Kenali Arti Stoikisme yang Ramai Dibahas di Medsos, Bukan Berarti Harus Selalu Tenang!/ Foto: magnific.com/lookstudio
Belakangan ini istilah ‘Stoik’ alias ‘Stoikisme’ ramai diperbincangkan di media sosial. Tidak sedikit yang menganggap dan menerapkan Stoikisme berarti harus selalu tenang apalagi bersikap dingin alias adopsi jarak saat melihat banyak masalah yang sedang terjadi, Beauties.
Padahal, Stoikisme sebetulnya bukanlah sekadar tren alias ajaran yang membujuk kita untuk jadi tidak peduli terhadap keadaan di sekitar kita. Stoikisme yang merupakan suatu aliran filosofi klasik yang akhir-akhir ini balik populer tersebut justru dianggap bisa membujuk kita menjadi manusia yang hidup lebih bijak termasuk dalam menghadapi beragam kesulitan.
Maka dari itu, agar tidak salah kaprah dalam memahamkan Stoikisme, yuk, simak penjelasannya berikut ini!
Apa Itu Stoikisme?

Stoikisme menawarkan sebuah cara menjalani hayat bahwa manusia perlu merasa jika dunia ini tidak lagi kelihatan sebagai tempat yang sepenuhnya teratur, tenang, dan harmonis./ Foto: magnific.com/benzoix
Dikutip dari Daily Stoic, kata ‘Stoik’ sebetulnya berasal dari kata dari bahasa Yunani ‘Stoa’ yang artinya serambi alias lorong. Di serambi pada bangunan formal dan kuil Yunani antik inilah para pelatih berjumpa dengan murid-murid dan filsuf pada masa tersebut menyampaikan pemikiran mereka kepada orang-orang yang tertarik mendengarnya.
Sedangkan Stoikisme, seperti yang dilansir dari Britannica, adalah suatu aliran pemikiran yang berkembang sejak masa Klasik yaitu dalam sejarah Yunani dan Romawi. Beberapa filsuf Stoik yang paling populer yaitu seperti Epictetus, Marcus Aurelius, dan Seneca the Younger.
Stoikisme menawarkan sebuah cara menjalani hayat bahwa manusia perlu merasa jika dunia ini tidak lagi kelihatan sebagai tempat yang sepenuhnya teratur, tenang, dan harmonis.
Menurut Stoikisme, akal bisa membantu kita memahami keteraturan alam semesta sekaligus menemukan sumber harga yang tidak berubah. Oleh karena itu, kemampuan dalam menggunakan akal juga turut jadi alas krusial dalam menjalani kehidupan.
Namun, ada juga yang beranggapan bahwa ajaran stoik populer yang kini ini beredar lebih sering disederhanakan sedemikian rupa sehingga kehilangan arti aslinya.
Hal ini karena Stoikisme adalah suatu tradisi filsafat yang jauh lebih kompleks daripada sekadar bersikap tenang, cuek, tidak memberitahu emosi, alias tidak memperdulikan keadaan sekitar.
Prinsip Stoikisme

Kaum Stoik pada umumnya meyakini bahwa memahami dan mengelola emosi dengan baik adalah salah satu hal krusial agar kita bisa meraih kebahagiaan./ Foto: magnific.com/diana.grytsku
Seperti yang dilansir dari Daily Stoic, filsafat Stoikisme sebetulnya mencakup bahasan yang sangat luas, mulai dari adab hingga ilmu pengetahuan seperti fisika dan astronomi.
Akan tetapi, untuk konteks Stoikisme yang saat ini lagi ramai dibahas, biasanya orang-orang lebih mengacu arti Stoikisme pada pandangan hidup yang diajarkan oleh para filsuf Stoik.
Untuk soal pandangan hidup, kaum Stoik pada umumnya meyakini bahwa memahami dan mengelola emosi dengan baik adalah salah satu hal krusial agar kita bisa meraih kebahagiaan. Itu artinya, membiarkan emosi mengendalikan reaksi kita justru bisa membikin kita jadi lebih gampang mengalami penderitaan.
Bagi mereka, kebahagiaan bukan berarti tidak memiliki emosi, melainkan tidak membiarkan diri kita jadi budak emosi. Seseorang perlu bisa menguasai dan mengarahkan emosinya agar statis beraksi secara logis dan sesuai dengan nilai-nilai kebajikan.
Stoikisme tidak mengajarkan kita untuk kehilangan emosi, tapi justru membantu kita memahami emosi agar tidak membiarkan emosi tersebut adopsi alih keputusan dan perilaku kita.
Nilai-nilai Kebajikan dalam Stoikisme

Ada empat harga amal yang jadi harga krusial dalam filsafat Stoik yaitu courage, temperance, justice, dan wisdom. / Foto: magnific.com/drobotdean
Ada empat harga amal yang jadi harga krusial dalam filsafat Stoik yaitu keberanian (courage), pengendalian diri alias moderasi (temperance), keadilan (justice), dan kebijaksanaan (wisdom).
Nilai-nilai ini juga bisa diterapkan dalam hidup, contohnya harga keberanian (courage) membujuk kita untuk berani menghadapi kesulitan alias masalah yang tidak selalu bisa dihindari.
Akan tetapi, harga keberanian ini belum cukup. Kita perlu menerapkan harga pengendalian diri (temperance) agar tidak beraksi asal-asalan yang justru membahayakan diri sendiri alias orang lain.
Selain itu, ada juga harga keadilan (justice) yang justru membujuk kita untuk berbuat apa yang benar dan memperlakukan orang lain sebagaimana mestinya alias memperjuangkan gagasan yang dianggap benar. Jadi, harga ini justru jadi bukti bahwa Stoikisme tidak mengajarkan kita cuma fokus pada diri sendiri.
Selanjutnya, untuk harga kebijaksanaan (wisdom) berangkaian dengan pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan kita memahami situasi sebelum adopsi keputusan.
Dalam Stoikisme, kita tidak cuma dituntut mendapatkan banyak info tapi juga menggunakan ilmu tersebut secara tepat dalam kehidupan.
Cara Menerapkan Stoikisme untuk Membantu Mengatasi Stres

Kamu bisa mencoba menerapkan hakikat Stoikisme dalam hayat sehari-hari agar bisa lebih mindful dan terhubung dengan lingkungan sekitar./ Foto: magnific.com/pvproductions
Kamu bisa mencoba menerapkan hakikat Stoikisme dalam hayat sehari-hari agar bisa lebih sadar, menghargai semua hal yang dimiliki sekarang, dan lebih terhubung dengan lingkungan sekitar. Berikut beberapa cara yang bisa Anda lakukan, seperti yang telah dirangkum dari Forbes.
- Fokus pada Hal-hal yang Bisa Dikendalikan
Fokuslah mengarahkan perhatianmu pada keputusan dan aksi yang bisa Anda lakukan. Dengan cara ini, Anda bisa menurunkan stres akibat memikirkan aspek eksternal. - Belajar Menerima Kenyataan
Stoikisme memperkenalkan konsep Amor Fati yang artinya mencintai takdir. Konsep ini membujuk kita untuk bisa menerima keadaan dan beragam peristiwa yang sedang terjadi sekaligus statis berupaya memperbaiki hal-hal yang bisa diperbaiki. Hal ini karena menerima kenyataan bukan berarti kita membiarkan ketidakadilan terjadi begitu saja. - Introspeksi
Selain berguru menerima, Anda juga bisa lebih fokus pada hal-hal yang bisa Anda kendalikan dengan mulai mengevaluasi dan introspeksi, misalnya tentang bagaimana Anda menjalani hari ini. Hasil dari evaluasi diri ini bisa Anda gunakan untuk mewujudkan hari besok yang lebih baik.
Itu tadi Beauties, beberapa klarifikasi mengenai konsep Stoikisme dan prinsip-prinsipnya. Apakah Anda tertarik untuk menerapkannya?
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(dmh/dmh)