Anak terus-menerus membicarakan makanan, selalu memikirkan camilan berikutnya, alias mau makan meski baru saja selesai makan? Hal ini mungkin disebabkan oleh kejadian yang sekarang dikenal sebagai food noise.
Meski istilah ini tetap tergolong baru, para mahir menyebut food noise dapat memengaruhi kesehatan bentuk hingga emosional, apalagi pola makan anak.
Nah, orang tua pun mempunyai peran krusial untuk membantu anak mengelola kondisi ini sejak dini.
Apa itu food noise?
Food noise merupakan konsep yang tetap tergolong baru, sehingga belum mempunyai arti yang baku. Namun dikutip dari Good Rx, beberapa mahir mendefinisikannya sebagai pikiran tentang makanan yang terus-menerus muncul.
Berbeda dengan pikiran soal makanan yang biasa, pada food noise ini terjadi secara konstan dan apalagi sampai mengganggu kegiatan sehari-hari. Anak jadi susah menjalani kebiasaan hidup sehat.
Kondisi ini dapat berupa 'suara' yang muncul di dalam pikiran, yang terus membahas apa yang bakal dimakan, kapan kudu makan, di mana bakal makan, berapa banyak yang kudu dimakan, dan sebagainya.
Food noise dapat menyebabkan seseorang:
- Makan meskipun sebenarnya tidak lapar
- Sering terdistraksi oleh pikiran yang terus-menerus tentang makanan
- Berbelanja makanan beberapa kali dalam sehari
- Memikirkan menu makan berikutnya saat tetap menyantap makanan yang sedang dimakan
Bagaimana food noise memengaruhi kehidupan sehari-hari?
Pikiran yang terus-menerus dipenuhi oleh makanan dapat berakibat pada kesehatan bentuk maupun mental seseorang.
Kondisi ini berisiko dapat menyebabkan:
- Kenaikan berat badan yang tak terkendali
- Kesulitan menurunkan berat badan
- Masalah kesehatan yang berangkaian dengan berat badan, seperti glukosuria alias hipertensi
- Gangguan pola makan
- Kecemasan dan akibat depresi
Food noise pada anak
Tak hanya pada orang dewasa, para mahir juga mengatakan bahwa food noise dapat terjadi pada anak-anak.
"Food noise merupakan 'suara' yang muncul terus-menerus dan mengganggu di dalam pikiran seseorang mengenai makanan, kegiatan makan, dan kemauan untuk makan. Ini bisa terjadi pada anak-anak juga," ujar master ahli anak di Amerika Serikat, Daniel Ganjian, MD, FAAP, dikutip dari Parents.
Menurut Ganjian, food noise bisa mulai muncul sejak masa kanak-kanak alias remaja, seiring berkembangnya hubungan anak dengan makanan.
Meski ada banyak aspek yang dapat memicu masalah pola makan dan gambaran tubuh, Ganjian menyebut media sosial turut memperburuk kondisi tersebut terutama pada golongan usia muda.
Saat ini, semakin banyak anak dan remaja yang menggunakan media sosial. Oleh lantaran itu, Ganjian dan para mahir lainnya menekankan bahwa food noise dapat memengaruhi anak secara fisik, emosional, maupun sosial.
Mengapa food noise bisa muncul sejak dini?
Food noise dapat terjadi lantaran beragam penyebab, bukan hanya satu aspek saja. Beberapa penyebab yang umum antara lain:
- Faktor genetik
- Ketidakseimbangan hormon
- Pemicu dari lingkungan, seperti iklan makanan yang sangat menggugah selera
"Perlu dipahami bahwa otak anak tetap terus berkembang sehingga mereka jauh lebih susah untuk menghentikan pikiran-pikiran yang terus muncul tersebut," jelas Ganjian.
Menurut terapis sekaligus penulis kitab My Child Has an Eating Disorder: An Essential Guide for Parents of Kids, Teens, and Adults, Alli Spotts-De Lazzer, LMFT, LPCC, CEDS-C, food noise terasa mirip dengan lagu yang terus berputar di kepala tanpa bisa dihentikan.
"Hampir selalu ada makanan di sekitar kita, mudah diperoleh alias dibeli, sehingga muncul rasa mendesak untuk menuruti 'suara' tersebut agar pikiran menjadi tenang," imbuh Spotts-De Lazzer.
Food noise dapat mengganggu konsentrasi saat belajar di kelas alias berolahraga, membikin anak susah menikmati momen yang sedang dilakukan saat ini dan mengganggu kegiatan sosialnya.
Dampak food noise bagi anak
Ilustrasi/Foto: Getty Images/kohei_hara
Pembahasan mengenai food noise sering dikaitkan dengan obesitas, termasuk pada anak-anak, tetapi akibat sebenarnya lebih dari sekadar masalah fisik.
Salah satu akibat lainnya yang tak kalah krusial ialah tekanan mental bagi anak. Sebagian anak merasa pikirannya tentang makanan tidak bisa dikendalikan. Hal ini berpotensi memunculkan rasa bersalah alias malu setiap kali makan.
Cara orang tua membantu anak mengatasi food noise
Seperti disebutkan sebelumnya, food noise dapat mendorong anak jadi makan lebih sering meskipun sebenarnya tidak lapar.
Hal ini terjadi lantaran 'suara' di dalam pikiran tersebut membikin anak keliru mengenali sinyal lapar dari tubuhnya.
Untuk mengatasi perihal ini, orang tua dapat membantu mengecilkan 'suara' pada kasus food noise Si Kecil. Apa saja yang bisa dilakukan?
1. Terapkan agenda makan yang konsisten
Menurut master ahli endokrinologi anak, Michelle Maresca, MD, makan utama dan camilan pada waktu yang teratur dapat membantu mengurangi kekhawatiran anak mengenai kapan makanan tersedia.
"Ketika anak tahu kapan mereka bakal makan berikutnya, mereka condong tidak terus-menerus memikirkannya," kata Maresca.
Selain itu, konsistensi juga membantu mencegah anak menjadi terlalu lapar. Saat rasa lapar sudah berlebihan, mereka condong makan terlalu sigap sehingga tidak sempat mengenali sinyal kenyang.
2. Fokus saat makan
Distraksi saat makan seperti pemakaian televisi, ponsel, alias tablet bisa membikin anak lebih susah mengenali sinyal lapar dan kenyang.
Jadi, pastikan anak makan berbareng di meja makan alias ruang makan tanpa gangguan seperti tablet dan ponsel. Dengan begitu, anak belajar bahwa waktu makan adalah saat untuk konsentrasi menikmati makanan, bukan sembari screen time.
3. Tetap sajikan makanan favorit anak
Orang tua sebaiknya tetap menyajikan makanan kesukaan anak dalam jumlah yang wajar dan seimbang agar mereka tidak merasa terlalu dibatasi. Pola makan dengan patokan yang terlalu ketat kadang membikin anak jadi tidak nyaman di jam makannya.
Memberikan makanan favorit dalam porsi mini dapat membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan, sekaligus mengurangi kecenderungan makan berlebihan.
4. Berikan contoh kebiasaan yang sehat
Orang tua mempunyai peran besar dalam membentuk hubungan anak dengan makanan, baik melalui ucapan maupun tindakan sehari-hari.
Cara orang tua membicarakan pola makan alias corak tubuh mereka sendiri juga dapat meninggalkan kesan yang mendalam bagi anak. Sebagai contoh, orang tua mungkin berbicara bahwa mereka tidak mau makan banyak lantaran sedang mau menurunkan berat badan.
Meskipun terdengar sepele, komentar seperti ini sering melekat dalam ingatan anak dan memengaruhi langkah mereka memandang makanan maupun tubuhnya sendiri.
Hal ini juga dapat memicu food noise pada anak, lantaran seseorang yang mereka percaya memberikan komentar negatif terhadap makanan yang sebenarnya lezat untuk dinikmati.
Seiring waktu, pengalaman seperti ini dapat menumpuk dan berkembang menjadi pola makan yang tidak sehat pada anak.
5. Alihkan perhatian dengan kegiatan menyenangkan
Saat anak mulai terus-menerus membicarakan makanan padahal belum waktunya makan, ajak dia melakukan kegiatan lain seperti bermain di luar, membaca buku, menggambar, bersepeda, alias membikin kerajinan tangan.
Kapan perlu konsultasi ke dokter?
Perhatikan ciri-ciri berikut, jika anak mulai sering melakukannya Bunda mungkin perlu berkonsultasi ke master alias psikolog anak:
- Terlalu sering membicarakan makanan
- Diam-diam mengambil alias menyembunyikan makanan
- Mengalami kekhawatiran alias susah berkonsentrasi
- Terus makan meski tampak sudah kenyang
- Terlalu terpaku pada corak tubuhnya
- Kehilangan kendali terhadap pola makan secara terus-menerus, hingga menyebabkan makan berlebihan alias justru makan terlalu sedikit
- Perilaku makan anak mulai mengganggu hubungan family maupun pergaulan sosial
Tenaga ahli bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan masalah, penyebab, serta langkah tepat mengatasinya.
Itulah penjelasan tentang apa itu food noise yang bisa terjadi pada anak. Pastikan Bunda memberikan contoh positif mengenai pola makan agar Si Kecil bisa turut menirunya. Semoga berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·