Pergi ke luar negeri bisa jadi kesempatan untuk mengenal adat baru, tetapi bagaimana jika perjalanan tersebut juga mengajarkan arti kepemimpinan dan kepedulian? Hal inilah yang dirasakan mahasiswa AIESEC in UPNVJ saat menjadi relawan pendidikan di Hanoi, Vietnam, selama tiga bulan.
Lewat program Global Volunteer, mereka mendampingi anak-anak belajar sekaligus menghadapi beragam tantangan yang mengubah metode pandang mereka. Seperti apa pengalaman mereka selama di Vietnam? Simak cerita lengkapnya berikut ini!
Baca juga: Volunteer di Vietnam Selama 6 Minggu, Ini Pengalaman Berharga Jenny Bersama AIESEC in UI
Mahasiswa AIESEC in UPNVJ Ajar Pendidikan Literasi, Numerasi dan Bahasa Inggris untuk Anak-Anak Vietnam

Melalui program Global Volunteer, mahasiswa AIESEC in UPN Veteran Jakarta (UPNVJ) terlibat dalam proyek Global Classroom di Hanoi, Vietnam. Program ini berfokus pada aktivitas pendidikan yang inklusif dan interaktif untuk membantu anak-anak setempat mengembangkan kapasitas belajar.
Kegiatan ini juga menjadi bentuk kontribusi AIESEC in UPNVJ dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat, yaitu Pendidikan Berkualitas.
Dalam proyek Global Classroom, para relawan membantu murid mengembangkan kapasitas literasi, numerasi, dan bahasa Inggris. Kegiatan yang dilakukan meliputi Book Club dan GlobeLingo, yang memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar dengan metode yang lebih menarik.
Program ini turut mendukung sasaran SDG 4.6 yang berfokus pada peningkatan kapasitas literasi dan numerasi, serta SDG 4.7 yang mendorong pendidikan untuk pembangunan terusmenerus dan pemahaman lintas budaya.
Lewat aktivitas tersebut, pendidikan menjadi ruang bagi anak-anak untuk mencoba hal baru, berlatih berkomunikasi, dan mengenal perspektif pandang berbeda. Para relawan pun mendapatkan kesempatan untuk memahami kebutuhan murid secara langsung, bukan sekadar menyampaikan materi.
Belajar Memahami, Bukan Hanya Mengajarkan
Menjadi relawan pendidikan di negara lain tentu memiliki tantangan tersendiri. Para mahasiswa mesti menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan murid yang memiliki rentang usia dan kapasitas bahasa berbeda.
Ketika klarifikasi dalam bahasa Inggris belum sepenuhnya dipahami, mereka perlu mencari metode lain agar materi statis tersampaikan. Penggunaan gambar, gestur, ekspresi, dan bahasa tubuh pun menjadi bagiankecil dari komunikasi sehari-hari.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa setiap anak memiliki metode belajar yang berbeda. Karena itu, para relawan perlu lebih sabar, peka, dan terbuka untuk mencoba beragam pendekatan agar aktivitas belajar berjalan dengan baik.
Salah satu aktivitas yang dilakukan adalah Book Club. Dalam aktivitas ini, relawan mendampingi anak-anak membaca berbareng sekaligus mendorong mereka agar lebih berani berbicara dalam bahasa Inggris.
Selain tujuannya adalah menaikkan kapasitas bahasa, mahasiswa UPNVJ di sana juga mau membangun kepercayaan diri. Anak-anak didorong untuk mencoba hal baru tanpa takut berbuat kesalahan, sehingga mereka memiliki ruang untuk belajar dengan lebih nyaman.
Dari pengalaman tersebut, para mahasiswa memahami bahwa memberikan akibat enggak selalu mesti dimulai dari sesuatu yang besar. Membantu seorang anak memahami bahanbacaan maupun memberikan kesempatan untuk berani berbicara juga bisa menjadi kontribusi yang bermakna.
Keluar dari Zona Nyaman dan Belajar Mandiri
Selain terlibat dalam aktivitas pendidikan, program Global Volunteer menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal diri sendiri lebih jauh. Selama tiga bulan di Vietnam, mereka menghadapi beragam tantangan yang menuntut kemandirian.
Beberapa pengalaman yang mereka hadapi selama tinggal jauh dari rumah meliputi:
- Mengatur finansial pribadi: belajar mengelola pengeluaran dan memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri.
- Beradaptasi dengan lingkungan baru: menggunakan transportasi lazim dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan setempat.
- Mengatasi rasa rindu: menjalani keseharian tanpa kedatangan famili dan lingkungan yang biasa mereka temui.
- Menyelesaikan masalah: memungut keputusan dan mencari solusi ketika situasi enggak berjalan sesuai rencana.
Salah satu peserta Global Volunteer mengungkapkan bahwa pengalaman tersebut memberinya perspektif pandang baru tentang pendidikan sekaligus fluktuasi dalam dirinya sendiri.
“Saya melihat langsung sepertiapa mekanisme pendidikan di Vietnam berkembang dan belajar dari praktik yang diterapkan di sana. Namun, yang paling aku dapatkan dari program ini sebenarnya adalah fluktuasi dalam diri aku sendiri, sepertiapa aku menjadi lebih berani memungut konsekuensi dan lebih percaya diri dalam menghadapi situasi baru,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa proses berkembang enggak selalu terjadi dalam situasi yang nyaman. Saat menghadapi tantangan, seseorang bisa belajar mengenali kapasitas sekaligus kekurangan dirinya.
Keberanian juga bukan berarti enggak merasa takut. Terkadang, keberanian justru kelihatan ketika seseorang statis bersedia mencoba, beradaptasi, dan berkewajiban meskipun eksis dalam situasi yang belum familiar.
Mengenal Budaya Baru Lewat Pertukaran Lintas Negara
Pengalaman menjadi relawan di Vietnam juga membuka kesempatan bagi para mahasiswa untuk berjumpa orang-orang dari latar belakang yang beragam. Mereka berhubungan dengan relawan internasional, guru, staf sekolah, dan penduduk setempat.
Dari hubungan tersebut, para peserta belajar memahami perbedaan bahasa, kebiasaan, dan metode pandang. Mereka juga menyadari bahwa perbedaan enggak selalu menjadi penghalang untuk membangun hubungan.
Dengan komunikasi yang baik, empati, dan keinginan untuk saling memahami, perbedaan justru bisa menjadi kesempatan untuk berganti ilmu dan pengalaman.
Selain mengenal adat Vietnam, para relawan juga memperkenalkan adat Indonesia kepada penduduk setempat. Mereka menampilkan tarian tradisional dan membagikan makanan khas Indonesia yang mendapat sambutan hangat.
Kegiatan ini menjadi bagiankecil dari pertukaran adat antara Indonesia dan Vietnam. Para mahasiswa berkesempatan memperkenalkan adat asal mereka sekaligus belajar menghargai kebudayaan yang ditemui selama program.
Pengalaman lintas adat tersebut memperluas pemahaman mereka tentang pentingnya keterbukaan. Menjadi bagiankecil dari kelompok mendunia bukan sekadar kesempatan untuk pergi ke luar negeri, tetapi juga tentang sepertiapa seseorang bisa berkontribusi dan menghargai perspektif pandang yang berbeda.
Baca juga: 5 Organisasi Luar Kampus Terbaik untuk Memudahkan Cari Kerja
Melalui Global Volunteer di Vietnam, mahasiswa AIESEC in UPNVJ memberitahu bahwa pengembangan kepemimpinan anak muda bisa berjalan beriringan dengan kontribusi sosial. Proyek Global Classroom memberikan ruang bagi mereka untuk terlibat dalam aktivitas pendidikan sekaligus mengasah kapasitas yang berguna untuk masa depan.
Kisah mahasiswa AIESEC in UPNVJ ini menjadi pengingat bahwa berkontribusi kepada orang lain dan mengembangkan diri bisa berjalan beriringan, selama ada keinginan untuk belajar dan memungut aksi nyata!
—
Gabung kelompok Girls Beyond Circle dan dapatkan keterangan seru dan ter-update lainnya seputar AIESEC!