Kisah Pejabat Mengembalikan Gajinya Ke Baitul Mal, Menjelang Wafat Tak Tinggalkan Harta Berlimpah

Jul 02, 2026 08:47 AM - 3 hari yang lalu 4411

Kincai Media ,JAKARTA -- Jabatan sebagai pemimpin umat tidak membuat Abu Bakar As Shiddiq hidup bermewah-mewahan. Sepanjang masa kekhalifahannya, dia dikenal sangat berhati-hati menggunakan kekayaan Baitul Mal. Bahkan menjelang wafat, Abu Bakar beramanat agar seluruh penghasilan yang pernah diterimanya dikembalikan, sementara kekayaan yang ditinggalkannya hanyalah beberapa peralatan sederhana.

Dikisahkan, Abu Bakar As Shiddiq dilantik menjadi khalifah bekerja memimpin umat dan rakyat. Pasca pelantikan menjadi pemimpin umat, Abu Bakar membawa beberapa helai kain di tangannya, pagi-pagi melangkah menuju pasar untuk berdagang seperti biasanya.

Di tengah jalan, Abu Bakar berjumpa dengan Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu. Umar bin Khattab bertanya, "Mau ke mana kamu?"

Abu Bakar menjawab, "Mau ke pasar."

Umar bin Khattab berbicara lagi, "Jika engkau sibuk berdagang, lampau gimana tugas kekhalifahan?"

Jawab Abu Bakar, "Lalu, gimana saya memberi makan keluargaku?"

Umar bin Khattab berkata, "Mari kita menjumpai Abu Ubaidah yang dijuluki oleh baginda Nabi Muhammad SAW sebagai orang kepercayaan umat, agar dia menentukan duit penghasilan untukmu dari Baitul Mal."

Abu Bakar dan Umar bin Khattab kemudian menjumpai Abu Ubaidah Radhiyallahu anhu. Kemudian, ditetapkanlah penghasilan untuk Abu Bakar yang jumlahnya sebesar keperluan makan seorang muhajirin biasa, bukan dari golongan kaya dan juga bukan dari golongan miskin.

Suatu hari, istri Abu Bakar berkata, "Aku mau makan sedikit manisan."

Abu Bakar menjawab, "Aku tidak mempunyai duit untuk membelinya."

Istri Abu Bakar berbicara lagi, "Aku bakal menyisihkan sedikit demi sedikit duit shopping harian, sehingga dalam beberapa hari bakal terkumpul sejumlah uang."

Abu Bakar As Shiddiq pun menyetujui rencana istrinya. Pada akhirnya, dalam waktu beberapa hari, istri Abu Bakar bisa mengumpulkan sedikit uang.

Melihat duit dapat dikumpulkan oleh istrinya sedikit demi sedikit dalam beberapa hari, Abu Bakar berkata, "Tampaknya dari pengalaman ini, duit penghasilan kita (sebagai khalifah) dari Baitul Mal telah melampaui keperluan kita."

Kemudian Abu Bakar mengembalikan duit yang sudah dikumpulkan oleh istrinya itu ke Baitul Mal. Untuk selanjutnya, duit penghasilan Abu Bakar dikurangi sejumlah duit yang dapat disisihkan oleh istrinya tersebut.

Dalam Kitab Kisah-Kisah Sahabat yang ditulis Syaikhul Hadits Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi diterbitkan Pustaka Ramadhan, dijelaskan, meski Abu Bakar telah menjadi seorang khalifah pemimpin seluruh umat lslam, dia tetap berbisnis seperti sebelumnya. Hasil pekerjaan itu, cukup untuk keperluan keluarganya. Hal ini bisa diketahui dari pernyataan dia setelah menjadi khalifah yang diriwayatkan Imam Bukhari.

Diriwayatkan oleh lmam Bukhari dari Sayyidatina Aisyah Radhiyallahu 'anha, ketika Abu Bakar telah menjadi khalifah, dia berkata, "Kaumku mengetahui bahwa pekerjaanku adalah berdagang. ltu telah mencukupi keluargaku. Tetapi, lantaran tugas kekhalifahan, saya disibukkan dengan urusan kaum Muslimin, sehingga untuk keperluan keluargaku diambil dari Baitul Mal."

Meskipun begitu, ketika Abu Bakar bakal meninggal dunia, dia beramanat kepada Aisyah agar mengembalikan seluruh duit penghasilan yang telah dikeluarkan untuk dia dari Baitul Mal, kepada khalifah yang menggantikan dia.

Anas Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar meninggal dunia, dia tidak meninggalkan Dirham dan Dinar. la hanya meninggalkan seekor unta perah, sebuah mangkok, dan seorang hamba sahaya.

Dalam riwayat yang lain, Anas berkata, "la telah meninggalkan sehelai selimut dan sehelai kain alas. Barang-barang itu telah diserahkan kepada Umar bin Khattab ketika dia menggantikannya sebagai khalifah."

Umar bin Khattab berkata, "Semoga Allah SWT mencurahkan rahmat kepada Abu Bakar, dia telah membikin letih orang yang mau mengikutinya." (dari Kitab Fathul Bari)

Selengkapnya