Puisi merupakan salah satu corak karya sastra yang bisa menyampaikan perasaan, gagasan, dan pengalaman hidup melalui rangkaian kata yang bagus serta penuh makna. Keunikan dalam pemilihan diksi, style bahasa, dan penyampaian emosi membikin puisi menjadi referensi yang menarik untuk dipelajari oleh beragam kalangan, termasuk anak-anak yang mulai mengenal bumi sastra.
Saat pelajaran Bahasa Indonesia, pastinya Si Kecil bakal mempelajari sastra puisi. Melalui pembelajaran puisi, anak bakal dikenalkan dengan beragam unsur pembangun puisi, langkah memahami maknanya, hingga mengembangkan keahlian berkata dan berimajinasi.
Proses pembelajaran tersebut juga membantu meningkatkan kepekaan anak terhadap penggunaan kata dan pesan yang mau disampaikan oleh penyair. Seiring bertambahnya pemahaman tentang puisi, mengenal karya para penyair Indonesia menjadi langkah krusial untuk memperluas wawasan sastra.
Setiap penyair mempunyai style penulisan, tema, dan karakter yang berbeda sehingga bisa memperkaya wawasan pembaca mengenai perkembangan sastra Indonesia dari masa ke masa. Salah satu nama yang mempunyai pengaruh besar dalam bumi sastra Indonesia adalah Chairil Anwar.
Karya-karyanya dikenal mempunyai kekuatan bahasa yang khas, penuh emosi, serta mengangkat beragam tema kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini. Tak dapat dipungkiri bahwa puisinya tetap banyak dipelajari dan menjadi bagian dari pembelajaran maupun referensi sastra.
30 Kumpulan puisi Chairil Anwar terlengkap berjudul Doa, Aku, Sendiri hingga Karawang-Bekasi
Dikutip dari buku Aku Ini Binatang Jalang oleh Chairil Anwar terdapat kumpulan puisi komplit berjudul Doa, Aku, Sendiri hingga Karawang-Bekasi. Simak selengkapnya untuk pengetahuan Si Kecil, Bunda.
Doa
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku tetap menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
CayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku lenyap bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu saya mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Aku
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini hewan jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa ku bawa berlari
Berlari
Hingga lenyap perih peri
Dan saya bakal lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Sendiri
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
la memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
la membenci. Dirinya dari segala
Yang minta wanita untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti dia menyebut satu nama
Terkejut dia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu dia tersedu: Ibu! Ibu!
Karawang-Bekasi
Kami yang sekarang terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa sunyi dan jam tembok yang berdetak
Kami meninggal muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan makna 4-5 ribu jiwa
Kami hanya tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa sunyi dan jam tembok yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis pemisah pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
Diponegoro
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup Kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati
MAJU
Ini barisan tak bergendrang berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berarti
Bagimu Negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda
Sungguh pun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup kudu merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
Nisan
Bukan kematian betul menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertahta
Derai Derai Cemara
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari bakal jadi malam
Ada beberapa cabang di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar kalkulasi kini
Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah
Senja di Pelabuhan Kecil
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu rayu pangkal akanan. Tidak bergerak
dan sekarang tanah dan air tidur lenyap ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, tetap pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Penghidupan
Lautan maha dalam
Mukul dentur selama
Nguji tenaga pematang kita
Mukul dentur selama
hingga hancur remuk redam
Kurnia Bahagia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
Tak Sepadan
Aku kira:
Beginilah kelak jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahgia
Sedang saya mengembara serupa Ahasvéros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki tembok buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Sia-sia
Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
Ajakan
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan
Ria bahagia
Tak acuh apa-apa
Gembira-girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sejenak kering lagi
Pelarian
Tak tertahan lagi
remang miang sengketa di sini
Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak berhingga
Hancur-luluh sunyi seketika
Dan paduan dua jiwa
Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
"Mau apa? Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungai sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja!"
Tak kuasa - terengkam
la dicengkam malam
Suara Malam
Dunia angin besar dan topan
Manusia mengingatkan "Kebakaran di Hutan"
Jadi ke mana
Untuk tenteram dan reda?
Mati
Barang kali ini tak bersuara kaku saja
dengan ketenangan selama bersatu
mengatasi suka dan duka
kekebalan terhadap debu dan nafsu.
Berbaring tak sedar
Seperti kapal pecah di dasar lautan
jemu dipukul ombak besar
Atau ini
Peleburan dalam Tiada
dan sekali bakal menghadap cahaya
Ya Allah! Badanku terbakar - segala samar.
Aku sudah melewati batas
Kembali? Pintu tertutup dengan keras
Hukum
Saban sore dia lampau depan rumahku
Dalam baju tebal abu-abu
Seorang jerih memikul.
Banyak menangkis pukul.
Bungkuk jalannya - Lesu
Pucat mukanya - Lesu
Orang menyebut satu nama jaya
Mengingat kerjanya dan jasa
Melecut agar terus ini padanya
Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga
Pekik di angkasa: Perwira muda
Pagi ini menyinar lain masa
Nanti, kau dinanti-dimengerti!
Rumahku
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca bening dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini saya berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu
Kesabaran
Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam bunyi bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu
Aku hendak berbicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! tidak jadi apa-apa!
Ini bumi enggan disapa, ambil perduli
Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi
Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba
Merdeka
Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida
Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah kumamah
Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang
Tapi kini
Hidupku terlalu tenang
Selama tidak antara badai
Kalah menang
Ah! Jiwa yang menggapai-gapai
Mengapa jika beranjak dari sini
Kucoba dalam mati
Bercerai
Kita musti bercerai
Sebelum kicau murai berderai
Terlalu kita minta pada malam ini
Benar belum puas serah-menyerah
Darah tetap berbusah-busah
Terlalu kita minta pada malam ini
Kita musti bercerai
Biar surya 'kan menembus oleh malam di perisai
Dua benua bakal bentur-membentur
Merah kesumba jadi putih kapur
Bagaimana?
Kalau IDA, mau turut mengabur
Tidak samudra caya tempatmu menghambur
Lagu Biasa
Di teras rumah makan kami sekarang berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam
Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan "Carmen" pula.
Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari
Ketika orkes memulai "Ave Maria"
Kuseret dia ke sana
Taman
Taman punya kita berdua
tak lebar luas, mini saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan saya cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki
Bagi kita bukan halangan
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, saya kumbang
aku kumbang, kau kembang
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari bumi dan 'nusia
Kenangan
Untuk Karinah Moordjono
Kadang
Di antara jeriji itu itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda usang dilupa
Ah! tercebar rasanya diri
Membubung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rentan ini jalinan kenang
Hancur lenyap belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu itu saja
Jiwa bertanya; Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia
Dendam
Berdiri tersentak
Dari mimpi saya bengis dielak
Aku tegak
Bulan bercahaya sedikit tak nampak
Tangan meraba ke bawah bantalku
Keris karatan kugenggam di hulu
Bulan bercahaya sedikit tak nampak
Aku mencari
Mendadak meninggal kuhendak berbekas di jari
Aku mencari
Diri tercerai dari hati
Bulan bercahaya sedikit tak tampak
Kawanku dan Aku
Kepada L.K. Bohang
Kami jalan sama. Sudah larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat
Siapa berkata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga.
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekali
Hingga lenyap segala makna
Dan mobilitas tak punya arti
Dengan Mirat
Kamar ini jadi sarang penghabisan
Di malam yang lenyap batas
Aku dan dia hanya menjengkau
Rakit hitam
'Kan terdamparkah
Atau terserah
Pada putaran pitam?
Matamu ungu membatu
Masih berdekapankah kami atau
Mengikut juga gambaran itu?
Isa
Kepada nasrani sejati
Itu Tubuh
Mengucur darah
Mengucur darah
Rubuh
Patah
Mendampar tanya: saya salah?
Kulihat Tubuh mengucur darah
Aku berkaca dalam darah
Terbayang terang di mata
Masa berganti rupa ini segara
Mengatup luka
Aku bersuka
Itu Tubuh
Mengucur darah
Mengucur darah
Sorga
Buat Basuki Resobowo
Seperti ibu + nenekku juga
Tambah tujuh keturunan yang lalu
Aku minta pula agar sampai di sorga
Yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
Dan bertabur bidari beribu
Tapi ada bunyi menimbang dalam diriku,
Nekat mencemooh: Bisakah kiranya
Berkering dari kuyup laut biru,
Gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
Di situ memang memang ada bidari
Suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya Jati?
Cerita
Kepada Darmawidjaya
Di pasar baru mereka
Lalu mengada-menggaya
Mengikat sudah kesal
Tak tahu apa dibuat
Jiwa satu kawan lucu
Dalam hidup, dalam tuju
Gundul diselimuti tebal
Sama segala berbuat-buat
Tapi kadang pula dapat
Ini renggang terus terapat
Kita Guyah Lemah
Kita guyah lemah
Sekali tetak tentu rebah
Segala erang dan jeritan
Kita pendam dalam keseharian
Mari tegak merentak
Diri sekeliling kita bentak
Ini malam purnama bakal menembus awan
Perhitungan
Banyak lecet belum terputus saja
Satu rumah mini putih dengan lampu merah muda caya
Langit bersih cerah dan purnama raya...
Sudah itu tempatku tak tentu di mana
Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran
Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran
Hembus kau saya tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi...!?
Kini saya meringkih dalam malam sunyi
Itulah 30 kumpulan puisi Chairil Anwar yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran sastra Indonesia bagi Si Kecil di rumah. Semoga berfaedah dan menambah pengetahuan Si Kecil, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·