Di antara perkara yang paling menenteramkan hati seorang mukmin saat mengarungi ujian kehidupan adalah kepercayaan bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang menguap sia-sia di sisi Allah. Sekalipun suatu ibadah terlihat begitu sederhana dalam pandangan manusia, apalagi ketika tidak ada lisan yang menyanjungnya, Allah Ta’ala tidak pernah mengabaikannya. Dia membalas ketaatan yang sedikit dengan pahala yang berlipat ganda, serta mencurahkan karunia yang jauh melampaui upaya hamba-Nya. Segala kesempurnaan ini berakar dari sifat syukur Allah yang terkandung di dalam dua nama-Nya yang teramat agung, ialah Asy-Syaakir dan Asy-Syakuur.
Hamba yang memahami rahasia dua nama ini bakal terbebas dari jerat keputusasaan sekaligus terdorong untuk beragama dengan penuh rasa cinta. Ia sadar betul bahwa Tuhannya Maha Mengampuni dosa-dosa yang banyak dan di saat yang sama Maha Menghargai ketaatan yang sedikit. Pada uraian berikut, kita bakal menelusuri dalil-dalil penetapan nama Asy-Syaakir dan Asy-Syakuur, memahami maknanya dari sisi bahasa maupun penuturan para ulama, serta memandang apa saja akibat keagamaan yang semestinya tumbuh dalam diri seorang mukmin. Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing dan melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.
Dalil nama Allah “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur”
Nama Allah Asy-Syakuur disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak empat kali. Di antaranya pada firman Allah Ta’ala,
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 30)
Dan firman-Nya,
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ
“Dan mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Rabb kami Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 34)
Allah juga berfirman,
وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْناً إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Dan peralatan siapa yang mengerjakan kebaikan, bakal Kami tambahkan kebaikan baginya dalam ibadah tersebut. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Asy-Syuuraa: 23)
Serta firman-Nya,
إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
“Jika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Dia bakal melipatgandakan balasan-Nya bagi kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun.” (QS. At-Taghaabun: 17) [1]
Adapun nama Allah Asy-Syaakir termaktub di dalam Al-Qur’an pada dua tempat. Firman-Nya,
وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
“Dan peralatan siapa yang mengerjakan kebaikan dengan sukarela, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158)
Dan firman-Nya,
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِراً عَلِيماً
“Mengapa Allah bakal menyiksa kalian jika kalian berterima kasih dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisaa’: 147) [2]
Seluruh ayat tersebut datang dalam konteks karunia dan sanjungan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang taat, berupa pelipatgandaan pahala, tambahan keutamaan, serta pemberian pembebasan atas kelalaian mereka.
Kandungan makna nama Allah “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur”
Supaya kita dapat menyerap pesan mendalam dari kedua nama ini, ada baiknya kita meninjau akar bahasanya terlebih dahulu, kemudian mencermati penjelasan para ustadz ketika merumuskan makna syukur yang layak bagi keagungan Allah Ta’ala.
Makna bahasa dari “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur”
Kedua nama ini berakar dari kata شَكَرَ – يَشْكُرُ – شُكْرًا. Al-Jauhari memaparkan makna asal kata tersebut,
الشكر: الثناء على المحسن بما أولاكه من معروف، يقال: شكرته وشكرت له، وباللام أفصح
“Asy-syukru adalah sanjungan kepada orang yang melakukan baik atas kebaikan yang dia berikan kepadamu. Dikatakan: syakartuhu dan syakartu lahu, dan penggunaan huruf lam lebih fasih.” [3]
Ibn Faaris turut memberikan norma bahasa mengenai akar kata ini,
الشين والكاف والراء أصول أربعة متباينة بعيدة القياس، فالأول وهو المراد: الثناء على الإنسان بمعروف يوليكه
“Huruf syin, kaaf, dan raa’ mempunyai empat asal makna yang berbeda dan berjauhan ukurannya. Makna pertama -dan inilah yang dimaksud- adalah sanjungan kepada seseorang atas kebaikan yang dia berikan kepadamu.” [4]
Tinjauan kebahasaan di atas memperlihatkan bahwa syukur pada hakikatnya adalah pujian, pengakuan, dan jawaban atas suatu perbuatan baik.
Perbedaan corak lafaz “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur”
Para ustadz pengetahuan iktikad mencatat bahwa Asy-Syaakir datang dengan wazan faa’il yang menunjukkan penetapan original sifat tersebut pada Pemiliknya. Adapun Asy-Syakuur datang dengan wazan fa’uul, ialah corak sighah mubalaghah yang menonjolkan keluasan dan kesempurnaan sifat syukur tersebut.
Walaupun mempunyai nuansa lafaz yang berbeda, kedua nama ini berjumpa pada satu konklusi yang sangat agung. Allah membalas ibadah yang sedikit dengan pahala yang berlipat ganda, tidak mengabaikan jerih payah hamba-Nya, serta mengampuni kesalahan-kesalahan yang banyak. [5]
Makna “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur” dalam konteks sifat Allah
Ketika sifat syukur disandarkan kepada Allah Ta’ala, maknanya melesat jauh melampaui pemisah pengertian syukur antar-makhluk. Al-Khaththabi rahimahullah menjelaskan prinsip nama ini,
الشكور هو الذي يشكر اليسير من الطاعة، فيثيب عليه الكثير من الثواب، ويعطي الجزيل من النعمة، فيرضى باليسير من الشكر
“Asy-Syakuur adalah Dzat yang mensyukuri (menghargai) ketaatan yang sedikit, lampau membalasnya dengan pahala yang banyak, memberi karunia yang melimpah, dan meridai rasa syukur yang sedikit.” [6]
Tatkala menafsirkan firman Allah “fa-innallaaha syaakirun ‘aliim”, Ibnu Katsir rahimahullah menyimpulkan maknanya dengan ringkas,
أي: يثيب على القليل بالكثير
“Maknanya adalah: Dia membalas ibadah yang sedikit dengan jawaban yang sangat banyak.” [7]
Syekh Abdurrahman as-Sa’di memperkaya pembahasan ini dengan uraian yang banget jernih,
هو الذي يشكر القليل من العمل الخالص النقي النافع، ويعفو عن الكثير من الزلل، ولا يضيع أجر من أحسن عملًا، بل يضاعفه أضعافًا مضاعفة بغير عد ولا حساب
“Dia adalah Dzat yang mensyukuri ibadah sedikit yang ikhlas, bersih, lagi bermanfaat, mengampuni kesalahan yang banyak, dan tidak menyia-nyiakan pahala orang yang melakukan baik, apalagi melipatgandakannya berlipat-ganda tanpa hitungan dan tanpa batas.” [8]
Ibnul Qayyim rahimahullah menghadirkan komparasi yang sangat memukau antara syukur Allah dan syukurnya makhluk. Dalam kitab ‘Uddat ash-Shabiiriin, beliau menulis,
وأما شكر الرب تعالى فله شأن آخر، فهو أولى بصفة الشكر من كلِّ شكور، بل هو الشكور على الحقيقة، فإنه يعطي العبد ويوفقه لما يشكره عليه، ويشكر القليل من العمل والعطاء فلا يستقله أن يشكره، ويشكر الحسنة بعشر أمثالها إلى أضعاف مضاعفة، ويشكر عبده بقوله بأن يثني عليه بين ملائكته وفي ملئه الأعلى، ويلقي له الشكر بين عباده، ويشكر بفعله، فإذا ترك له شيئاً أعطاه أفضل منه، وإذا بذل له شيئاً رده عليه أضعافاً مضاعفة، وهو الذي وفقه للترك والبذل، وشكره على هذا وذاك
“Adapun syukur Rabb Ta’ala mempunyai kedudukan lain. Dia lebih utama dengan sifat syukur dibanding setiap yang bersyukur, apalagi Dialah Asy-Syakuur (Yang Maha Mensyukuri) pada hakikatnya. Dia memberi hamba dan memberi taufik kepadanya untuk melakukan ibadah yang kemudian Dia syukuri (balas). Dia mensyukuri ibadah dan pengorbanan yang sedikit sehingga tidak meremehkannya untuk dibalas. Dia membalas satu kebaikan dengan sepuluh kali lipat hingga lipatan yang banyak. Dia mensyukuri hamba-Nya dengan ucapan-Nya berupa sanjungan untuknya di hadapan para malaikat-Nya dan di kalangan tertinggi, serta menanamkan pujian baginya di tengah hamba-hamba-Nya. Dia juga mensyukuri hamba-Nya dengan perbuatan-Nya; andaikan hamba meninggalkan sesuatu karena-Nya, niscaya Dia tukar dengan yang lebih baik. Dan andaikan hamba menginfakkan sesuatu karena-Nya, niscaya Dia kembalikan berlipat ganda. Padahal Dialah yang memberi taufik kepada hamba untuk meninggalkan dan menginfakkan sesuatu itu, lampau Dia membalasnya atas ini dan itu.” [9]
Beliau kemudian membuktikan kebenaran makna ini melalui sejarah para hamba pilihan. Ketika Nabi Yusuf ‘alaihis salaam bersabar menanggung sempitnya penjara, Allah membalasnya dengan memberi kedudukan mulia di muka bumi. Ketika para sahabat Nabi meninggalkan kampung laman mereka demi mencari rida Allah, Allah menggantinya dengan membukakan pintu-pintu bumi bagi mereka. Ketika seorang wanita pezina memberi minum seekor anjing yang kehausan, Allah mengampuni dosa-dosanya. Demikian pula seseorang yang menyingkirkan cabang berduri dari jalan kaum muslimin, Allah mensyukuri amalnya lampau mengampuninya. [10]
Makhluk hanya berterima kasih kepada pihak yang melakukan baik kepadanya. Adapun Allah, Dialah yang memberi nikmat; Dialah yang menuntun hamba untuk beramal saleh; dan setelah itu, Dia pula yang melimpahkan pahala berlipat dobel atas ibadah tersebut. Maka siapakah yang lebih berkuasa menyandang nama Asy-Syakuur selain Allah Ta’ala?
Hikmah penggabungan nama “Asy-Syakuur” dengan “Al-Ghafuur” dan “Al-‘Aliim”
Di dalam Al-Qur’an, nama Asy-Syakuur tiga kali disandingkan dengan Al-Ghafuur (Maha Pengampun), dan satu kali dengan Al-Haliim (Maha Penyantun). Adapun Asy-Syaakir selalu disandingkan dengan Al-‘Aliim (Maha Mengetahui). Penggabungan ini menyimpan pesan teologis yang banget mendalam.
Perpaduan antara Al-Ghafuur dan Asy-Syakuur menegaskan bahwa Allah mengampuni dosa hamba, sebesar apa pun dosa tersebut; sekaligus menghargai ibadah kebaikan sekecil apa pun bentuknya. Qatadah menjelaskan firman Allah “innahu ghafuurun syaakuur” dengan berkata,
إنه غفور لذنوبهم، شكور لحسناتهم
“Sesungguhnya Dia Maha Pengampun terhadap dosa-dosa mereka, lagi Maha Mensyukuri (membalas) kebaikan-kebaikan mereka.” [11]
Oleh karena itu, andaikan Mutarrif bin Abdullah rahimahullah membaca ayat ke-30 dari surah Faathir ini, beliau berkata,
هذه آية القراء
“Ini adalah ayatnya para qari (ahli Al-Qur’an).” [12]
Sungguh bagus ucapan beliau, lantaran ayat tersebut mengabarkan bahwa orang-orang yang membaca Al-Qur’an, mendirikan salat, dan berinfak di jalan Allah, tidak bakal pernah rugi perniagaannya; Allah bakal menyempurnakan pahala mereka, mengampuni kekurangan mereka, dan menambahi mereka dari karunia-Nya.
Adapun penyandingan nama Asy-Syaakir dengan Al-‘Aliim menunjukkan bahwa Allah membalas kebaikan hamba dengan ilmu-Nya yang maha sempurna. Dia mengetahui kadar keikhlasan di dalam hati, mengetahui payahnya upaya yang dikeluarkan, dan tidak bakal pernah mengurangi kewenangan hamba-Nya sedikit pun.
Konsekuensi keagamaan terhadap nama Allah “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur” bagi seorang hamba
Mengenal dua nama Allah ini semestinya meninggalkan jejak keagamaan yang hidup dalam keseharian seorang mukmin. Di antaranya:
Pertama, tidak meremehkan sekecil apa pun ibadah kebaikan
Seorang hamba tidak boleh menganggap remeh suatu ketaatan, walaupun terlihat mini di mata manusia. Sebab, dia beragama kepada Asy-Syakuur, Tuhan yang tidak menyia-nyiakan sebesar biji sawi pun dari kebaikan. Senyuman kepada kerabat muslim, menyingkirkan gangguan dari jalan, alias bertasbih dengan tulus di waktu sunyi, bisa jadi merupakan karena datangnya keridaan Allah yang melimpah.
Kedua, tidak berputus asa dari pembebasan Allah
Karena nama Asy-Syakuur disandingkan dengan Al-Ghafuur, maka tidak selayaknya seorang hamba berputus asa dari rahmat Allah, sebesar apa pun dosanya. Sebagaimana Allah tidak mengabaikan kebaikan yang kecil, Allah juga tidak enggan mengampuni kesalahan yang besar andaikan hamba-Nya mau bertobat dan kembali kepada-Nya.
Ketiga, berupaya menjadi hamba yang berterima kasih dan berterima kasih kepada manusia
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah adalah Asy-Syakuur, dan karenanya Dia sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang mempunyai sifat syukur. Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang berterima kasih atas nikmat-Nya, sedangkan hamba yang paling dibenci-Nya adalah yang kufur serta mengingkari kebaikan-Nya. [13]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan bahwa syukur kepada Allah sangat mengenai dengan sikap berterima kasih kepada sesama manusia. Beliau bersabda,
مَنِ اصْطَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَجَازُوهُ، فَإِنْ عَجَزْتُمْ عنْ مُجَازَاتِهِ فَادْعُوا لَهُ، حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّكُمْ قَدْ شَكَرْتُمْ
“Barang siapa yang melakukan baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya. Jika kalian tidak bisa membalasnya, maka doakanlah dia hingga kalian tahu bahwa kalian telah berterima kasih kepadanya.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i, sanadnya sahih) [14]
Keempat, memurnikan keikhlasan hanya untuk Allah
Syekh Abdurrahman as-Sa’di telah mengingatkan bahwa Allah hanya mensyukuri ibadah yang ikhlas, bersih, dan bermanfaat. Amalan yang besar namun dicampuri riya, maka tidak bakal dinilai di sisi Allah; sedangkan ibadah yang sederhana namun diiringi keikhlasan hati yang mendalam bakal berkembang menjadi gunung pahala di hadapan Asy-Syakuur.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, menerima ibadah kita yang sedikit, mengampuni dosa-dosa kita yang banyak, dan melimpahkan karunia-Nya kepada kita di bumi maupun di akhirat. Aamiin.
Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
[1] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 206; lihat pula Syekh Muhammad al-Hamud an-Najdi, An-Nahj al-Asma fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 292.
[2] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 206.
[3] Al-Jauhari, Ash-Shahah fil Lughah, 2: 265; dinukil oleh Dr. Nawal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 1: 538.
[4] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 3: 207.
[5] Lihat uraian Sa’d bin Abdurrahman Nada dalam Mafhuum al-Asmaa’ wa ash-Shifaat, Majalah Universitas Islam Madinah, 46: 70.
[6] Al-Khaththabi, Sya’n ad-Du’aa’, hal. 65-66.
[7] Ibnu Katsir, Tafsiir al-Qur’an al-‘Azhiim, 1: 472.
[8] Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di, Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan, hal. 304; lihat pula Fiqhul Asmaa’il Husna karya al-Badr, hal. 206-207.
[9] Ibnul Qayyim, ‘Uddat ash-Shabiiriin wa Dzakhirat asy-Syaakiriin, hal. 335-337; dinukil secara komplit oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dalam Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 206-208.
[10] Ibnul Qayyim, ‘Uddat ash-Shabiiriin, hal. 336.
[11] Dinukil oleh Syekh Muhammad al-Hamud an-Najdi dalam An-Nahj al-Asma, 1: 292.
[12] Sa’d bin Abdurrahman Nada, Mafhuum al-Asmaa’ wa ash-Shifaat, Majalah Universitas Islam Madinah, 46: 70.
[13] Ibnul Qayyim, ‘Uddat ash-Shabiiriin, hal. 337.
[14] HR. Ahmad (no. 3579) dan An-Nasa’i (no. 2620), dinyatakan sahih oleh Al-Albani.
Daftar Pustaka
Al-Badr, Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.
Al-‘Ied, Nawal binti Abdul Aziz. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. Riyadh: 1441 H.
Al-Jauhari, Abu Nasr Ismail bin Hammad. Ash-Shahah taaj al-Lughah wa Shahaah al-’Arabiyyah. Beirut: Dar al-’Ilm lil-Malayin, 1407 H.
Al-Khaththabi, Abu Sulaiman Hamad bin Muhammad. Sya’n ad-Du’aa’. Damaskus: Dar al-Ma’mun, 1404 H.
An-Najdi, Muhammad bin Hamud. An-Nahj al-Asma fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah al-Imam adz-Dzahabi, 2020.
Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah. Kairo: Dar al-Fikr, 1399 H.
Ibn Katsir, Abu al-Fida’ Ismail bin Umar. Tafsiir al-Qur’an al-‘Azhiim. Riyadh: Dar Thaibah, 1420 H.
Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abi Bakr. ‘Uddat ash-Shabiiriin wa Dzakhirat asy-Syaakiriin. Makkah: Dar ‘Alam al-Fawa’id, 1429 H.
Nada, Sa’d bin Abdurrahman. Mafhuum al-Asmaa’ wa ash-Shifaat. Majalah Universitas Islam Madinah, jilid 46. Madinah: 1400 H