Mengapa Allah Lebih Mencintai Amal yang Sedikit tetapi Konsisten? Ini Penjelasan Hadisnya

Bincang Syariah oleh Waktu baca 5 menit 510x dilihat
Mengapa Allah Lebih Mencintai Amal yang Sedikit tetapi Konsisten? Ini Penjelasan Hadisnya

Bagikan Postingan

Mengapa Allah Lebih Mencintai Amal yang Sedikit tetapi Konsisten? Ini Penjelasan HadisnyaMengapa Allah Lebih Mencintai Amal yang Sedikit tetapi Konsisten? Ini Penjelasan Hadisnya

Kincai Media– Pernahkah kita begitu antusias beribadah, lampau beberapa hari kemudian semangat itu hilang? Hari ini membaca Al-Qur’an satu juz. Besok tetap semangat. Lusa mulai berkurang. Seminggu kemudian, mushaf kembali tersimpan di rak.

Atau kita pernah berkeinginan melakukan shalat malam setiap hari, memperbanyak sedekah, rutin membaca kitab agama, alias memperbanyak zikir. Semuanya terasa mudah ketika hati sedang bersemangat. Namun, menjaga kebiasaan itu dalam jangka panjang rupanya tidak semudah memulainya.

Pada titik ini, ada sabda Rasulullah yang sangat relevan bahwa Allah menyukai ibadah konsisten, meskipun sedikit demi sedikit. Nabi bersabda;

أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ أدْومُها و إن قَلَّ

Artinya; “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling terus-menerus dilakukan, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari)

Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad ibn Ismail al-Bukhari dalam Sahih Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj dalam Sahih Muslim, melalui beberapa jalur dari ‘Aisyah. Dalam salah satu riwayat lain dengan redaksi yang berbeda, Nabi SAW bersabda:

سُئِلَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: أيُّ الأعمالِ أحَبُّ إلى اللهِ؟ قال: أدومُها وإن قَلَّ، وقال: اكلَفوا مِنَ الأعمالِ ما تُطيقونَ.

Artinya; “Nabi ﷺ ditanya: ‘Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab: ‘Yang paling terus-menerus dilakukan, meskipun sedikit.’ Beliau juga bersabda: ‘Lakukanlah amalan-amalan yang kalian bisa mengerjakannya.’”(HR. Imam Bukhari)

Pun, lewat riwayat lain, Rasulullah pernah ditanya tentang ibadah yang konsisten, meskipun sedikit, Nabi bersabda:

Dalam riwayat lain, Nabi memberikan konteks yang sangat penting:

يا أَيُّها الناسُ ! عليكم من الأعمالِ ما تُطِيقُونَ ، فإنَّ اللهَ لا يَمَلُّ حتى تَمَلُّوا ، وإنَّ أَحَبَّ الأعمالِ إلى اللهِ ما دُووِمَ عليه وإن قَلَّ

Artinya; “Wahai manusia! Kerjakanlah amalan-amalan yang kalian mampu. Sesungguhnya Allah tidak bakal jenuh (memberi pahala) hingga kalian sendiri yang bosan. Dan sesungguhnya ibadah yang paling dicintai Allah adalah ibadah yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.”

Hadis ini menarik. Coba, perhatikan jawaban Nabi Muhammad. Ketika ditanya tentang kebaikan yang paling dicintai Allah, beliau tidak menjawab, “Yang paling banyak.”

Nabi justru menjawab:

أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya; “Yang paling terus-menerus, meskipun sedikit.”

Ini bukan berfaedah Islam tidak menyukai kebaikan yang banyak. Bukan pula berfaedah kita dianjurkan puas dengan kebaikan yang sedikit. Pesannya lebih kepada: jangan mengejar banyak jika akhirnya tidak bisa bertahan. Lebih baik punya satu kebiasaan baik yang terus hidup daripada mempunyai banyak sasaran ibadah yang hanya memperkuat sebentar.

Secara contoh begini, bayangkan seseorang membaca Al-Qur’an hanya dua laman setiap hari.
Dua laman mungkin terasa sangat sedikit. Tetapi jika dilakukan setiap hari selama setahun, jumlahnya menjadi sangat banyak.

Begitu pula dengan sedekah. Seribu alias lima ribu rupiah setiap hari mungkin tampak kecil. Namun, kebiasaan itu membentuk jiwa yang terbiasa memberi. Begitu juga dengan zikir. Beberapa menit setiap pagi mungkin tidak terasa istimewa. Tetapi jika terus dijaga selama bertahun-tahun, zikir itu bisa menjadi bagian dari kehidupan.

Inilah rahasia istiqamah. Yang mini menjadi besar lantaran tidak berhenti. Sebaliknya, kebaikan yang besar tetapi hanya dilakukan sesekali bisa kalah dalam kebermanfaatan dibandingkan kebaikan sederhana yang terus terpelihara.

Hal ini kemudian yang dijelaskan Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim bahwa Allah mencintai ibadah yang dikerjakan secara konsisten, meskipun ibadah tersebut sedikit. Ia berkata;

وفيه : الحث على المداومة على العمل وأن قليله الدائم خير من كثير ينقطع ، وإنما كان القليل الدائم خيرا من [ ص: 403 ] الكثير المنقطع ؛ لأن بدوام القليل تدوم الطاعة والذكر والمراقبة والنية والإخلاص والإقبال على الخالق سبحانه وتعالى ، ويثمر القليل الدائم بحيث يزيد على الكثير المنقطع أضعافا كثيرة

Artinya; “Dalam sabda ini terdapat rekomendasi untuk senantiasa konsisten dalam melakukan suatu amal. Amal yang sedikit tetapi dilakukan secara terus-menerus lebih baik daripada kebaikan yang banyak tetapi terputus.

Amal yang sedikit namun terus-menerus lebih baik daripada kebaikan yang banyak tetapi terputus lantaran dengan konsistensi dalam melakukan kebaikan yang sedikit, bakal terus terjaga ketaatan, zikir, muraqabah (merasa selalu diawasi oleh Allah), niat, keikhlasan, serta perhatian dan ketundukan kepada Sang Pencipta, Mahasuci dan Mahatinggi.

Selain itu, kebaikan yang sedikit tetapi dilakukan secara terus-menerus bakal menghasilkan perkembangan dan keberkahan, sehingga pada akhirnya dapat melampaui kebaikan yang banyak tetapi terputus, apalagi berlipat dobel berkali-kali.” (Imam An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, (Kairo: Darus Salam, 1996 M) Juz VI, laman 401).

Lalu muncul pertanyaan: gimana mungkin kebaikan disebut “terus-menerus”, sementara manusia punya kesibukan, kelelahan, apalagi kadang sakit?

Imam Badruddin al-‘Aini memberikan penjelasan menarik dalam ‘Umdat al-Qari. Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan الدوام (ad-dawām) bukanlah seseorang kudu melakukan suatu kebaikan setiap saat tanpa berhenti. Yang dimaksud adalah المواظبة العرفية, ialah konsistensi yang secara umum dikenal sebagai kebiasaan alias rutinitas.

Simak penjelasannya dalam kitab Umdatul Qari;

قوله : أدومها بصيغة أفعل التفضيل، قيل : أدومها كيف يكون قليلاً ومعنى الدوام شمول الأزمنة؟ مع أنه غير مقدور أيضاً. أجيب بأن المراد بالدوام المواظبة العرفية وهي الإتيان بها في كل شهر أو كل يوم بقدر ما يطلق عليه عرفاً اسم المداومة. قوله : وإن قل أي: أحب الأعمال وهو معطوف على مقدر تقديره أن لم يقل وإن قل.

Artinya; Perkataan beliau: “أَدْوَمُهَا” menggunakan corak af‘al at-tafdhil (bentuk superlatif), yang berfaedah “yang paling terus-menerus dilakukan”.

Ada yang mempertanyakan: Bagaimana mungkin sesuatu disebut sedikit tetapi sekaligus “terus-menerus”, sedangkan makna terus-menerus mencakup seluruh waktu? Lagi pula, perihal semacam itu juga tidak mungkin sepenuhnya dilakukan oleh manusia.

Jawabannya: yang dimaksud dengan “terus-menerus” (الدوام) adalah konsistensi menurut kebiasaan yang bertindak (‘urf), ialah seseorang mengerjakan suatu ibadah setiap bulan alias setiap hari dengan kadar yang secara umum tetap dapat disebut sebagai membiasakan alias rutin melakukannya.

Perkataan beliau: “وَإِنْ قَلَّ” berarti: meskipun ibadah tersebut sedikit. Frasa ini berangkaian dengan sesuatu yang diperkirakan sebelumnya, sehingga maknanya kira-kira: “(amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus dilakukan), meskipun sedikit.” (Umdatul Qari, (Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 1971), Jilid 23 laman 98).

Jadi, istiqamah tidak berfaedah kudu melakukan kebaikan dengan jumlah yang sama setiap hari tanpa pernah berkurang. Yang penting, jangan meninggalkannya sama sekali.

Hari ini mungkin kita bisa membaca sepuluh laman Al-Qur’an. Besok hanya dua halaman. Tidak masalah. Hari ini bisa bersedekah banyak. Besok hanya sedikit. Tidak masalah. Yang penting, pintu kebaikan itu tetap terbuka.

Hadis ini pada ujungnya membujuk kepada kita satu seni krusial dalam beragama: menjaga kesinambungan. Jangan hanya bertanya, “Berapa banyak kebaikan yang sudah saya lakukan?”

Sesekali tanyakan juga: “Amal baik apa yang sudah saya lakukan dan belum saya tinggalkan?” Sebab istiqamah bukan tentang melakukan sesuatu yang besar sekali, lampau selesai.

Istiqamah adalah tentang melakukan kebaikan kecil, kemudian mengulanginya lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai kebaikan itu menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter, dan karakter membawa kita semakin dekat kepada Allah.

Maka, jika hari ini kita belum bisa melakukan banyak amal, jangan berkecil hati. Lakukan sedikit. Tetapi jangan berhenti. Karena menurut sabda Rasulullah, boleh jadi justru kebaikan mini yang kita jaga itulah yang paling dicintai Allah.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads