Kincai Media , JAKARTA -- Anas bin Nadhar merupakan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dari golongan Anshar. Sejak menjadi Muslim, tokoh Suku Khazraj itu selalu setia membersamai perjuangan syiar Islam.
Pernah suatu ketika, dia luput menyertai jihad fii sabilillah, ialah Perang Badar, lantaran argumen yang bisa diterima. Bagaimanapun, Anas bin Nadhar tetap menyatakan penyesalannya.
Hal itu dituturkan di kemudian hari oleh sepupunya, Anas bin Malik. Katanya, “Pamanku (Anas bin Nadhar) pernah berkata. ‘Dahulu, saya tidak ikut serta dalam perang pertama yang dilakoni Rasulullah SAW. Sungguh, sekiranya Allah mengizinkanku untuk ikut berjihad berbareng beliau, Allah bakal memandang apa yang bakal kulakukan.’”
Menurut Anas bin Malik pula, asbabun nuzul surah al-Ahzab ayat ke-23 berangkaian dengan pamannya itu. Terjemahan ayat itu: “Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).”
Ya, Anas bin Nadhar telah berjanji untuk menyertai jihad Rasulullah SAW sesudah Badar. Dan, pada tahun ketiga Hijriyah, pecahlah perang lagi.
Kaum musyrikin kembali mengusik ketenteraman umat Islam. Kedua belah pihak berjumpa di lembah Bukit Uhud.
Pada permulaan Perang Uhud, Muslimin sesungguhnya berada dalam posisi unggul. Strategi yang sudah dicanangkan Nabi SAW melangkah dengan baik. Alhasil, pasukan musyrikin sempat mundur. Beberapa dari mereka apalagi melarikan diri dari gelanggang pertempuran.
Salah satu poin strategi Rasulullah SAW adalah mengamankan area bukit Uhud. Beliau pun menempatkan sejumlah pasukan berkuda di sana. Mereka ditugaskan agar selalu berada di tempat. Jangan ke mana-mana hingga musuh betul-betul telah kembali ke Makkah.
Namun, para prajurit berkuda itu melalaikan tugasnya. Dari atas bukit, mereka seperti memandang rekan-rekan sepejuangannya di lembah sudah sukses menyapu musuh. Bahkan, tampak beberapa kekayaan barang milik kafir Quraisy teronggok begitu saja di atas tanah.
Karena mengira telah memperoleh kemenangan, pasukan berkuda ini lampau meninggalkan posnya, dan menuruni bukit. Inilah yang ditunggu-tunggu pasukan Quraisy yang berjaga di dekat puncak bukit. Mereka dipimpin Khalid bin Walid—yang saat itu belum memeluk Islam.
Khalid dan anak buahnya lampau mengawali serangan balik. Pasukan Muslim sangat terkejut dengan serbuan itu. Dalam waktu singkat, mereka pun tercerai berai dan berceceran ke segala arah. Situasi menjadi kacau balau.
Kemudian, tersiar berita bahwa Nabi SAW telah gugur akibat serangan mendadak itu. Berita tersebut segera meruntuhkan moril sebagian besar pasukan Muslimin. Bahkan, beberapa orang Islam terduduk lemas, seakan-akan tidak lagi berkekuatan mengangkat pedang.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·