah meninggalkan Johns Hopkins, ia berbareng suaminya melanjutkan riset yang kemudian membantu membuka era baru teknologi bayi tabung di Amerika Serikat.

Bagi pasangan yang menjalani program IVF saat ini, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi reproduksi yang tersedia kini dibangun melalui riset panjang, percobaan berulang, dan kontribusi banyak ilmuwan dari generasi ke generasi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads