Kisah Haru Bunda Melahirkan Bayi Sehat meski Jalani Kemoterapi saat Hamil

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 514x dilihat
Kisah Haru Bunda Melahirkan Bayi Sehat meski Jalani Kemoterapi saat Hamil

Bagikan Postingan

Jakarta -

Membayangkan mesti menjalani kehamilan sambil melawan kanker tentu bukan hal yang mudah. Di satu sisi, seorang ibu mau menjaga kesehatan dirinya. Di sisi lain, ada janin yang sedang tumbuh di dalam kandungan dan mesti dilindungi.

Hal tersebut dialami Jya Banks, perempuan 28 tahun asal Sunshine Coast, Australia. Saat sedang hamil anak pertamanya, Jya justru mendapatkan pengecekan kanker darah.

Jya didiagnosis mengalami Hodgkin lymphoma stadium lanjut ketika usia kehamilannya baru 14 minggu. Dokter menemukan sejumlah massa maupun benjolan di tubuhnya, termasuk di leher, ketiak, dada, dan perut. Salah satu massa di bagiankecil perut terlebihlagi berukuran sekitar 10 sentimeter.


"Saya pikir aku akan wafat dalam lima tahun," kata Jya, dikutip dari ABC News.

Di tengah rasa takut tersebut, Jya dan pasangannya, Betha, juga mesti menghadapi pertanyaan besar: Bagaimana dengan bayi yang sedang dikandungnya?

Tetap hamil sambil melawan kanker

Setelah berbincang dengan tim medis, Jya memutuskan statis melanjutkan kehamilannya sambil menjalani pengobatan kanker.

Ia mulai menjalani kemoterapi ketika usia kehamilannya memasuki sekitar 15 minggu. Penanganannya melibatkan tim medis dari beragam sektor untuk memantau kondisi Jya sekaligus evolusi janin.

Selama menjalani kemoterapi, Jya mengalami beragam efek samping. Ia merasakan kelelahan, mual, anemia, kadar zat besi rendah hingga demam akibat pengobatan.

Namun, perjuangannya tidak selesai di sana. Kehamilan Jya terus dipantau secara ketat oleh tim medis. Dokter perlu memastikan pengobatan kanker statis dapat diberikan tanpa mengabaikan kondisi janin di dalam kandungan.

Menjalani kemoterapi saat hamil

Mungkin banyak Bunda bertanya-tanya, bukankah kemoterapi merupakan pengobatan yang sangat kuat? Lantas, sepertiapa bisa diberikan kepada ibu yang sedang hamil?

Jawabannya, kemoterapi pada kehamilan memang dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, tetapi tidak semua jenis obat dan tidak pada semua usia kehamilan.

Waktu pemberian menjadi salah satu penilaian penting. Pada trimester pertama, janin sedang mengalami pembentukan organ-organ utama. Karena itu, paparan obat tertentu pada masa tersebut dapat menaikkan konsekuensi gangguan evolusi janin.

Setelah trimester pertama, beberapa jenis kemoterapi dapat dipertimbangkan untuk kondisi kanker tertentu. Namun, keputusan tersebut mesti dibuat oleh tabib berdasarkan jenis kanker, stadium penyakit, obat yang diperlukan, usia kehamilan, serta kondisi ibu dan janin. Dengan kata lain, pengobatan setiap Bunda bisa berbeda.

Setelah kemoterapi, Bunda ini melahirkan bayi sehat

Setelah melewati beragam tantangan selama kehamilan, Jya akhirnya mendapatkan momen yang selama ini dinantikannya. Pada 20 Juli 2026, ia melahirkan putranya yang diberi nama Harvey Banks.

Harvey lahir ketika usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan bermutu badan sedikit lebih dari 2 kilogram. Bayi tersebut dilaporkan dalam kondisi sehat dan cuma perlu menjalani perawatan di rumah sakit selama satu malam.

Kelahiran Harvey tentu menjadi kebahagiaan besar bagi Jya dan Betha setelah berbulan-bulan menghadapi ketidakpastian. Tak selesai sampai di situ, sekitar tiga minggu setelah melahirkan, Jya juga mendapatkan berita baik mengenai kondisi kankernya. Penyakit tersebut dinyatakan mengalami remisi.

Kisah Jya pun menjadi perjalanan panjang dari pengecekan kanker, menjalani kemoterapi saat hamil, hingga akhirnya dapat menggendong bayi yang sehat.

Kanker saat hamil memang bisa terjadi

Kasus seperti yang dialami Jya tergolong kompleks. Kanker yang ditemukan ketika seseorang sedang hamil membutuhkan penilaian medis yang sangat awas karena tabib mesti menangani dua kondisi sekaligus, yaitu kesehatan ibu dan evolusi janin.

Jenis kanker yang dialami, stadium, usia kehamilan, serta terapi yang diperlukan akan menentukan pilihan pengobatan. Karena itu, ketika kanker ditemukan saat hamil, tabib biasanya akan melibatkan tim multidisiplin. Tim tersebut dapat terdiri dari tabib kanker, tabib kandungan, ahli fetomaternal, neonatolog, hingga tenaga kesehatan lainnya.

Tujuannya bukan cuma mengobati kanker, tetapi juga mempertimbangkan keselamatan dan evolusi bayi.

Kemoterapi bisa memengaruhi kesuburan Bunda

Perjuangan melawan kanker juga dapat membawa tantangan lain bagi perempuan yang statis mau memiliki anak di kemudian hari.

National Cancer Institute (NCI) menerangkan bahwa sejumlah pengobatan kanker, termasuk kemoterapi, dapat memengaruhi kesuburan perempuan. Besarnya konsekuensi bersandar pada beberapa faktor, seperti jenis obat, dosis, durasi pengobatan, usia pasien, serta kondisi kesuburan sebelum terapi.

Beberapa obat kemoterapi dapat memengaruhi ovarium dan jumlah sel telur. Karena itu, perempuan yang baru mendapatkan pengecekan kanker dan statis memiliki hajat untuk memiliki anak dapat mendiskusikan pilihan preservasi kesuburan dengan tabib sebelum pengobatan dimulai.

Salah satu pilihan yang mungkin tersedia adalah pembekuan sel telur maupun embrio. Namun, metode yang dapat dilakukan akan bersandar pada kondisi masing-masing pasien dan seberapa cepat pengobatan kanker mesti dimulai.

Setiap kehamilan dan kasus kanker berbeda

Kisah Jya memang berakhir dengan kelahiran bayi yang sehat. Namun, pengalaman tersebut tidak berarti semua ibu hamil dengan kanker dapat menjalani kemoterapi dengan metode yang sama.

Pengobatan kanker selama kehamilan mesti direncanakan secara individual oleh dokter. Dalam kondisi tertentu, tabib mungkin memilih memberikan terapi saat kehamilan statis berlangsung. Pada kondisi lain, pilihan pengobatan dapat berbeda.

Dengan penanganan dari tim medis yang tepat, tabib dapat membantu mempertimbangkan pilihan terapi yang paling sesuai dengan kondisi ibu dan evolusi bayi.

Bagi Jya, perjalanan tersebut akhirnya mempertemukannya dengan Harvey. Setelah melewati ketakutan, kemoterapi, dan kehamilan yang penuh tantangan, kini ia bisa menjalani hari-harinya sebagai seorang ibu berbareng putranya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads