Mengapa “Old Money” Menjadi Fantasi Estetika Generasi Baru?

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 6 menit 513x dilihat
Mengapa “Old Money” Menjadi Fantasi Estetika Generasi Baru?

Bagikan Postingan

Blazer navy, kemeja Oxford, loafers, cable-knit sweater, celana tailored, warna beige, kapal layar, country club, rumah tua, dan liburan di pesisir Eropa. Di media sosial, kombinasi visual tersebut sekarang sering diberi satu label sederhana: old money aesthetic.

Secara historis, “old money” merujuk pada kekayaan yang diwariskan lintas generasi. Namun di TikTok, Instagram, dan Pinterest, istilah itu telah berubah menjadi bahasa visual. Yang ditiru bukan rekening bank alias silsilah keluarga, melainkan gambaran kehidupan yang diasosiasikan dengan kekayaan lama: tenang, klasik, berpendidikan, dan tidak terlalu mencolok.

GQ mencatat bahwa estetika ini banyak mengambil referensi dari style elite East Coast Amerika pertengahan abad ke-20—prep school, Ivy League, tennis whites, Ralph Lauren vintage, hingga figur seperti John F. Kennedy Jr. dan Carolyn Bessette-Kennedy. Di Instagram, #OldMoney dan #OldMoneyAesthetic apalagi telah menghasilkan ratusan ribu unggahan.

Preppy style

Photo via hockerty.com

Dari Preppy Menjadi “Old Money”

Sebagian besar komponen old money sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

Beberapa dasawarsa lalu, style yang sekarang disebut old money kemungkinan besar bakal dikenali sebagai preppy: blazer, polo shirt, chinos, knitwear, loafers, dan busana olahraga yang berakar pada lingkungan kampus elite, klub tenis, golf, serta budaya leisure kelas atas.

Media sosial kemudian mengemas kembali warisan visual tersebut dalam istilah yang lebih dramatis dan aspiratif. Vogue apalagi menyebut old money sebagai salah satu dari sekian banyak “aesthetic” dan microtrend yang berkembang pada era TikTok—sebuah bumi visual komplit yang tidak hanya terdiri dari pakaian, tetapi juga yacht, hotel Eropa, champagne, mobil klasik, dan rumah megah.

Perubahannya penting. “Preppy” menjelaskan style berpakaian. “Old money” menjual imajinasi mengenai kehidupan di kembali busana tersebut.

Karena itu, sepasang loafers bukan sekadar sepatu. Ia bisa menjadi bagian dari khayalan tentang akhir pekan di country club. Sweater yang diletakkan di bahu bukan sekadar styling, tetapi kode visual dari bumi yang diasosiasikan dengan privilese dan leisure.

Mengapa Generasi Muda Tertarik?

Popularitasnya menjadi semakin menarik lantaran muncul pada generasi yang justru menghadapi tekanan ekonomi cukup besar.

Deloitte dalam survei dunia Gen Z dan milenial 2025 menemukan lebih dari 80 persen responden menganggap kondisi finansial sehari-hari dan masa depan finansial sebagai sumber kecemasan. Sebanyak 48 persen Gen Z mengatakan mereka tidak merasa kondusif secara finansial, sementara lebih dari separuh responden Gen Z dan milenial hidup dari satu penghasilan ke penghasilan berikutnya.

Di tengah situasi tersebut, old money menawarkan kebalikan dari kekhawatiran itu.

Fantasinya bukan terutama tentang menjadi sangat kaya, tetapi tentang tidak terlihat cemas terhadap uang. Pakaian tampak sederhana. Tidak ada kebutuhan memamerkan logo besar. Barang terlihat tahan lama. Rumah seolah diwariskan. Liburan tidak tampak seperti sesuatu yang kudu ditabung bertahun-tahun.

Kekayaan dalam estetika old money digambarkan sebagai keadaan permanen, bukan pencapaian yang kudu terus dipertontonkan.

Di situlah daya tarik psikologisnya. Ia menawarkan visual tentang stabilitas pada generasi yang kehidupan ekonominya justru sering terasa tidak stabil.

Kemewahan yang Tidak Perlu Berteriak

Old money juga tumbuh berbarengan dengan ketenaran quiet luxury dan stealth wealth.

Ketiganya memang tidak identik. Quiet luxury lebih menekankan kualitas, material, potongan, dan kreasi tanpa logo mencolok. Old money membawa tambahan unsur warisan, tradisi, serta khayalan mengenai kelas sosial tertentu.

Namun keduanya berbagi satu bahasa visual: kekayaan tidak lagi kudu terlihat melalui monogram besar.

McKinsey dan Business of Fashion mendefinisikan quiet luxury sebagai aktivitas menuju busana berbobot tinggi, understated, dan sering tanpa logo. Tren ini berkembang sebagai reaksi terhadap era logo-mania dan kemewahan yang lebih demonstratif.

Loro Piana, The Row, Brunello Cucinelli, dan beragam brand dengan estetika minimal kemudian menjadi simbol dari jenis kemewahan tersebut. Ironinya, busana yang terlihat sangat sederhana justru dapat mempunyai nilai yang sangat mahal.

Kemewahan kemudian bekerja melalui kode yang lebih halus: kualitas kain, konstruksi, siluet, warna, dan keahlian mengenali sebuah produk tanpa kudu memandang logonya.

Media Sosial Mengubah Kelas Sosial Menjadi Kostum

Ada paradoks lain di sini. Old money secara tradisional berangkaian dengan sesuatu yang susah diperoleh: warisan keluarga, jaringan sosial, pendidikan elite, properti, dan modal yang dikumpulkan lintas generasi. Namun media sosial mengubah sebagian simbol tersebut menjadi sesuatu yang dapat ditiru dalam beberapa menit.

Seseorang tidak memerlukan trust fund untuk mengenakan blazer, polo shirt, celana linen, dan loafers.

GQ menggambarkan old money aesthetic generasi baru sebagai sesuatu yang kadang berfaedah seperti karakter yang dapat dimainkan. Konteks sejarahnya dipangkas, lampau tersisa kumpulan kode visual yang mudah direproduksi.

Karena itu, old money di internet sering lebih dekat dengan costume design daripada representasi kehidupan orang kaya sesungguhnya.

Sebuah video berdurasi 15 detik dapat membangun bumi tersebut melalui musik jazz, pertandingan tenis, kitab klasik, arloji vintage, villa Italia, dan warna-warna netral. Algoritma kemudian memperkuatnya sebagai satu paket estetika yang kohesif.

Kelas sosial yang kompleks berubah menjadi moodboard.

Fantasi tentang Dunia yang Lebih Lambat

Old money juga menarik lantaran estetika ini terlihat seperti antitesis dari kehidupan digital. Budaya internet serba cepat, penuh notifikasi, microtrend, iklan, dan kebutuhan untuk terus memperbarui diri. Old money justru memproyeksikan waktu yang lambat: membaca koran, bermain tenis, berlayar, makan malam panjang, mengenakan busana yang sama selama bertahun-tahun.

Barang-barangnya juga tampak dirancang untuk bertahan. Sweater menjadi lebih menarik setelah dipakai lama. Sepatu kulit mendapatkan patina. Jam tangan diwariskan. Pakaian tidak kudu mengikuti setiap tren.

Dalam konteks fashion yang bergerak semakin cepat, pendapat mengenai sesuatu yang “timeless” mempunyai daya tarik tersendiri.

Bahkan laporan State of Fashion 2026 menunjukkan bahwa brand seperti COS sukses menarik konsumen melalui posisi di antara mass market dan luxury dengan kreasi minimal, refined, serta pendapat style yang tidak terlalu berjuntai pada tren sesaat.

Old Money Tetap Sebuah Fantasi Kelas

Ada sisi yang mudah lenyap ketika estetika tersebut direduksi menjadi outfit inspiration.

Kekayaan lama tidak pernah sekadar tentang busana bagus. Ia berangkaian dengan kepemilikan aset, warisan, akses pendidikan, jaringan sosial, dan sejarah pengedaran kekayaan yang tidak selalu setara.

Karena itu, romantisasi old money mempunyai kontradiksi: generasi yang menghadapi kekhawatiran finansial justru mengidealkan simbol dari kekayaan turun-temurun yang sebagian besar tidak mungkin diperoleh hanya dengan kerja keras alias pilihan fashion.

Vogue juga mencatat bahwa tren old money dan quiet luxury dapat dibaca dalam konteks kekhawatiran kelas—fashion menjadi salah satu tempat tempat aspirasi ekonomi diterjemahkan menjadi estetika.

Namun kemungkinan besar di situlah kegunaan fantasinya.

Orang tidak kudu betul-betul mau menjadi aristokrat untuk menyukai estetika tersebut. Seperti cottagecore yang tidak berfaedah semua orang mau pindah ke pedesaan, old money tidak selalu berfaedah kemauan literal menjadi bagian dari dinasti kaya.

Yang dikonsumsi adalah perasaannya: ketenangan, permanensi, kualitas, dan hidup yang tampak tidak tergesa-gesa.

Ketika Kekayaan Menjadi Moodboard

Old money aesthetic pada akhirnya menunjukkan gimana internet bekerja terhadap budaya.

Ia mengambil sejarah, kelas sosial, fashion, film, selebritas, dan nostalgia, lampau mereduksinya menjadi seperangkat gambar yang bisa dikenali dalam hitungan detik.

Hasilnya adalah jenis kekayaan yang sangat bersih: tidak ada persoalan pajak, warisan, ketimpangan, alias pekerjaan. Yang tersisa hanyalah linen putih, rumah tua, mobil klasik, laut biru, dan seseorang yang terlihat tidak pernah terburu-buru.

Justru lantaran itulah khayalan tersebut begitu efektif.

Di era ketika banyak orang terus dituntut mengejar sesuatu—pekerjaan, penghasilan, followers, tren berikutnya—old money menawarkan gambaran kehidupan yang seolah telah selesai mengejar.

Mungkin yang diinginkan generasi baru bukan sebenarnya “old money”, melainkan sesuatu yang diwakilinya: rasa aman, waktu luang, dan kemewahan untuk tidak selalu terlihat sedang berusaha.

Sumber: GQ; Vogue; McKinsey & Company; Business of Fashion; Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads