Mencetak Generasi Anti Boti

Artikel Islami Muslimah.or.id Jun 30, 2026 11:00 AM 34581

Bayangkan, suatu hari engkau memandang anak laki-lakimu yang dulu lincah berlarian di laman rumah, memanjat pohon, dan bermain bola dengan teman-temannya, sekarang lebih memilih berdiam diri di perspektif kamar. Jemarinya tak lagi memegang kayu alias perangkat tulis, melainkan setia mengusap layar ponsel. Ada yang berubah. Gerakannya kian lembut, suaranya melunak, dan—yang paling mengiris hati—ia mulai meniru style yang mengaburkan pemisah antara laki-laki dan perempuan. Wal-iyadzubillah.

Perasaan apakah yang menyeruak di dada kita saat menyaksikan itu? Pilu. Campuran antara kasih sayang yang dalam dan kekhawatiran yang menusuk. Fenomena “boti” memang telah merayap perlahan ke rumah-rumah kita, masuk melalui konten-konten yang dengan mudah diakses oleh jemari mungil anak-anak kita.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan bahwa 33,44% anak usia 0-4 tahun di Indonesia sudah menggunakan telepon seluler. Sementara itu, 24,87% di antaranya telah mengakses internet. Angka ini semakin meningkat pada anak usia 5-17 tahun, di mana 61,87% sudah menggunakan ponsel dan 48,10% mengakses internet. Di sisi lain, paparan konten yang mengglorifikasi penyimpangan kelamin kian masif bertebaran di media sosial. Sementara kita, sebagai orang tua, diamanatkan oleh Allah untuk menjaga fitrahnya dari kerusakan. Inilah jihad kita di era ini.

Namun, perlu ditegaskan sejak awal bahwa mencetak generasi anti “boti” bukan berfaedah menebar kebencian. Sama sekali bukan. Sebab ini adalah ikhtiar meneguhkan kembali fitrah laki-laki sebagaimana yang diajarkan oleh Islam, ialah kuat, bertanggung jawab, menjadi pemimpin keluarga, dan pelindung agama. Sebuah panggilan hati untuk kita semua—ayah dan ibu—agar anak-anak kita kelak menjadi qurrata a’yun, penyejuk mata dan tembok umat.

Ancaman terhadap fitrah anak

Saudariku, ancaman terhadap maskulinitas anak laki-laki kita tidak datang tiba-tiba. Ancaman itu tidak pula mengetuk pintu dengan kasar. Tapi dia datang pelan-pelan, halus, melalui layar-layar mini yang justru kita berikan dengan penuh kasih sayang—tetapi tanpa pengawasan yang ketat. Sebuah ironi yang menyakitkan.

Donasi Kincai Media

Konten-konten yang menampilkan laki-laki berperilaku feminin secara berlebihan sekarang beredar luas, yang dikemas sebagai sesuatu yang lucu, menghibur, apalagi keren. Anak-anak kita menontonnya. Hari pertama mungkin sekadar tertawa. Hari kedua, mulai penasaran. Hari ketiga, mulai meniru. Dan sebelum kita sadar, dia sudah bingung membedakan mana yang alami sesuai fitrahnya, dan mana yang dibuat-buat demi mengikuti tren. Wal-iyadzu billah.

Tentu saja, perihal yang sangat kita khawatirakan adalah andaikan paparan berulang terhadap konten semacam itu dapat memengaruhi pola pikir dan perkembangan emosional anak. Anak-anak dan remaja sangat rentan meniru apa yang mereka lihat, terutama saat identitas kelamin mereka sedang dalam proses pembentukan. Akibatnya, muncul kebingungan, bentrok batin, hingga penurunan sifat-sifat maskulin alami seperti keberanian, ketegasan, dan rasa tanggung jawab.

Kita tidak boleh diam. Sebagai muslimah, kita diajarkan untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Menolak ideologi yang merusak fitrah bukan berfaedah tidak mengasihi sesama manusia. Justru sebaliknya, karena kita sedang melindungi generasi dari kehancuran yang perlahan tapi pasti.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)

Ayat ini adalah perintah langsung dari Allah kepada kita. Menjaga family dari api neraka juga berarti perintah agar kita wajib menjaga mereka dari api tuduhan di bumi yang bisa membakar fitrah mereka. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ أَلَا

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bakal dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)

Kita adalah pemimpin bagi anak-anak kita. Dan kelak, di hadapan Allah, kita bakal ditanya, apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga fitrah mereka? Pertanyaan ini menakutkan sekaligus menyadarkan. Marilah kita renungkan bersama. Gadget memang bukan musuh. Tetapi tanpa batasan, gadget ini kemudian bisa menjadi pintu masuk tuduhan yang merusak. Mulai hari ini, cobalah tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang sedang anakku tonton setiap hari?”

Baca juga: Membenarkan LGBT Karena Alasan Takdir?

Kembali ke fitrah laki-laki yang suci

Islam telah memberikan fondasi yang sangat jelas. Setiap anak yang lahir ke bumi ini dalam keadaan fitrah—suci, bersih, dan selaras dengan pembuatan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, alias Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658)

Saudaraku, perhatikanlah sabda mulia ini. Fitrah itu sudah ada. Tugas kita adalah menjaga fitrah itu dengan sebaik-baiknya. Bukan membentuk dari nol, tetapi merawat agar tidak rusak. Fitrah seorang anak laki-laki adalah menjadi kuat, tegas, bertanggung jawab, dan siap memimpin. Jika kemudian dia tumbuh dengan kebingungan identitas, maka orang tuanyalah yang pertama kali kudu bermuhasabah: di mana kita selama ini?

Al-Qur’an dengan bagus menegaskan peran laki-laki, Allah Ta’ala berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita, lantaran Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan lantaran mereka telah menafkahkan sebagian dari kekayaan mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]: 34)

Kata qawwamun dalam ayat ini bisa diartikan sebagai pemimpin. Namun jika kita dalami lebih jauh, maka kita bakal menemukan makna yang lebih luas lagi tentang qawwamun itu yang berfaedah pelindung, penjaga, dan penanggung jawab. Seorang laki-laki muslim dipersiapkan oleh Allah Ta’ala untuk memikul amanah berat ini. Maka, mendidiknya agar menjadi qawwam sejati adalah ibadah. Bukan pula berfaedah laki-laki kudu sempurna tanpa cela. Namun, dia kudu dibekali kekuatan fisik, mental, dan spiritual untuk menjalankan amanah itu.

Mari kita membuka kembali sirah Nabi. Tentu, kita kemudian bakal mendapati kebenaran bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan maskulinitas tertinggi. Beliau pemberani di medan perang, tetapi penyayang di rumah. Tangguh dalam dakwah, tetapi lembut terhadap anak-anak. Beliau pernah bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664)

Kekuatan di sini mencakup kekuatan iman, ilmu, fisik, dan mental. Bukan kekuatan untuk menindas, tetapi kekuatan untuk melindungi. Oleh karenanya, mari kita biasakan anak laki-laki kita dengan kegiatan yang membangun kekuatan sesuai sunah. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ ٱلْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang Anda sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk bertempur (yang dengan persiapan itu) Anda menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang Anda tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang Anda nafkahkan pada jalan Allah, niscaya bakal dibalasi dengan cukup kepadamu dan Anda tidak bakal dianiaya (dirugikan).”  (QS. Al-Anfal [8]: 60)

Berenang, memanah, dan berkuda adalah kegiatan pembentukan karakter, seperti keberanian, fokus, ketangkasan, dan kesabaran. Di era sekarang, kita bisa menyesuaikannya dengan olahraga bentuk lain yang membangun mental tangguh. Yang penting, jauhkan mereka dari style hidup malas yang hanya duduk menatap layar. Tanamkan dalam hati anak kita pesan bahwa menjadi laki-laki muslim itu mulia. Bukan lantaran mengikuti tren dunia, tetapi lantaran alim kepada Penciptanya. Inilah warisan paling berbobot yang bisa kita berikan.

Orang tua sebagai tembok utama keluarga

Saudaraku, mendidik anak laki-laki bukanlah tugas satu pihak. Tapi ikhtiar mendidik ini memerlukan kombinasi sempurna antara ketegasan ayah dan kelembutan ibu. Keduanya adalah tembok yang tidak boleh roboh.

Ayah adalah pilar utama. Anak laki-laki butuh memandang langsung teladan maskulin yang saleh di hadapannya: ayah yang salat berjamaah, bertanggung jawab mencari nafkah, tegas namun penuh kasih, dan doyan beraktivitas fisik. Quality time ayah-anak sangatlah luar biasa pengaruhnya. Bermain dengan kegiatan bentuk yang sehat, berkemah, memancing, alias belajar keahlian dasar laki-laki—semua ini membentuk identitas anak yang nantinya bakal tumbuh dengan kesadaran, “Aku laki-laki, seperti ayahku. Aku bakal menjadi pelindung, seperti ayahku.”

Sementara itu, peran ibu tidak kalah penting. Ibu lah sekolah pertama anak. Dengan pelukan hangat dan nasihat lembutnya, Ibu membangun rasa kondusif dalam dirinya. Rasa kondusif ini membikin anak mau terbuka. Jika ada pengaruh asing dari luar, dia tidak bakal ragu bercerita. Ia tahu ibunya adalah tempat kembali yang paling nyaman.

Rutinitas harian juga bisa menjadi sarana pendidikan. Ajaklah anak membantu pekerjaan rumah yang sesuai: membersihkan halaman, mengatur barang, alias menjaga adik sehingga rutinitas tersebut kemudian bakal menanamkan rasa tanggung jawab sejak kecil. Jangan biarkan gadget mengambil alih peran kita. Meski lelah, luangkan waktu untuk menceritakan kisah para Nabi dan sahabat yang gagah berani. Kisah Nabi Musa yang membelah laut, kisah Nabi Dawud yang mengalahkan Jalut, alias kisah Umar bin Khaththab yang tegas namun adil—semua ini adalah asupan ruhani yang jauh lebih bergizi daripada konten-konten receh di internet.

Komunikasi terbuka juga adalah kunci. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti, kenapa kita kudu menjaga fitrah. Duduklah di sampingnya, tatap matanya, dan katakan dengan lembut, “Nak, Allah menciptakan Anda sebagai laki-laki. Kamu istimewa. Allah mau Anda menjadi pelindung, bukan yang dilindungi. Allah mau Anda kuat, agar bisa menjaga ibu, adik-adik, dan agamamu kelak.”

Kata-kata seperti ini, yang lahir dari hati, bakal meresap jauh ke dalam jiwanya. Ia bakal tumbuh dengan kebanggaan terhadap identitasnya sebagai laki-laki muslim.

Ikhtiar praktis mencetak anak tangguh

Mari kita bicara tentang langkah-langkah nyata. Teori tanpa tindakan adalah sia-sia. Berikut ini beberapa strategi praktis yang bisa kita mulai dari sekarang.

Pertama: Batasilah screen time sejak dini. Idealnya, tunda pemberian gadget hingga anak usia sekolah dasar. Jika terpaksa, maksimal satu jam sehari dengan pengawasan ketat. Pilih konten yang Islami dan mendidik: cerita Nabi, animasi adab mulia, alias tayangan tentang alam semesta yang menumbuhkan rasa kagum kepada Allah. Gunakan fitur parental control untuk menyeleksi konten negatif. Dan yang tak kalah penting, jadilah kawan obrolan anak tentang apa yang dia tonton. Tanyakan, “Adek tadi nonton apa? Coba ceritakan ke Ibu.” Dari situ, kita bisa meluruskan jika ada pemahaman yang menyimpang.

Kedua: Biasakan kegiatan bentuk outdoor setiap hari. Ajak anak bermain bola, berlari, alias sekadar berjalan-jalan di pagi hari. Aktivitas bentuk ini membantu produksi hormon testosteron secara alami dan membangun mental tangguh. Anak yang aktif bergerak bakal lebih sehat, lebih percaya diri, dan lebih jauh dari bujukan rebahan sambil scrolling tanpa tujuan.

Ketiga: Tanamkan ibadah rutin sebagai pondasi. Salat tepat waktu, mahfuz Al-Qur’an, dan angan berbareng family adalah tembok ketaatan yang kokoh. Allah berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat, dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha [20]: 132)

Anak yang terbiasa salat sejak mini bakal mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah. Ia bakal mempunyai filter alami dalam menghadapi godaan. Hatinya bakal peka: jika sesuatu itu salah, dia bakal merasa tidak nyaman meskipun belum tahu alasannya.

Keempat: Bangun organisasi yang positif. Ikutkan anak ke halaqah kajian anak laki-laki di masjid, kegiatan pramuka Islami, alias golongan belajar yang sehat. Lingkungan yang baik bakal membentuk karakter yang baik. Rasulullah ﷺ bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung kepercayaan kawan dekatnya. Maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang menjadi kawan dekatnya.” (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Kelima: Ajarkan critical thinking. Ajak anak berpikir kritis terhadap apa yang dia lihat. Tanyakan, “Menurutmu, apakah ini sesuai dengan sifat laki-laki muslim, alias hanya ikut-ikutan tren?” Latih dia untuk tidak menelan mentah-mentah setiap konten yang lewat di hadapannya. Ini adalah bekal berbobot untuk masa depannya.

Saudaraku, rahimakumullah, mencetak generasi yang teguh di atas fitrahnya adalah jihad kita di era ini yang memerlukan kesabaran, keikhlasan, dan kesungguhan. Namun, yakinlah, setiap tetes capek kita, setiap angan yang kita panjatkan di sepertiga malam, dan setiap kata-kata baik yang kita bisikkan ke telinga anak-anak kita—semuanya dicatat oleh Allah. Tidak ada yang sia-sia.

Semoga Allah menjaga anak-anak kita. Semoga Allah meneguhkan mereka di atas fitrah Islam yang suci. Dan semoga Allah mengumpulkan kita kembali di surga-Nya, berbareng family yang kita cintai, dalam keadaan penuh kebahagiaan. Aamiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Baca juga: Mengajarkan Ridha dan Qana’ah pada Anak

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Kincai Media

Selengkapnya
Mencetak Generasi Anti Boti
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting