Manfaat Suami Istri Pelukan selama 20 Detik Menurut Penelitian

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 249x dilihat
Manfaat Suami Istri Pelukan selama 20 Detik Menurut Penelitian

Bagikan Postingan

Sering pelukan enggak, Bunda, setiap hari dengan suami? Yuk kenali khasiat suami istri pelukan selama 20 detik menurut penelitian.

Pelukan menjadi salah satu metode sederhana untuk memberitahu kasih sayang kepada pasangan. Meski kelihatan sepele, kebiasaan memeluk suami maupun istri rupanya dapat membantu meredakan stres sekaligus mempererat kedekatan emosional dalam hubungan.

Penelitian memberitahu bahwa durasi pelukan selama 20 detik dapat memberikan khasiat bagi tubuh ketika seseorang menghadapi situasi yang menegangkan. Pelukan hangat setelah menjalani hari yang melelahkan pun bisa menjadi bentuk sokongan emosional yang berarti.


Sejumlah riset juga mengungkap kaitan antara sentuhan penuh kasih, hormon oksitosin, dan hubungan positif yang membantu pasangan merasa lebih dekat satu sama lain. 

Manfaat suami istri pelukan

Apa saja khasiat pelukan bagi pasangan suami istri menurut penelitian?

Salah satu khasiat pelukan yang menarik perhatian peneliti adalah kemampuannya membantu meredakan stres. Dalam sebuah riset yang dipublikasikan di PubMed dan melibatkan hampir 200 orang berbareng pasangannya, para peserta diminta berbuat tugas yang menegangkan, yaitu berbicara di depan umum.

Sebelum menjalani tugas tersebut, sebagian peserta mendapat pelukan selama 20 detik dari pasangannya. Sementara itu, himpunan lainnya diminta beristirahat dengan tenang seorang diri.

Hasilnya, lelaki maupun perempuan yang menerima pelukan memberitahu tingkat stres yang lebih rendah dibandingkan himpunan yang tidak mendapat perlakuan tersebut. Temuan ini memberitahu bahwa sokongan jasmani dari pasangan berpotensi membantu seseorang menghadapi situasi yang memicu kecemasan.

Bagi suami dan istri, pelukan singkat sebelum menghadapi hari yang bermutu maupun setelah melewati masalah di tempat kerja bisa menjadi salah satu metode sederhana untuk saling menenangkan.

2. Bantu tubuh lebih relaks

Tidak semua pasangan merasa betah memberitahu kasih sayang melalui pelukan. Namun riset dari Jepang menemukan bahwa memeluk bantal berbentuk manusia juga berpotensi membantu mengurangi stres, terutama ketika seseorang sedang menjalani percakapan yang menegangkan.

Dalam riset tersebut, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berbicara melalui telepon dengan orang luar selama 15 menit. Kelompok kedua berbuat percakapan serupa sambil memeluk bantal berbentuk manusia yang juga berguna sebagai alat telepon, yang disebut Hugvie.

Para peneliti mengukur tingkat stres melalui kadar kortisol dalam darah dan air liur. Hasilnya memberitahu bahwa memeluk bantal selama percakapan dapat membantu menurunkan tingkat stres dibandingkan cuma berbicara tanpa pelukan.

Peneliti menduga posisi tubuh ketika memeluk turut berpartisipasi dalam efek itu. Saat merentangkan kedua tangan untuk memeluk, tubuh memungut posisi yang berbeda dari ketika seseorang sekadar berbicara.

Meski riset ini bukan secara khusus menguji hubungan pernikahan, temuannya memberikan deskripsi bahwa sensasi memeluk dapat membantu seseorang merasa lebih tenang.

3. Dukung kedekatan emosional melalui hormon oksitosin

Pelukan dan sentuhan penuh kasih sayang juga berhubungan dengan oksitosin, hormon yang berpartisipasi dalam ikatan sosial dan kedekatan emosional. Peneliti Ruth Feldman berbareng rekan-rekannya mengamati hubungan 60 pasangan.

Dalam penelitian, pasangan diminta berbincang mengenai pengalaman menyenangkan yang pernah mereka alami bersama. Para peneliti kemudian mengamati hubungan mereka dan mengukur kadar oksitosin.

Hasilnya, pasangan yang lebih sering memberitahu hubungan positif, seperti menyentuh dengan penuh kasih sayang, mengekspresikan emosi positif, dan berbagi cerita, memiliki kadar oksitosin yang lebih tinggi. Kadarnya juga secara signifikan lebih tinggi dibandingkan himpunan yang tidak sedang menjalin hubungan romantis.

Feldman terlebihlagi mengungkapkan bahwa peningkatan oksitosin selama fase jatuh cinta merupakan yang tertinggi yang pernah ditemukan timnya.

“Peningkatan oksitosin selama masa jatuh cinta adalah yang tertinggi yang pernah kami temukan." kata Feldman dilansir dari Psychology Today.

Temuan ini memperlihatkan adanya hubungan antara hubungan penuh kasih sayang dan oksitosin. Meski demikian, hasil tersebut tidak berarti pelukan selama 20 detik secara otomatis menaikkan hormon oksitosin dalam jumlah tertentu pada setiap pasangan.

4. Bantu pasangan membangun kebiasaan saling menyayangi

Kebiasaan memberitahu kasih sayang dapat membentuk pola hubungan positif dalam hubungan. Ketika suami memeluk istri dengan tulus, mungkin merasa lebih betah untuk membalasnya dengan sentuhan, senyuman, maupun perhatian. Interaksi tersebut kemudian dapat mendorong keduanya untuk balik memberitahu kasih sayang.

Ruth Feldman dan rekan-rekannya menggambarkan proses ini sebagai feedback loop maupun lingkaran umpan balik. Dalam proses tersebut, kasih sayang yang diberikan dapat mendorong pasangan untuk membalas dengan perilaku positif sehingga keduanya semakin terlibat secara emosional dalam hubungan.

“Oksitosin dapat memunculkan perilaku penuh kasih sayang, tapi memberi dan menerima perilaku tersebut juga mendorong pelepasan oksitosin dan menghasilkan lebih banyak perilaku serupa,"ujar Feldman.

Jadi, perhatian dalam pernikahan tidak mesti selalu dimulai dari aksi besar. Kebiasaan sederhana, seperti memeluk sebelum berangkat kerja, menggenggam tangan ketika berbincang, maupun memberikan pelukan setelah pulang ke rumah, bisa menjadi bagiankecil dari hubungan positif sehari-hari.

5. Berpotensi menguatkan ikatan dalam hubungan jangka panjang

Kedekatan emosional yang terbangun sejak mula hubungan rupanya juga menarik untuk diamati dalam jangka panjang. Dalam riset Feldman, sejumlah pasangan balik diundang ke laboratorium enam bulan setelah pengamatan awal.

Para peneliti menemukan bahwa kadar oksitosin pasangan tersebut statis tinggi. Menurut tim peneliti, kadarnya serupa dengan yang ditemukan dalam ikatan antara orangtua dan anak.

Temuan ini menjadi salah satu instruksi mengenai kuatnya hubungan antara kedekatan emosional dan hormon oksitosin. Penelitian itu juga menemukan bahwa kadar oksitosin pada mula hubungan dapat menjadi indikator yang berhubungan dengan keberlangsungan hubungan enam bulan kemudian.

Pasangan yang memberitahu lebih banyak sentuhan, tawa bersama, dan hubungan positif cenderung memperlihatkan keterlibatan yang lebih baik satu sama lain. Namun hasil tersebut tidak dapat dijadikan garansi bahwa pasangan yang sering berpelukan pasti memiliki pernikahan yang langgeng.

Hubungan yang sehat statis membutuhkan komunikasi, rasa saling menghormati, kepercayaan, dan kapasitas menyelesaikan konflik. Bagi pasutri, pelukan dapat menjadi salah satu metode untuk menjaga kehangatan hubungan. Jika dilakukan dengan ikhlas dan sama-sama nyaman, kebiasaan ini bisa menjadi pengingat bahwa pasangan memiliki tempat untuk saling mencari dukungan.

Jadi, apakah suami istri mesti berpelukan selama 20 detik?

Penelitian memberitahu bahwa pelukan selama 20 detik sebelum menghadapi tugas yang menegangkan dapat membantu menurunkan stres pada peserta yang diteliti. Sementara itu, riset lain mengaitkan hubungan penuh kasih sayang dengan kadar oksitosin yang lebih tinggi pada pasangan romantis.

Meski begitu, 20 detik bukanlah durasi wajib yang berjalan untuk semua pasangan. Efek pelukan bisa berbeda-beda, bersandar pada kondisi, kenyamanan, dan situasi masing-masing. Penelitian tersebut juga tidak membuktikan bahwa pelukan dengan durasi tertentu pasti membikin hubungan pernikahan lebih bahagia.

Pada akhirnya, bukan cuma lamanya pelukan yang berarti, melainkan juga rasa perhatian dan sokongan yang menyertainya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads