Kumpulan Puisi Chairil Anwar Terlengkap Berjudul Doa, Aku, Sendiri hingga Karawang-Bekasi

Jul 16, 2026 01:10 PM - 4 minggu yang lalu 15541

Puisi merupakan salah satu corak karya sastra yang bisa menyampaikan perasaan, gagasan, dan pengalaman hidup melalui rangkaian kata yang bagus serta penuh makna. Keunikan dalam pemilihan diksi, style bahasa, dan penyampaian emosi membikin puisi menjadi referensi yang menarik untuk dipelajari oleh beragam kalangan, termasuk anak-anak yang mulai mengenal bumi sastra.

Saat pelajaran Bahasa Indonesia, pastinya Si Kecil bakal mempelajari sastra puisi. Melalui pembelajaran puisi, anak bakal dikenalkan dengan beragam unsur pembangun puisi, langkah memahami maknanya, hingga mengembangkan keahlian berkata dan berimajinasi.

Proses pembelajaran tersebut juga membantu meningkatkan kepekaan anak terhadap penggunaan kata dan pesan yang mau disampaikan oleh penyair. Seiring bertambahnya pemahaman tentang puisi, mengenal karya para penyair Indonesia menjadi langkah krusial untuk memperluas wawasan sastra.


Setiap penyair mempunyai style penulisan, tema, dan karakter yang berbeda sehingga bisa memperkaya wawasan pembaca mengenai perkembangan sastra Indonesia dari masa ke masa. Salah satu nama yang mempunyai pengaruh besar dalam bumi sastra Indonesia adalah Chairil Anwar.

Karya-karyanya dikenal mempunyai kekuatan bahasa yang khas, penuh emosi, serta mengangkat beragam tema kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini. Tak dapat dipungkiri bahwa puisinya tetap banyak dipelajari dan menjadi bagian dari pembelajaran maupun referensi sastra.

30 Kumpulan puisi Chairil Anwar terlengkap berjudul Doa, Aku, Sendiri hingga Karawang-Bekasi

Dikutip dari buku Aku Ini Binatang Jalang oleh Chairil Anwar terdapat kumpulan puisi komplit berjudul Doa, Aku, Sendiri hingga Karawang-Bekasi. Simak selengkapnya untuk pengetahuan Si Kecil, Bunda.

Doa

kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku tetap menyebut namaMu

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

CayaMu panas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku lenyap bentuk

remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintuMu saya mengetuk

aku tidak bisa berpaling

Aku

Kalau sampai waktuku

'Ku mau tak seorang 'kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini hewan jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa ku bawa berlari

Berlari

Hingga lenyap perih peri

Dan saya bakal lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Sendiri

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa

Malam apa lagi

la memekik ngeri

Dicekik kesunyian kamarnya

la membenci. Dirinya dari segala

Yang minta wanita untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga

Dalam ketakutan-menanti dia menyebut satu nama

Terkejut dia terduduk. Siapa memanggil itu?

Ah! Lemah lesu dia tersedu: Ibu! Ibu!

Karawang-Bekasi

Kami yang sekarang terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa sunyi dan jam tembok yang berdetak
Kami meninggal muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan makna 4-5 ribu jiwa

Kami hanya tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa sunyi dan jam tembok yang berdetak

Kenang-kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis pemisah pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

Diponegoro

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup Kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati

MAJU

Ini barisan tak bergendrang berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu

Sekali berarti


Bagimu Negeri

Menyediakan api

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditinda

Sungguh pun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup kudu merasai

Maju

Serbu

Serang

Terjang

Nisan

Bukan kematian betul menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

dan duka maha tuan bertahta

Derai Derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh

Terasa hari bakal jadi malam

Ada beberapa cabang di tingkap merapuh

Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan

Sudah berapa waktu bukan kanak lagi

Tapi dulu memang ada suatu bahan

Yang bukan dasar kalkulasi kini

Hidup hanya menunda kekalahan

Tambah terasing dari cinta sekolah rendah

Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan

Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Senja di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu rayu pangkal akanan. Tidak bergerak

dan sekarang tanah dan air tidur lenyap ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, tetap pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Penghidupan

Lautan maha dalam

Mukul dentur selama

Nguji tenaga pematang kita

Mukul dentur selama

hingga hancur remuk redam

Kurnia Bahagia

Kecil setumpuk

Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk

Tak Sepadan

Aku kira:

Beginilah kelak jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahgia

Sedang saya mengembara serupa Ahasvéros

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki tembok buta

Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak kan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka

Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang

membawa karangan kembang

Mawar merah dan melati putih:

darah dan suci

Kau tebarkan depanku

serta pandang yang memastikan: Untukmu

Sudah itu kita sama termangu

Saling bertanya: Apakah ini?

Cinta? Keduanya tak mengerti

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi

Mampus kau dikoyak-koyak sepi

Ajakan

Ida

Menembus sudah caya

Udara tebal kabut

Kaca hitam lumut

Pecah pencar sekarang

Di ruang legah lapang

Mari ria lagi

Tujuh belas tahun kembali

Bersepeda sama gandengan

Kita jalani ini jalan

Ria bahagia

Tak acuh apa-apa

Gembira-girang

Biar hujan datang

Kita mandi-basahkan diri

Tahu pasti sejenak kering lagi

Pelarian

Tak tertahan lagi

remang miang sengketa di sini

Dalam lari

Dihempaskannya pintu keras tak berhingga

Hancur-luluh sunyi seketika

Dan paduan dua jiwa

Dari kelam ke malam

Tertawa-meringis malam menerimanya

Ini batu baru tercampung dalam gelita

"Mau apa? Rayu dan pelupa,

Aku ada! Pilih saja!

Bujuk dibeli?

Atau sungai sunyi?

Mari! Mari!

Turut saja!"

Tak kuasa - terengkam

la dicengkam malam

Suara Malam

Dunia angin besar dan topan

Manusia mengingatkan "Kebakaran di Hutan"

Jadi ke mana

Untuk tenteram dan reda?

Mati

Barang kali ini tak bersuara kaku saja

dengan ketenangan selama bersatu

mengatasi suka dan duka

kekebalan terhadap debu dan nafsu.

Berbaring tak sedar

Seperti kapal pecah di dasar lautan

jemu dipukul ombak besar

Atau ini

Peleburan dalam Tiada

dan sekali bakal menghadap cahaya

Ya Allah! Badanku terbakar - segala samar.

Aku sudah melewati batas

Kembali? Pintu tertutup dengan keras

Hukum

Saban sore dia lampau depan rumahku

Dalam baju tebal abu-abu

Seorang jerih memikul.

Banyak menangkis pukul.

Bungkuk jalannya - Lesu

Pucat mukanya - Lesu

Orang menyebut satu nama jaya

Mengingat kerjanya dan jasa

Melecut agar terus ini padanya

Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga

Pekik di angkasa: Perwira muda

Pagi ini menyinar lain masa

Nanti, kau dinanti-dimengerti!

Rumahku

Rumahku dari unggun-timbun sajak

Kaca bening dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman

Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala

Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak

Di sini saya berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang

Aku tidak lagi meraih petang

Biar berleleran kata manis madu

Jika menagih yang satu

Kesabaran

Aku tak bisa tidur

Orang ngomong, anjing nggonggong

Dunia jauh mengabur

Kelam mendinding batu

Dihantam bunyi bertalu-talu

Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak berbicara

Suaraku hilang, tenaga terbang

Sudah! tidak jadi apa-apa!

Ini bumi enggan disapa, ambil perduli

Keras membeku air kali

Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali

Sambil bertutup telinga, berpicing mata

Menunggu reda yang mesti tiba

Merdeka

Aku mau bebas dari segala

Merdeka

Juga dari Ida

Pernah

Aku percaya pada sumpah dan cinta

Menjadi sumsum dan darah

Seharian kukunyah kumamah

Sedang meradang

Segala kurenggut

Ikut bayang

Tapi kini

Hidupku terlalu tenang

Selama tidak antara badai

Kalah menang

Ah! Jiwa yang menggapai-gapai

Mengapa jika beranjak dari sini

Kucoba dalam mati

Bercerai

Kita musti bercerai

Sebelum kicau murai berderai

Terlalu kita minta pada malam ini

Benar belum puas serah-menyerah

Darah tetap berbusah-busah

Terlalu kita minta pada malam ini

Kita musti bercerai

Biar surya 'kan menembus oleh malam di perisai

Dua benua bakal bentur-membentur

Merah kesumba jadi putih kapur

Bagaimana?

Kalau IDA, mau turut mengabur

Tidak samudra caya tempatmu menghambur

Lagu Biasa

Di teras rumah makan kami sekarang berhadapan

Baru berkenalan. Cuma berpandangan

Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam

Masih saja berpandangan

Dalam lakon pertama

Orkes meningkah dengan "Carmen" pula.

Ia mengerling. Ia ketawa

Dan rumput kering terus menyala

Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi

Darahku terhenti berlari

Ketika orkes memulai "Ave Maria"

Kuseret dia ke sana

Taman

Taman punya kita berdua

tak lebar luas, mini saja

satu tak kehilangan lain dalamnya.

Bagi kau dan saya cukuplah

Taman kembangnya tak berpuluh warna

Padang rumputnya tak berbanding permadani

halus lembut dipijak kaki

Bagi kita bukan halangan

Karena

dalam taman punya berdua

Kau kembang, saya kumbang

aku kumbang, kau kembang

Kecil, penuh surya taman kita

tempat merenggut dari bumi dan 'nusia

Kenangan

Untuk Karinah Moordjono

Kadang

Di antara jeriji itu itu saja

Mereksmi memberi warna

Benda usang dilupa

Ah! tercebar rasanya diri

Membubung tinggi atas kini

Sejenak

Saja. Halus rentan ini jalinan kenang

Hancur lenyap belum dipegang

Terhentak

Kembali di itu itu saja

Jiwa bertanya; Dari buah

Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?

Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia

Dendam

Berdiri tersentak

Dari mimpi saya bengis dielak

Aku tegak

Bulan bercahaya sedikit tak nampak

Tangan meraba ke bawah bantalku

Keris karatan kugenggam di hulu

Bulan bercahaya sedikit tak nampak

Aku mencari

Mendadak meninggal kuhendak berbekas di jari

Aku mencari

Diri tercerai dari hati

Bulan bercahaya sedikit tak tampak

Kawanku dan Aku

Kepada L.K. Bohang

Kami jalan sama. Sudah larut

Menembus kabut

Hujan mengucur badan

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat

Siapa berkata?

Kawanku hanya rangka saja

Karena dera mengelucak tenaga.

Dia bertanya jam berapa!

Sudah larut sekali

Hingga lenyap segala makna

Dan mobilitas tak punya arti

Dengan Mirat

Kamar ini jadi sarang penghabisan

Di malam yang lenyap batas

Aku dan dia hanya menjengkau

Rakit hitam

'Kan terdamparkah

Atau terserah

Pada putaran pitam?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapankah kami atau

Mengikut juga gambaran itu?

Isa

Kepada nasrani sejati

Itu Tubuh

Mengucur darah

Mengucur darah

Rubuh

Patah

Mendampar tanya: saya salah?

Kulihat Tubuh mengucur darah

Aku berkaca dalam darah

Terbayang terang di mata

Masa berganti rupa ini segara

Mengatup luka

Aku bersuka

Itu Tubuh

Mengucur darah

Mengucur darah

Sorga

Buat Basuki Resobowo

Seperti ibu + nenekku juga

Tambah tujuh keturunan yang lalu

Aku minta pula agar sampai di sorga

Yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu

Dan bertabur bidari beribu

Tapi ada bunyi menimbang dalam diriku,

Nekat mencemooh: Bisakah kiranya

Berkering dari kuyup laut biru,

Gamitan dari tiap pelabuhan gimana?

Lagi siapa bisa mengatakan pasti

Di situ memang memang ada bidari

Suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya Jati?

Cerita

Kepada Darmawidjaya

Di pasar baru mereka

Lalu mengada-menggaya

Mengikat sudah kesal

Tak tahu apa dibuat

Jiwa satu kawan lucu

Dalam hidup, dalam tuju

Gundul diselimuti tebal

Sama segala berbuat-buat

Tapi kadang pula dapat

Ini renggang terus terapat

Kita Guyah Lemah

Kita guyah lemah

Sekali tetak tentu rebah

Segala erang dan jeritan

Kita pendam dalam keseharian

Mari tegak merentak

Diri sekeliling kita bentak

Ini malam purnama bakal menembus awan

Perhitungan

Banyak lecet belum terputus saja

Satu rumah mini putih dengan lampu merah muda caya

Langit bersih cerah dan purnama raya...

Sudah itu tempatku tak tentu di mana

Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran

Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran

Hembus kau saya tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi...!?

Kini saya meringkih dalam malam sunyi

Itulah 30 kumpulan puisi Chairil Anwar yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran sastra Indonesia bagi Si Kecil di rumah. Semoga berfaedah dan menambah pengetahuan Si Kecil, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya