Mengenal Superfetation, Fenomena Langka Perempuan Hamil Lagi Saat Sedang Mengandung

May 15, 2026 11:30 AM - 1 bulan yang lalu 40198

Jakarta -

Kejadian unik memang bisa terjadi selama kehamilan, Bunda. Salah satunya kondisi yang disebut superfetation. Yuk, mengenal superfetation, kejadian langka saat wanita mengandung lagi saat sedang mengandung.

Hamil lagi dalam kondisi sedang mengandung? Rasanya mustahil terjadi ya, Bun. Tetapi rupanya ini menjadi kejadian yang dinamakan superfetation dan bisa terjadi secara nyata pada wanita hamil. Meskipun kasusnya sangat jarang terjadi ialah dari segelintir kasus manusia yang ada di seluruh bumi namun kasus seperti ini menjadi sebuah kejadian yang dikenal dalam bumi kedokteran.

Mengenal kondisi superfetation

Superfetation merupakan kondisi kehamilan kedua yang menjadi kehamilan baru yang muncul berbarengan dengan kehamilan pertama. Kondisi ini memang jarang terjadi pada manusia dan jauh lebih sering diamati pada hewan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Fenomena langka yang berjulukan superfetation ini merupakan kondisi di mana kehamilan kedua terjadi berbarengan dengan kehamilan yang sudah ada. Dalam perihal ini, ovum (sel telur) lain dibuahi oleh sperma dan ditanamkan di rahim beberapa hari alias minggu setelah yang pertama. Bayi yang lahir dari superfetation sering dianggap kembar lantaran mereka mungkin lahir pada hari yang sama seperti dikutip dari laman Healthline.

Kondisi superfetation sebenarnya umum terjadi pada jenis hewan seperti ikan, kelinci, dan luwak. Kemungkinan terjadinya pada manusia tetap kontroversial dan dianggap sangat jarang. Hanya ada beberapa kasus superfetation yang dilaporkan dalam literatur medis. Dan, sebagian besar kasus terjadi pada wanita yang menjalani perawatan kesuburan seperti IVF.

Bagaimana superfetation terjadi?

Pada manusia, kehamilan terjadi ketika sel telur dibuahi oleh sperma. Ovum kemudian yang telah dibuahi menanamkan dirinya di rahim. Agar superfetation terjadi, sel telur lain yang sama sekali berbeda perlu dibuahi dan kemudian ditanamkan secara terpisah di rahim.

Agar perihal ini berhasil, tiga peristiwa yang sangat tidak mungkin terjadi kudu terjadi seperti berikut:

1. Ovulasi merupakan pelepasan satu sel telur oleh ovarium selama kehamilan yang sedang berlangsung. Ini sangat tidak mungkin lantaran hormon yang dilepaskan selama kehamilan berfaedah untuk mencegah ovulasi lebih lanjut.

2. Sel telur kedua kudu dibuahi oleh sel sperma. Ini juga tidak mungkin lantaran begitu seorang wanita hamil, serviksnya membentuk sumbat lendir yang menghalangi jalannya sperma.  Sumbat lendir merupakan hasil dari peningkatan hormon yang diproduksi selama kehamilan.

3. Sel telur yang telah dibuahi perlu ditanamkan di rahim yang sudah hamil. Ini tentunya bakal susah lantaran penanaman memerlukan pelepasan hormon tertentu yang tidak bakal dilepaskan jika seorang wanita sudah hamil. Selain itu, ada juga masalah kesiapan ruang yang cukup untuk embrio lain. 

Kemungkinan, deretan peristiwa yang tidak mungkin tersebut terjadi secara berbarengan meski tampaknya mustahil. Inilah sebabnya kenapa dari sedikit kasus superfetation potensial yang dilaporkan dalam literatur medis, sebagian besar terjadi pada wanita yang menjalani perawatan kesuburan.

Selama proses perawatan kesuburan alias in vitro fertilization, embrio yang telah dibuahi dipindahkan ke rahim perempuan. Superfetation dapat terjadi jika wanita tersebut juga berovulasi dan sel telur dibuahi oleh sperma beberapa minggu setelah embrio dipindahkan ke rahimnya.

Karena superfetation sangat jarang terjadi, tidak ada indikasi spesifik yang mengenai dengan kondisi ini. Superfetation dapat dicurigai terjadi ketika master memperhatikan adanya janin kembar tumbuh dengan kecepatan yang berbeda di dalam rahim. Selama pemeriksaan USG, master bakal memandang bahwa kedua janin mempunyai ukuran yang berbeda. Ini disebut diskordansi pertumbuhan.

Namun, master tidak bakal mendiagnosis seorang wanita dengan superfetation setelah memandang bahwa bayi kembar tersebut berbeda ukuran. Hal ini dikarenakan adanya beberapa penjelasan yang lebih umum untuk diskordansi pertumbuhan. 

Salah satu contohnya adalah ketika plasenta tidak bisa menopang kedua janin secara memadai (insufisiensi plasenta). Penjelasan lain adalah ketika darah terdistribusi tidak merata antara bayi kembar (transfusi antar bayi kembar).

Apakah superfetation sama dengan kehamilan kembar?

Mengutip dari laman Cleveland Clinic, superfetation berbeda dengan kembar ya, Bun. Tetapi, kehamilan superfetation mirip dengan kehamilan. Salah satu contohnya adalah ketika plasenta tidak bisa menopang kedua janin secara memadai (insufisiensi plasenta). 

Tidak seperti kehamilan kembar, embrio dari superfetation tidak terbentuk selama siklus menstruasi yang sama. Akibatnya, usia kehamilan mereka berbeda. Embrio yang dikandung pertama bakal matang lebih sigap daripada embrio yang dikandung kedua.

Ketahui penyebab superfetation

Superfetation merupakan kondisi langka yang sangat jarang terjadi sehingga para peneliti tidak mempunyai cukup informasi untuk mengonfirmasi penyebabnya. Hanya saja, ada beberapa kehamilan yang didokumentasikan. Sebagian besar melibatkan teknologi reproduksi yang melewati beberapa penghalang tubuh untuk kehamilan yang beruntun. 

Contoh kasusnya dalam proses IVF

Salah satu kasus superfetation yang dikonfirmasi melibatkan seseorang yang mengandung kembar melalui IVF. Dengan IVF, tim medis mengumpulkan sel telur dari ovarium, membuahinya dengan sperma pasangan alias donor di luar tubuh, dan kemudian memindahkan embrio ke lapisan rahim. 

Tiga minggu setelah prosedur tersebut, master bakal menemukan embrio ketiga. Embrio ini dikandung pada waktu yang berbeda, dan tanpa prosedur IVF.

Bagaimana superfetation didiagnosis?

Kehamilan superfetation memang susah didiagnosis lantaran menyerupai kondisi lain yang melibatkan kehamilan kembar. Tim medis nantinya bakal memandang dua janin alias lebih selama prosedur pencitraan rutin untuk memeriksa kehamilan. Satu janin bakal tampak lebih maju dalam perkembangannya (usia kehamilan yang berbeda) daripada yang lain.

Beberapa peneliti percaya bahwa superfetation merupakan kesalahan pemeriksaan dari kondisi lain, termasuk kondisi berikut:

1. Twin-to-twin transfusion syndrome

Kembar berbagi nutrisi dari ibu mereka secara tidak merata. Akibatnya, satu kembar menerima terlalu banyak nutrisi, dan yang lain menerima terlalu sedikit. Janin yang mendapatkan lebih banyak nutrisi bakal lebih besar daripada yang lain pada pencitraan.

2. Placental insufficiency

Plasenta merupakan organ di rahim yang menyediakan oksigen dan nutrisi kepada janin yang sedang berkembang dari ibu. Pada insufisiensi plasenta yang melibatkan bayi kembar, organ tersebut tidak bisa memberikan nutrisi yang cukup untuk mendukung perkembangan kedua janin. Akibatnya, mereka berkembang dengan kecepatan yang berbeda.

Ada juga kemungkinan kesalahan USG yang bisa menyebabkan kesalahan pemeriksaan kehamilan kembar sebagai kehamilan dengan satu janin. Kemudian, kesalahan tersebut dapat dianggap sebagai superfetation ketika embrio kedua ditemukan.

Penanganan kehamilan superfetation

Pada kehamilan superfetation, ketika satu janin lebih matang lebih sigap daripada yang lain, janin yang lebih muda mungkin lahir prematur. Tim medis mungkin merekomendasikan operasi caesar terencana untuk meningkatkan kesempatan persalinan yang sehat bagi kedua bayi tanpa komplikasi.

Sebagian besar kasus superfetation yang terkonfirmasi melibatkan bayi kembar yang hanya berjarak beberapa minggu. Tim medis bakal menyarankan waktu terbaik untuk persalinan guna memaksimalkan kesempatan persalinan sehat yang melibatkan kedua bayi.

Adakah langkah untuk mencegah superfetation?

Bunda dapat mengurangi kemungkinan superfetation dengan tidak melakukan hubungan intim setelah hamil. Namun, superfetation memang sangat jarang terjadi. Sangat mini kemungkinannya bahwa wanita bakal mengandung untuk kedua kalinya jika mereka melakukan hubungan seks setelah hamil.

Dari sedikit kasus superfetation yang dilaporkan dalam literatur medis, sebagian besar terjadi pada wanita yang menjalani perawatan kesuburan. Untuk itu, Bunda perlu menjalani tes untuk memastikan bahwa Bunda tidak mengandung sebelum menjalani perawatan ini. Dan, ikuti semua rekomendasi master jika menjalani IVF, termasuk periode pantang tertentu.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya