Mengenal Cereese Qusba dan Sophia Dasser, Jurnalis Mahasiswa di Balik Terungkapnya Kasus Cornell University

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 6 menit 510x dilihat
Mengenal Cereese Qusba dan Sophia Dasser, Jurnalis Mahasiswa di Balik Terungkapnya Kasus Cornell University

Bagikan Postingan

Kasus anggapan kekerasan seksual di Cornell University, Amerika Serikat, yang dilaporkan terjadi pada Oktober 2024, balik menjadi sorotan setelah Jane Doe mengajukan tuntutan perdata pada September 2026. Dalam tuntutan tersebut, ia menuntut pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang dinilai berhubungan dengan kasus yang dialaminya.

Di tengah perhatian publik terhadap perkara ini, dua jurnalis mahasiswa dari surat berita kampus The Cornell Daily Sun, Cereese Qusba dan Sophia Dasser, turut menjadi sorotan. Qusba menelusuri kasus tersebut selama hampir dua tahun, sementara Dasser mengepalai redaksi dalam memungut keputusan editorial yang mengundang perdebatan.

Kisah keduanya kemudian diangkat oleh The New York Times. Lantas, siapa Cereese Qusba dan Sophia Dasser, dan sepertiapa peran mereka dalam memberitakan kasus tersebut? Berikut profilnya.

Latar Belakang Kasus

Ilustrasi korban kekerasan seksual

Ilustrasi/Foto: Ilustrasi dari Rajulur Rasyid

Melansir halaman The Cut, kasus yang juga dikenal dengan julukan “Cornell Seven” ini dimulai dari laporan anggapan kekerasan seksual di rumah fraternity Chi Phi, Cornell University, pada Oktober 2024. Seorang mahasiswi, yang kemudian menggunakan nama Jane Doe dalam arsip hukum, mengaku mengalami kekerasan seksual yang melibatkan sejumlah personel perkumpulan tersebut.

Pada November 2024, Cornell University Police Department mengumumkan penyelidikan mengenai laporan anggapan kekerasan seksual dan penggunaan narkoba di letak tersebut. Namun, selama hampir dua tahun, evolusi kasus ini tidak banyak diketahui publik.

Namun, setelah perhatian publik terhadap kasus tersebut mereda, penanganannya tidak banyak diketahui masyarakat. Situasi ini kemudian dipersoalkan balik ketika Jane Doe mengajukan tuntutan perdata pada September 2026, termasuk mengenai transparansi investigasi dan hukuman yang dijatuhkan pihak kampus.

Di tengah evolusi itulah, Cereese Qusba dan tim redaksi The Cornell Daily Sun menerbitkan laporan investigasi yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan. Pemberitaan mereka kemudian membantu membawa kasus tersebut ke perhatian nasional dan mendorong bahasan lebih luas mengenai respons beragam pihak mengenai terhadap anggapan kekerasan seksual.

Perkembangan kasus ini berlanjut pada mula Oktober 2026, ketika Gubernur New York Kathy Hochul menunjuk Jaksa Agung negara bagiankecil Letitia James sebagai jaksa khusus untuk menangani penyelidikan pidana. Namun, melansir ABC News, penunjukan ini juga menuai keberatan dari pengacara salah satu mahasiswa yang disebut dalam gugatan, yang menilai pernyataan publik James berisiko memengaruhi independensinya. Hingga kini, proses aturan statis berjalan dan belum ada dakwaan kriminal yang diajukan.

Cereese Qusba

Cereese Qusba/Foto: Tangkap Layar YouTube.com/CNN
Cereese Qusba/Foto: Tangkap Layar YouTube.com/CNN

Melansir The Cornell Daily Sun, Cereese Qusba merupakan mahasiswa di College of Arts and Sciences, Cornell University. Ia pernah menjabat sebagai editor berita di Dewan Redaksi ke-143 dan kini menjadi editor senior di Dewan Redaksi ke-144. Ia berumur 22 tahun ketika kisah peliputannya mengenai anggapan kekerasan seksual di rumah fraternity Chi Phi mendapat perhatian luas pada September 2026.

Perhatian Qusba terhadap kasus tersebut dimulai pada akhir 2024, ketika kelompok kampus menerima pemberitahuan mengenai laporan anggapan kekerasan seksual di rumah Chi Phi. Meski perhatian terhadap kasus itu perlahan mereda, ia statis merasa ada sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab.

Qusba kemudian menghubungi Jane Doe, perempuan yang mengajukan tuntutan dalam kasus tersebut, serta pengacaranya. Ia juga menelusuri kebijakan universitas dan mewawancarai pihak pengelolaan kampus mengenai metode mereka menangani anggapan pelanggaran serta menjatuhkan hukuman kepada mahasiswa.

Proses investigasi itu terjadi selama hampir 23 bulan. Ketika Jane Doe mengajukan tuntutan perdata pada September 2026, Qusba telah mengumpulkan keterangan dan membangun komunikasi dengan sumber-sumber terkait

Menurut laporan The New York Times, Qusba terlebihlagi statis mendorong agar kasus itu menjadi perhatian redaksi ketika sedang menjalani studi di Sydney. Ia menghubungi Sophia Dasser, yang baru saja memungut alih posisi imam redaksi pada mula 2026, dan menyampaikan keinginannya agar kasus tersebut menjadi fokus pemberitaan surat berita kampus.

Sophia Dasser

Sophia Dasser/Foto: Tangkap Layar YouTube.com/Cornell Arts and Sciences

Berbeda dari Qusba yang berfokus pada investigasi, Sophia Dasser berpartisipasi dalam menentukan sepertiapa hasil peliputan tersebut disampaikan kepada publik. Dasser merupakan imam redaksi The Cornell Daily Sun untuk masa 2026 dan mahasiswa Cornell yang mempelajari ilmu komputer serta filsafat.

Sebelum menjadi imam redaksi, perempuan berhijab ini menjabat sebagai editor opini. Pengalamannya di sektor tersebut turut membentuk pendekatannya terhadap isu-isu yang berhubungan dengan keadilan sosial, etika, dan himpunan yang kurang mendapat perhatian.

Setelah laporan Qusba diterbitkan pada September 2026, Dasser dan tim redaksi menghadapi keputusan editorial yang tidak sederhana. Mereka memutuskan untuk menerbitkan nama tujuh mahasiswa yang disebut sebagai tergugat dalam tuntutan perdata tersebut, termasuk dalam varian cetak surat berita dan editorial yang menyertainya.

Keputusan itu diambil dengan kesadaran bahwa para mahasiswa tersebut belum didakwa secara pidana. Menurut laporan The New York Times, tim redaksi terlebihlagi berkonsultasi dengan pengacara sebelum memutuskan untuk menerbitkan nama-nama tersebut.

Editorial yang terbit pada September 2026 itu menggunakan judul “Cornell Won’t Listen, We Will”. Pesan tersebut menyoroti tuntutan transparansi dan akuntabilitas dalam penanganan kasus anggapan kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Bagi Dasser, independensi pers mahasiswa memiliki arti krusial ketika isu yang diberitakan menyangkut institusi tempat para jurnalis itu sendiri menempuh pendidikan. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab utama surat berita tersebut adalah meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang memiliki kekuasaan. Meski demikian, keputusan menerbitkan nama-nama dalam perkara yang belum diputus pengadilan juga memunculkan konsekuensi hukum.

Dua Jurnalis Muda yang Berjuang Demi Keadilan

Sophia Dasser dan Cereese Qusba/Foto: Tangkap Layar YouTube.com/CNN

Kisah Qusba dan Dasser memperlihatkan dua peran yang saling melengkapi dalam ruang redaksi. Qusba menelusuri kenyataan dan mengembangkan laporan investigasi, sedangkan Dasser mengepalai proses editorial yang menentukan sepertiapa temuan tersebut disajikan dan ditindaklanjuti.

Setelah tuntutan Jane Doe menjadi perhatian nasional, The Cornell Daily Sun juga menerima banyak pesan dari mahasiswa yang mau berbagi pengalaman mengenai anggapan kekerasan seksual maupun kesulitan dalam proses pelaporan di kampus. Menurut Qusba dan Dasser, respons tersebut memberitahu bahwa permasalahan yang mereka liput memiliki akibat lebih luas bagi kelompok mahasiswa.

Pemberitaan mereka juga muncul berbarengan dengan evolusi aturan baru, termasuk keputusan jaksa daerah Tompkins County untuk membuka balik penyelidikan kriminal pada September 2026. 

Pada akhirnya, kisah dua jurnalis mahasiswa ini bukan cuma tentang sebuah kasus yang balik menjadi berita utama. Ini juga tentang sepertiapa pers kampus dapat berpartisipasi dalam menjaga perhatian publik terhadap isu yang menyangkut keselamatan mahasiswa, transparansi institusi, dan akuntabilitas.

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads